<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1805598293185617123</id><updated>2012-02-16T09:10:39.041-08:00</updated><category term='Hujan dan Panas yang Menyengat'/><title type='text'>Buletin Masjid Jendral Soedirman</title><subtitle type='html'>Menuju Masjid, Membudayakan Sujud.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mjskolombo.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Masjid Jendral Sudirman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06343321446060590946</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyK6jNVoVI/AAAAAAAAABk/9wThm5cy0p4/S220/DSC08791.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>21</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1805598293185617123.post-3847242407609784308</id><published>2008-06-05T22:31:00.000-07:00</published><updated>2008-12-19T22:52:45.144-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hujan dan Panas yang Menyengat'/><title type='text'>Korupsi</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyTCMg9ERI/AAAAAAAAACQ/E5v1i-GVtZI/s1600-h/PICT0526.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281758128927215890" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyTCMg9ERI/AAAAAAAAACQ/E5v1i-GVtZI/s320/PICT0526.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span id="fullpost" style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;span id="fullpost" style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Mendesain ‘Program Anti Virus’ Korupsi:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost" style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Refleksi Maulid Nabi SAW 1429 H&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost" style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;*) Oleh: Mohammad Mufid&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;(QS: 8: 27-28)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Bagi sebagian pemilik komputer atau laptop, jengkel pada virus adalah makanan sehari-hari. Misalnya, ketika kita sedang konsentrasi di depan komputer, tiba-tiba beragam virus menyerang. Entah virus itu dari mana. Alhasil, file-file penting hilang dalam sekejap. Meskipun banyak yang mendesain bermacam anti virus, ternyata belum terbukti ampuh memberantas virus. Apalagi, ternyata, ada saja orang-orang atau pihak yang sengaja bereksperimen dengan membuat virus-virus terbaru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Ilustrasi ini limit dengan kasus korupsi yang merajalelala di negara kita saat ini. Mulai dari struktur kenegaraan yang paling tinggi, paling suci, dan paling terhormat hingga paling kotor, rendah, dan paling hina. Mulai dari penegak hukum hingga tukang parkir di jalanan. Bahkan baru-baru ini kita dikejutkan dengan tertangkapnya oknum penegak hukum yang terlibat kasus korupsi dalam bentuk suap-menyuap. Korupsi ibarat virus atau bakteri pathogen yang terus berkembangbiak merusak kehidupan kita. Pemerintah dituntut ekstra keras untuk mendesain program Anti Virus Korupsi yang ideal untuk memberantasnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Beberapa di antara programnya ada dalam TAP MPR XVI tahun 1998, UU No 28 th 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas KKN, UU No 20 th 2001 tentang perubahan atau UU No 31 th 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPTPK), UU No 30 th 2003 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPTPK), PP No 71 th 2000 tentang Peran Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan Dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi serta instruksi presiden RI No 5 th 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Namun, sekian banyak program itu juga belum menunjukkan hasil optimal. Berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi 2003 (Corruption Perception Index) yang diterbitkan oleh Transparency International (TI) mencatat bahwa Indonesia berada di peringkat 122 dengan skor 1,9 (Arya Maheka; 2006). Kriteria ini didasarkan pada skala 1-10 (skala 1 berarti negara terkorup, dan skala 10 adalah negara paling bersih dari kasus korupsi). Selanjutnya pada level Asia, menurut buku panduan Gerakan Moral Nasional Pemberantasan Korupsi (GMNPK), berdasarkan survey dari Political and Economic Risk Consultancy (PERC), sebuah konsultan dari Hongkong, menyebutkan bahwa pada tahun 2003 Indonesia menduduki negara terkorup di wilayah Asia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Keprihatinan ini bertambah dengan laporan dari Corruption Perception Index (CPI) tahun 2006 yang dirilis oleh Transparency International (TI) pada 4 November 2006, yang memposisikan Indonesia pada peringkat 7 negara terkorup dari 163 negara. Posisi ini naik 1 peringkat dari tahun 2005 yang menempati posisi 6 negara terkorup dari 159 negara (Republika,4/12/06). Sudah sedemikian parahkah kondisi negara ini? Sebagai mayoritas penduduk yang taat beragama, di manakah nilai-nilai agama yang menuntun hidup kita?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost" style="COLOR: rgb(255,102,102)"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Korupsi Menurut Islam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Bentuk korupsi dalam Islam tercermin dalam perilaku ghulul (penggelapan) dan risywah (suap). Ghulul merupakan istilah bagi penggelapan harta rampasan perang sebelum dibagikan (QS:3:161). Menurut Imam Qotadah dan Rabi' bin Anas, ayat ini turun ketika perang Badar. Saat itu, salah satu harta rampasan perang (ghonimah) berupa permadani (qathifah) hilang begitu saja. Kondisi ini membuat sebagian para sahabat curiga kepada Nabi Muhammad SAW telah menggelapkannya, sehingga turunlah ayat tersebut (Jurnal Millah: 2006). Saat ini, yang termasuk bentuk ghulul ialah penggelapan dana publik/material untuk kepentingan pribadi, penggelapan barang bukti, dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Sedangkan risywah atau suap secara leksikal mengacu pada kata rasya-yarsyu-risywatan yang bermakna ’upah’, ’hadiah,’ atau ’pemberian’ atau ’komisi’. Secara istilah, menurut Ibnu Abidin, suap adalah sesuatu yang diberikan oleh seseorang kepada hakim atau lainnya supaya orang itu mendapatkan kepastian hukum atau memperoleh keinginannya (Abdullah bin Abdul Muhsin: 2001). Secara luas, suap bukan hanya terkait persoalan hukum, tetapi dapat terjadi di lembaga formal maupun non formal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Berkaitan dengan sanksi, Islam memberikan ganjaran bagi para koruptor berupa sanksi di dunia maupun akhirat. Sanksi dunia terbagi menjadi tiga aspek. Pertama, sanksi hukum (pengucilan, denda, penjara, potong tangan). Kedua, sanksi sosial (tidak diterima kesaksiannya, seperti pembuktian hukum di pengadilan, kesaksian dalam itsbat awal Ramadhan/Syawwal, saksi pernikahan). Ketiga, sanksi moral (dilaknat oleh Allah SWT serta jenazahnya tidak disalatkan).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Mengenai sanksi terakhir ini, argumentasinya didasarkan pada kisah Nabi (HR. Abu Daud), bahwa beliau enggan menshalati jenazah sahabat yang wafat pada perang Khaibar, karena diketahui sahabat tersebut menggelapkan harta rampasan perang berupa perhiasan dari orang Yahudi yang nilainya tidak sampai dua dirham. Hadits tersebut dijadikan dasar dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Asrama Haji Pondok Gede pada tanggal 25-28 Juli 2002 untuk menghimbau agar para ulama tidak mensalati jenazah koruptor (Moh. Masyhuri Na’im: 2006).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Namun, sanksi bagi para koruptor tidak langsung begitu saja diterapkan. Semua memerlukan verifikasi, bukti dan mekanisme proses penentuan hukuman yang disebut dengan ta’zir, dimulai dari yang terberat (hukuman mati/potong tangan) hingga yang paling ringan (pengucilan, pemecatan, dan penjara) sesuai dengan tingkatan berat ringannya tindakan dan dampak korupsi yang ditimbulkannya (Fiqh Antikorupsi Perspektif Ulama Muhammadiyah: 2006).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Selanjutnya, sanksi di akhirat antara lain menghalangi pelakunya masuk surga, karena harta yang dikonsumsi termasuk suht. Hal ini didasarkan pada hadis Nabi SAW (HR. Ad-Darimi): Tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari suht (harta haram). Selain itu, pelaku korupsi akan menyebabkan masuk neraka. Hukuman ini didasarkan pada hadits Nabi SAW: Setiap daging yang ditumbuhkan oleh as-suht, maka neraka lebih pantas baginya. Ditanyakan: ‘Wahai rasul, apa suht itu? Rasulullah SAW menjawab: ‘Risywah dalam hukum” (HR. Bukhari).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Demikianlah ancaman bagi para koruptor. Seandainya para koruptor dapat lolos dari jeratan hukum/pengadilan dan sanksi di dunia, yakinlah mereka tidak akan pernah bisa lolos dari pengadilan Alllah SWT di akhirat kelak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost" style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Jihad Melawan Korupsi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Jihad secara bahasa artinya 'mencurahkan segala kemampuan' (Al Munawwir: 1984). Secara istilah, jihad ialah mencurahkan segala potensi yang dimiliki untuk menegakkan agama Allah SWT (Yunahar Ilyas: 2006). Saat ini, seharusnya istilah 'mati syahid' bukan hanya diberikan pada mereka yang berjihad melalui medan pertempuran, tetapi diperuntukkan juga bagi para pejuang yang memiliki komitmen tinggi untuk memberantas korupsi. Hal ini sangatlah penting diperhatikan, mengingat dampak korupsi yang begitu dahsyat dan melebihi kerugian di medan pertempuran secara fisik. Lebih dari itu, korupsi berimbas pada demoralisasi, dehumanisasi, kemiskinan, dan lumpuhnya sistem hukum/peradilan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Urgensi perang melawan korupsi didasarkan atas semangat doktrin agama yang mengutuk segala bentuk korupsi. Ketika program virus anti korupsi yang didesain pemerintah, seperti lembaga/undang-undang maupun inpres dibuat lumpuh oleh ganasnya zombie korupsi, maka saat itulah momentum yang tepat untuk mengikrarkan bersama bahwa korupsi adalah common enemy (musuh bersama) yang harus diberantas bersama melalui langkah konkret berupa perang suci (holy war).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pertanyaan kemudian, bagaimana cara berjihad melawan korupsi? Rasulullah SAW telah memberikan sinyalemen kepada kita tentang pentingnya 'jihad akbar' melawan hawa nafsu. Hal ini berawal dari pernyataan langsung ketika Nabi SAW bersama para sahabatnya yang baru pulang meraih kemenangan pada salah satu pertempuran di medan perang: kita kembali dari jihad terkecil menuju jihad terbesar, yakni jihad melawan hawa nafsu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pernyataan Nabi SAW di atas, mengindikasikan bahwa hawa nafsu yang liar lebih berbahaya dibandingkan perang secara fisik. Bahkan, senjata dan alat perang yang dapat menewaskan ratusan ribu manusia dalam hitungan detik, masih dikategorikan 'jihad kecil'. Begitu beratnya berjihad mengendalikan hawa nafsu, sampai-sampai Rasulullah SAW mewasiatkan agar setiap manusia berhati-hati mengontrol hawa nafsu. Hawa nafsu yang tidak dapat dikontrol dengan baik, akan membawa sifat negatif (egois, rakus, haus akan harta, pangkat dan jabatan) yang berujung pada usaha serba instan. Itulah korupsi yang dilarang agama. Korupsi jauh lebih berbahaya daripada pertempuran di medan laga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost" style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Program Anti Virus Korupsi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dalam konteks perang suci atau jihad melawan korupsi melalui manajemen hawa nafsu tercermin dalam usaha konkret membentengi diri dengan sikap antikorupsi, yang terdiri dari empat aspek, yakni amanah, shiddiq, adil dan taqwa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pertama, Amanah berarti ‘dapat dipercaya’. Amanah seakar dengan kata iman, karena lahir dari kekuatan iman. Semakin menipis keimanan seseorang maka semakin pudar pula sifat amanah pada dirinya (Yunahar Ilyas, 2006). Jika iman seseorang lemah dan memegang jabatan strategis, berhati-hatilah, dia rawan terperosok pada lembah korupsi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Kedua, Shiddiq berarti ‘benar,’ ‘sah,’ ‘tetap’ dan nyata’ (Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdhor,2003). Sikap shiddiq meliputi benar hati, perkataan dan perbuatan. Lawan dari shiddiq ialah khianat. Khianat termasuk bibit korupsi karena terdapat unsur distorsi (pemutarbalikan fakta). Hal ini sangat jelas dilarang oleh Allah SWT sebagaimana yang diterangkan dalam QS. Al Anfal 27 di atas. Akhir-akhir ini, sikap shiddiq semakin jarang ditemukan, dengan indikasi semakin banyaknya tindak manipulasi laporan maupun mark up dana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Ketiga, adil berarti ‘sikap tengah-tengah' (Al Munawwir, 1984). Seorang muslim harus mampu menempatkan sesuatu dengan prinsip keseimbangan (‘adl) sesuai dengan hak dan kewajiban. Implikasi dari sifat adil ini akan terlihat dalam aktifitas sehari-hari, misalnya tidak mau menghambil sesuatu melebihi haknya dan tidak mau merugikan orang lain. Sikap inilah yang mampu menghindarkan dari perilaku korupsi karena korupsi pada dasarnya merupakan bentuk tindakan yang merampas hak-hak orang lain untuk kepentingan pribadi/golongan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Keempat, Taqwa secara bahasa berarti ‘takut,’ ‘berhati-hati’ dan ‘waspada,’ sedangkan menurut istilah taqwa bermakna penjagaan diri dari sesuatu yang tidak baik (Muhammad Azhar, 2004). Taqwa berfungsi sebagai pelindung bagi seseorang agar tidak melakukan tindakan korupsi dengan melalui analisis indikator taqwa, yaitu menjalankan segala perintah Allah swt. dan menjauhi segala larangan Allah swt.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Keempat program virus anti korupsi ini harus mampu diinternalisasikan dalam setiap individu, dimulai dari hal yang sederhana. Misalnya, memegang teguh janji, menjaga barang titipan, memberikan keterangan secara transparan, tidak mencontek, guru/dosen memulai dan mengakhiri pelajaran sesuai dengan jadwal, tidak memanipulasi data laporan keuangan, memberikan uang saku kepada anak dengan adil tanpa sifat pilih kasih, tidak mengurangi barang dagangan di timbangan, dan lain sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Selain itu, desain program anti virus korupsi tersebut perlu didukung dengan sikap zuhud dan wara’ yang pernah dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khattab. Misalnya, pada suatu waktu beliau menjadi khatib jum’at dan datang terlambat. Kemudian beliau bergegas datang dan memakai jubah tambalan yang tidak kurang dari 21 tambalan, sedang di dalamnya kemeja yang masih basah karena baru dicuci. ”Maaf saya terlambat karena kemeja ini,” ucapnya kepada hadirin, ”Saya harus menunggu kering, karena saya tidak memiliki kemeja lainnya”. Di lain waktu, beliau juga terbiasa menggiring sendiri unta-unta baitul maal dari kandangnya ke padang gembala dan sebaliknya, lantaran begitu khawatir akan hilangnya harta rakyat tersebut (Zainal Arifin Thoha, 2004).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Suatu ketika, harta rampasan perang (ghonimah) yang melimpah tiba di Madinah. Hafshah, putri Umar bin Khattab dan janda Rasulullah mendekati sang ayah dan berbisik. "Aku kerabat terdekat ayah dan karenanya aku datang ke sini untuk meminta bagianku dari harta rampasan perang ini". Khalifah Umar menjawab, "Anakku, harta rampasan ini milik negara. Bagianmu ada pada harta kekayaanku, bukan pada harta rampasan perang. Tolong jangan mencoba membohongi ayah lagi". Kedua pipi Hafshah memerah menahan malu mendengar jawaban halus sang ayah. Lalu ia pun mundur teratur dari kerumunan massa. (Muhammad Azhar, 2004).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Masih banyak kisah teladan lain yang dapat dijadikan referensi dan spirit untuk mencegah tindakan korupsi. Melalui penanaman sikap tersebut, tanpa sadar kita telah berusaha memanage hawa nafsu, dan lambat laun akan berkembang sebagai antibodi yang berfungsi sebagai instrumen untuk menganalisis perilaku anti korupsi dan menolak segala bentuk korupsi dalam konteks yang lebih luas. Tentunya, desain program anti virus korupsi yang menitikberatkan pada managemen hawa nafsu adalah salah satu metode dari sekian banyak metode yang sudah ada. Artinya, harus didukung dengan perangkat lain, seperti hukum, agama, undang-undang, inpres maupun partisipasi masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost" style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Ikhtitam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Para pembaca yang budiman, marilah bersama-sama niatkan diri untuk berjihad melawan korupsi dengan mengakses gratis program anti virus korupsi mulai sekarang juga. Semoga Allah SWT memihak kepada kita yang berjihad menegakkan agama-Nya. Dengan segala keterbatasan penulis, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga bermanfaat. Wallau'alam bishshowab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: right"&gt;&lt;span id="fullpost" style="COLOR: rgb(51,255,51)"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;*) Mohammad Mufid&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost" style="COLOR: rgb(51,255,51)"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Staff Pendidik Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1805598293185617123-3847242407609784308?l=mjskolombo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mjskolombo.blogspot.com/feeds/3847242407609784308/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/09/korupsi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/3847242407609784308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/3847242407609784308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/09/korupsi.html' title='Korupsi'/><author><name>Masjid Jendral Sudirman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06343321446060590946</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyK6jNVoVI/AAAAAAAAABk/9wThm5cy0p4/S220/DSC08791.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyTCMg9ERI/AAAAAAAAACQ/E5v1i-GVtZI/s72-c/PICT0526.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1805598293185617123.post-4668631912882522463</id><published>2008-05-21T21:12:00.001-07:00</published><updated>2008-05-21T21:14:36.437-07:00</updated><title type='text'>Jadi Pemimpin</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 14.4pt;" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Belajar Menjadi Pemimpin&lt;br /&gt;*) Oleh: Nur Wahid&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 14.4pt;" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Apa dan Siapa itu pemimpin? Secara sederhana, kita dapat mengatakan bahwa pemimpin itu adalah orang yang memiliki kekuasaan. Bisa berupa pejabat di pemerintahan, penguasa, hingga pemimpin lokal di sebuah daerah tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Dari semua orang-orang tersebut, masihkah kita dapat bertemu dengan sosok “pemimpin” ideal? Sekalipun tidak ideal, masihkah kita dapat menemukan pemimpin yang real?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Pemimpin Ideal &amp;amp; Real&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Pemimpin ideal adalah dia yang dapat menjalankan amanah dengan sepenuh tenaga untuk tidak tidak menyengsarakan dan menyia-nyiakan orang-orang yang dipimpinnya. Dengan kata lain, pemimpin ideal adalah dia yang tidak mementingkan dirinya sendiri. Ia memegang teguh prinsip dan kaidah etika-moral yang agung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Sedangkan pemimpin real, adalah dia yang dapat melihat problem realistis khalayak yang dipimpinnya, lalu ia pun dapat menyelesaikan masalah-masalah itu. Misalnya, saat ia melihat harga sembako yang sangat mahal, maka ia pun paham kalau rakyat pasti susah. Karena itu, sebagai pemimpin real, ia pun berusaha untuk menyelesaikan itu semua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Nah, apakah kita sudah menemukan pemimpin ideal dan real saat ini? Berdasarkan dua kriteria di atas, mungkin saat ini kita belum menemukannya. Karena saat ini sebagai orang yang dipimpin, mungkin sebagian besar kita yang tergolong &lt;i style=""&gt;wong cilik&lt;/i&gt; ini sangat tersulitkan oleh kebijakan dan realitas sosial-ekonomi-politik yang terjadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Inilah yang kemudian membuat kita “ragu” terhadap para sosok pemimpin negeri ini yang kita pilih secara sadar, dengan visi misi yang telah dijanjikan pada waktu kampanye. Bisa jadi, itu semua hanya sekedar janji yang sengaja diucapkan sebagai cara untuk meraih kekuasaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Kita tidak dapat menelusuri itu, walaupun dapat untuk apa? Toh masih saja demikian. Nyatanya, keadaan real sekarang menunjukkan peran seorang “pemimpin” masih jauh dari harapan. Harapan untuk kehidupan yang lebih baik dan masa depan yang lebih baik lagi. Mudah-mudahan itu tidak hanya sekedar impian kita semata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Setiap Orang Adalah Pemimpin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Kini banyak orang bertanya, apakah masih ada sosok seorang pemimpin yang benar-benar pemimpin yang mampu memahami rakyat yang dipimpinnya? Adakah potensi diri kita untuk menjadi seorang pemimpin? Pertanyaaan ini mungkin mudah dicari jawabannya, tetapi tidak mudah untuk memahami dan melaksanakannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Menjadi pemimpin bukan hanya sekedar sebagai wacana belaka, akan tetapi bentuk konkritnya harus nyata. Masyarakat membutuhkan jalan keluar untuk terus hidup. Inilah yang kemudian membuat kita mempertanyakan tentang kedirian seorang pemimpin negeri ini dalam memahami permasalahan rakyat yang dipimpinnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Semua orang punya potensi untuk menjadi apa saja, termasuk menjadi seorang pemimpin, sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Kemampuan dalam diri seseorang dapat menjadikan kekuatan untuk melakukan tindakan nyata tanpa banyak bicara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Kita dapat memahami bahwa setiap orang dapat melakukan perubahan dalam kehidupan atau paling tidak terhadap dirinya sendiri dengan potensi-potensinya. Karena di dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang memiliki status dan peran yang dijalaninya. Bila seseorang mengetahui statusnya dan mengerti tentang peran yang harus dilakukan, dan akan berlanjut kepada fungsi sosialnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Bagaimana seseorang itu dapat menyadarinya peran, status, dan fungsi sosialnya? Salah satu jawabannya adalah bahwa setiap orang itu mesti harus menuju ke jalan untuk menjadi orang yang tercerahkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Menjadi orang yang tercerahkan itu dapat diperoleh melalui usaha sendiri maupun berkat atas kehendak Allah. Sebagai seorang &lt;i&gt;khalifah&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; di bumi ini, kita&lt;/span&gt; haruslah mampu melihat itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IT"&gt;Manusia sebagai &lt;i&gt;khalifah&lt;/i&gt; di muka bumi ini merupakan cerminan dari potensi tersebut. Besar kecilnya potensi itu akan berakibat kepada sejauhmana manusia itu dapat menjadi &lt;i&gt;khalifah&lt;/i&gt;. Tidak menutup kemungkinan kita dapat mengembangkan potensi diri, sebagai kekuatan mengahadapi kehidupan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IT"&gt;Dengan demikian kedirian manusia sebagai pemimpin sangat terkait dengan bagaimana menggunakan potensi yang ada. Barulah &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;kemudian kita mampu menjadi seorang pemimpin bagi diri sendiri maupun dalam wilayah yang lebih besar.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Tapi ingat, ada konsekuensi yang harus kita terima, yaitu salah satunya adalah berupa tanggung jawab. Tanggung jawab disini tidak hanya berhenti pada bentuk laporan maupun pada masyarakat yang dipimpinnya (tanggung jawab horizontal), tapi juga kepada Tuhan (tanggung jawab vertikal).&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.7pt; line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Sebagai bagian terakhir dari tulisan ini, banyak yang harus kita lakukan untuk menjadi seorang pemimpin. Keinginan yang kuat untuk memenuhinya yang bersifat mendalam harus dicari keberadaannya dan setelah itu baru dilaksanakan sesuai dengan semangat sebagai &lt;i&gt;khalifatullah&lt;/i&gt;. Meskipun sulit untuk mewujudkan itu, paling tidak ada usaha untuk melakukan usaha yang mengarah ke sana.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 14.4pt;" align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;*) Oleh: Nur Wahid&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Mahasiswa Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 14.4pt;" align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 14.4pt;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 14.4pt;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1805598293185617123-4668631912882522463?l=mjskolombo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mjskolombo.blogspot.com/feeds/4668631912882522463/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/05/belajar-menjadi-pemimpin-oleh-nur-wahid.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/4668631912882522463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/4668631912882522463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/05/belajar-menjadi-pemimpin-oleh-nur-wahid.html' title='Jadi Pemimpin'/><author><name>Masjid Jendral Sudirman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06343321446060590946</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyK6jNVoVI/AAAAAAAAABk/9wThm5cy0p4/S220/DSC08791.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1805598293185617123.post-6338344042428933469</id><published>2008-04-07T00:07:00.000-07:00</published><updated>2008-09-02T00:11:01.027-07:00</updated><title type='text'>Pahala</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-no-proof:yes;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pahala yang Terus Mengalir&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;*) &lt;b&gt;Oleh: Dwie Abu Taukhid&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 108pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ada empat perkara yang pahalanya terus mengalir walaupun orangnya telah meninggal dunia. Yaitu, orang yang meninggal selagi giatnya berjuang di jalan Allah, orang yang mengajarkan ilmu yang selalu mengalirkan pahala baginya, orang yang memberikan sedekah, maka pahalanya akan mengalir untuknya di mana saja sedekah itu berada, dan orang yang meninggalkan anak salih yang selalu berdoa untuknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;(HR. Ahmad &amp;amp; Tirmidzi )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kematian bukanlah akhir dari segalanya. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Ia adalah permulaan dari sebuah kehidupan yang abadi. Kehidupan abadi adalah kebahagiaan. Salah besar jika ada yang mengatakan dan menganggap bahwa kematian itu adalah azab atau siksa. Kematian itu adalah nikmat. Sama seperti kehidupan. Hanya saja banyak di antara kita yang tidak menyadarinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Nikmat Kematian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kematian adalah kenikmatan sejati. Kesejatiannya terletak dalam ketersembunyiannya sebagai sesuatu hal yang ditakuti semua orang di dunia ini. Padahal, ia adalah nikmat sejati. Karena hanya lewat kematian saja setiap orang bisa merasakan kehadiran Tuhan, dan hanya dalam kematian saja setiap orang bisa menjadi bijak mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya di dunia ini. Itulah kebahagiaan hakiki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Untuk merengkuh kebahagiaan itu, setiap orang harus menggapainya dengan bekal yang banyak. Umumnya, bekal kehidupan dalam kematian itu adalah kebaikan yang kita perbuat di dunia ini, yaitu keimanan. Keimanan itu diwujudkan dalam pelaksanaan ibadah-ibadah yang membuat kita lebih bisa mendapatkan sesuatu hal ganjaran yang disebut pahala.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setiap orang harus punya pahala. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Karena pahala adalah tabungan kematian. Orang yang hanya bisa membuat dosa, adalah orang yang menandai kehidupannya dengan ketidakseimbangan. Mengapa ia hanya bisa menciptakan dosa? Seharusnya ia bisa menciptakan pahala. Bahkan syukur-syukur pahalanya tidak hanya banyak, akan tetapi juga mengalir kepada pembuatnya hingga ia mati berkalang tanah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Hanya saja, perlu kita sadari bahwa konsep adanya pahala dan dosa di dalam Islam itu seringkali disalahpahami. Banyak orang beribadah hanya untuk mendapat pahala, bukan ridla Allah SWT. Sebenarnya pahala itu adalah adalah untuk mengajarkan kepada umat Islam dan manusia umumnya untuk terus berbuat baik dan menyembah Allah SWT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Bukan pahalanya yang dijadikan fokus perhatian, akan tetapi, sejauhmana sang manusia mau tunduk di depan Allah SWT dengan mengerjakan perbuatan baik. Tidak menjadi soal apakah ada pahala atau tidak, walaupun Allah SWT berjanji akan memberikannya saat perbuatan baik itu dilakukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ada juga di antara kita ada yang menganggap pahala itu untuk menancapkan gengsinya di depan sesama manusia. Ada yang menganggapnya sebagai modal material utama untuk mengkapling-kapling surga. Sehingga jika ada orang yang menurutnya tidak membuat pahala, misalnya ahli maksiat, ia anggap sebagai orang yang tidak berpahala. Karena itu, ia merasa bahwa karena pahalanya banyak, maka ia layak masuk surga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ada juga yang mengetahui betapa di dalam Islam itu banyak sekali amal yang pahalanya berlipat-lipat. Lalu secara sengaja ia menghitung-hitung pahala itu berdasarkan berapa kali ia beribadah, dan berapa kali ia beramal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Hadits yang penulis kutip di atas memaparkan empat amal yang bisa tetap membuahkan pahala kendati pelakunya sudah meninggal dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pertama, Mati Syahid&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Mati syahid adalah kematian yang dicapai seseorang ketika berjuang menegakkan agama Allah SWT. Begitu mulianya mati syahid ini sehingga setiap mukmin pasti mendambakannya. Allah SWT telah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 111: &lt;i&gt;Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan surga untuk mereka. Mereka berjuang di jalan Allah lalu membunuh atau terbunuh.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saat ini, mati syahid kerap disalahmaknakan oleh sebagian kaum muslim yang begitu menggebu semangat beragamanya. Sebenarnya, yang harus dipahami dari konsep mati syahid ini adalah agar setiap muslim itu mengerti bahwa &lt;i&gt;syahid&lt;/i&gt; itu maknanya adalah siap berkorban demi sesuatu yang baik, demi orang lain, dan kepentingan bersama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Artinya, kejiwaan orang yang ingin mati syahid adalah kejiwaan orang-orang yang siap menjadi tumbal demi kepentingan bersama yang baik. Contohnya, orang yang rela mengorbankan dirinya untuk membersihkan tempat tinggal bersama yang kotor berhari-hari dan tidak ada yang mau membersihkannya. Ia melakukannya demi kepentingan semua yang tinggal di sana. Itulah orang yang telah ‘mati syahid’. Memang ia tidak mati, tapi ia telah memiliki jiwa dan karakter orang yang mati syahid.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Itulah ’mati syahid’. Mati syahid seperti ini adalah kemuliaan. Karena pelaksananya mengorbankan dirinya untuk kepentingan orang lain tanpa merugikan orang lain. Berbeda dengan para pengebom yang mengaku ia syahid. Mereka tidak tahu bahwa perbuatan syahid mereka itu salah. Karena mereka telah merugikan orang lain, merusak tatanan, dan tidak mengindahkan hak hidup orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kedua, Mengajarkan Ilmu&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ilmu merupakan salah satu kunci sekaligus bekal seseorang untuk meraih kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Ketika kita telah berilmu, kita wajib untuk megajarkannya kepada mereka yang belum berilmu. Sebab ilmu yang tidak diajarkan dan diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Bahkan Nabi Muhammad SAW memberikan isyarat kepada orang alim yang tidak mengajarkan ilmunya dengan siksa yang amat berat. Nabi SAW bersabda : &lt;i&gt;seberat-berat siksaan atas manusia pada hari kiamat adalah orang alim yang tidak memanfaatkan(mengajarkan) ilmunya.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ilmu yang selalu diajarkan kepada orang lain akan menjadi berkah. Apalagi kalau ilmu itu berhasil membawa pemiliknya atau yang orang yang diajarkan, menjadi orang yang berguna bagi masyarakat, agama, bangsa dan negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ketiga, Bersedekah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Allah SWT tidak melarang manusia untuk mencari dan mendapatkan harta duniawi sebanyak mungkin. Namun, harta yang banyak tersebut mempunyai beban untuk dikeluarkan demi kepentingan umat Islam. Sedekah sangat dianjurkan bagi umat Islam khususnya mereka yang dikaruniai oleh Allah SWT rizki yang melimpah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sedekah tidak hanya dengan harta benda saja namun bisa dengan berbuat baik dan beribadah sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: &lt;i&gt;Setiap ruas tulang manusia wajib bersedekah setiap hari, di mana matahari terbit. Selanjutnya beliau bersabda: Berlaku adil antara dua orang adalah sedekah, membantu seseorang (yang kesulitan menaikkan barang) pada hewan tunggangannya, lalu ia membantu menaikkannya ke atas punggung hewan tunggangannya atau mengangkatkan barang-barangnya adalah sedekah. Rasulullah saw. juga bersabda: Perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang dikerahkan menuju salat adalah sedekah dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Keempat, Anak yang Saleh dan Salihah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Secara naluri semua manusia pasti menginginkan mendapat anak yang baik, yang salih dan salihah. Seorang penjahat pun tidak menginginkan anaknya menjadi penjahat. Apalagi seorang muslim pasti menginginkan anaknya menjadi seorang yang selalu mendoakan dan mengharumkan nama kedua orang tuanaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: &lt;i&gt;jika anak adam meninggal dunia, semua amal ibadahnya terputus, kecuali tiga perkara, yaitu: amal jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak salih (salihah) yang selalu mendoakan kedua orang tuanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Keempat perkara itu ibarat tabungan yang akan tetap mengucurkan pahala di saat pemiliknya meninggalkan dunia fana ini. Ia ibarat dana pensiunan yang selalu memberikan kebaikan kendati jasad pemiliknya sudah hancur lebur dimakan cacing, bakteri dan tanah. Semoga kita semua bisa memperoleh empat pahala yang terus mengalir ini. &lt;i&gt;Amin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;*)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;b&gt;Oleh: Dwie Abu Taukhid&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aktifis Resimen Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogayakarta dan staf pendidik TPA Masjid Jendral Sudirman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1805598293185617123-6338344042428933469?l=mjskolombo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mjskolombo.blogspot.com/feeds/6338344042428933469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/04/normal-0-microsoftinternetexplorer4.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/6338344042428933469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/6338344042428933469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/04/normal-0-microsoftinternetexplorer4.html' title='Pahala'/><author><name>Masjid Jendral Sudirman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06343321446060590946</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyK6jNVoVI/AAAAAAAAABk/9wThm5cy0p4/S220/DSC08791.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1805598293185617123.post-4969282762689128849</id><published>2008-03-27T01:47:00.000-07:00</published><updated>2008-03-27T01:50:57.332-07:00</updated><title type='text'>Sirah Nabi</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Sirah Nabi = Kepala Nabi&lt;br /&gt;{Sirah [bs. Jawa] = Kepala}&lt;br /&gt;*) Oleh: Yasser Arafat&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Lebih tepat jika dikatakan bahwa orang yang “sehat” adalah orang yang selalu bertanya sekaligus selalu menjawab. Ia selalu siap “angkuh” dan meragukan sesuatu, sekaligus siap “rendah hati” dan meyakini sesuatu. Dan, ia berani untuk itu.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;(Miranda Risang Ayu; 1990)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu ngaji dulu, saya pernah diajari guru saya, sebuah mata pelajaran: sirah nabi. Kata guru saya –Allah yarham- sirah itu Bahasa Arab, artinya sejarah. Jadi, sejak saat itulah saya tahu bahwa sirah nabi artinya sejarah nabi. Tapi, kali ini, saya memilih mengartikan sirah bukan sebagai Bahasa Arab, akan tetapi sebagai/dalam Bahasa Jawa. Maka, sirah dalam bahasa Jawa artinya kepala. Sirah nabi artinya kepala nabi.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apa itu kepala? Mengapa kepala setiap orang berbeda bentuknya? Apa jadinya kalau manusia hidup tanpa kepala? Di dunia ini, seorang manusia tanpa kepala –seperti si mata malaikat dalam film Si Buta Dari Gua Hantu- pasti akan ditakuti. Siapapun yang melihatnya, pasti ia akan lari lintang-pukang bersama kencingya yang membeser di celana.&lt;br /&gt;Kepala itu berharga. Jika kepala adalah “nama”, maka William Shakespare juga akan berkata; “apalah arti sebuah kepala”. Kepala juga bisa menjadi ajang bisnis polisi yang menyemprit empunya kepala yang tidak berhelm. Akibatnya, ia pun bisa disuruh untuk merapal rumus kali-kali dalam pasal 4X5= Rp. 20.000.&lt;br /&gt;Kepala itu sakral. Di Indonesia, setiap orang yang memegang kepala orang lain atau melangkahinya dianggap telah utang darah. Itu tidak sopan. Kecuali yang lebih tua memegang kepala yang lebih muda.&lt;br /&gt;Kepala itu wingit. Banyak konflik sosial di Indonesia yang melibatkan kepala. Pada tahun 1999, ketika keributan dan kerusuhan etnis terjadi di Kalimantan, dari media massa saya sering melihat potongan kepala manusia tercecer di tempat umum. Begitu juga hal itu terjadi di beberapa daerah pinggiran Indonesia lainnya.&lt;br /&gt;Kepala itu keramat. Ia sering-kala dipakai beribadah. Sujud pakai kepala. Bahkan salah satu rukun haji adalah mencukur bulu kepala. Hal itu disebut tahallul. Lahirnya seorang bayi yang “tidak bermasalah” ditandai oleh kepalanya yang keluar dari rahim ibunya. Hingga si bayi ditambali nama, beberapa helai bulu kepalanyalah yang dicukur, dengan diiringi senandung salawat.&lt;br /&gt;Kepala itu puncak. Di sekolah, ada istilah kepala sekolah. Di jajaran birokrasi pemerintahan, ada istilah Kepala Polri, Kepala BAPPENAS, dll. Tapi tidak ada istilah Kepala Koruptor.&lt;br /&gt;Kepala itu sehat. Jenis-jenis penyakit banyak yang melibatkan kepala; sakit kepala dan pusing kepala. Ditambah lagi penyakit keras kepala dan kepala batu.&lt;br /&gt;Kepala itu ajaib. Dalam komik-kartun Dragon Ball, manusia Iblis Bhu memakan Sun Go Ku, Sun Go Han, Pikkolo, dan Bezita, dan menelan mereka semua bukan ke dalam perut, akan tetapi ke dalam kepalanya.&lt;br /&gt;Kepala itu lucu. Sewaktu berada di Yogya, pernah suatu kali saya direpet-marahi oleh kawan saya dengan ungkapan –maaf-; endasmu! atau gundulmu! Padahal saya tidak gundul.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Itulah fakta-fakta di sekitar sirah/kepala. Sebegitu menumpuknya, hingga bagi saya, kepala itu bukan sekedar fisik/bentuknya. Tapi kepala adalah simbol dari ide, gagasan, logika, rasa, kehormatan, marabat, dan software sekaligus hardware bagi setiap orang.&lt;br /&gt;Jadi, sirah/kepala Nabi yang saya maksud di sini adalah gagasan, logika, alasan, cara berpikir, nalar, rasa, kehormatan, dan background dari semua tindakan, perkataan, dan keseluruhan apa yang ’diproduksi’ oleh Nabi SAW.&lt;br /&gt;Jika sirah yang pertama (Arab) artinya adalah sejarah, maka sirah yang kedua (Jawa) artinya adalah kepala. Nah, kita seringkali berhenti dalam sirah yang pertama; sejarah Nabi. Sirah yang kita tahu adalah sejarah kapan Nabi SAW lahir, memasuki remaja, nikah, beruzlah, berperang, sampai bercocot-cicit di mana, siapa komunikannya, dan apa yang disampaikannya.&lt;br /&gt;Hasilnya adalah berjilid-jilid dan beruas-ruas buku yang terpampang di rak bibliotika. Itulah yang sampai ke tangan kita. Terkadang kita pun hanya membaca dan mengingat-ingatnya sesekali. Hingga kita hanya menangkap tahun-tanggalnya. Kita hanya mengunyah nama besar tokohnya. Kita pun hanya mendelikkan mata pada kisah magis-mistis-aneh yang terjadi dengan Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;Bagi saya, bukan hanya tahun-tanggalnya yang kita mau catat, bukan hanya jejak-jejak fisik langkah dan peristiwanya yang kita napak-tilasi, dan bukan pula hanya siapa-siapa tokoh yang hidup di masa itu yang mau kita tiru-contoh. Tapi sirahnya. ’Kepala’nya, alias sistem gagasannya, idenya, logikanya, alasannya, rasanya, dan ’mengapa’ semua itu terjadi.&lt;br /&gt;Dalam istilah ilmu keislaman, ’kepala/sirah’ itu bisa disebut asbaabun nuzuul atau asbaabul wuruud-nya setiap peristiwa sejarah yang dialami Nabi SAW, orang-orang yang hidup di sekelilingnya, budayanya, dan peradabannya.&lt;br /&gt;Tentu ’kepala’ itu tidak mudah dilihat dan dibaca secara fisik. Karena ’sirah’ itu, adalah sesuatu yang maujud secara tersirat. Sekalipun ia tersurat, ia jarang sekali diungkap.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya kira itulah mengapa kepala itu begitu penting-genting, suci-sakral, utama-awal. Bukan kepala dalam arti fisiknya yang terkadang bulat, lonjong, peyang, dan petak. Akan tetapi isi kepala itu. Gumpalan ide-idenya, logikanya. Sistem berpikirnya. Rasanya, yang semuanya itu menjadi landasan gerak dakwah dan aktifitas Nabi SAW. Itulah yang alur-aras-urus-aras yang harus kita praksiskan dalam tumpangan senafas hidup ini.&lt;br /&gt;Penjelasan tentang adanya ’sirah/kepala’ itu, yang paling sederhana bisa dicermati dalam kasus larangan untuk berbohong. Kenapa beliau SAW sampai mengeluarkan larangan berbohong? Di balik itu ada logikanya, ada sistem berpikirnya, dan alur-latar sejarahnya mengapa Muhammad SAW sampai berani ber-hadits dengan isi yang seperti itu.&lt;br /&gt;Bisa jadi waktu itu Muhammad SAW pernah dibohongi, atau yang sedang mendengar larangan itu memang suka berbohong. Jika pendengarnya sudah sampai pada level ’bersih’ dari kebohongan, maka saat itu pasti Nabi SAW tidak mengeluarkan larangan berbohong, akan tetapi perintah untuk menjaga konsistensi kejujuran (istiqomah).&lt;br /&gt;Ini yang saya maksud dengan sirah/kepala itu. Begitu juga yang harus kita lakukan atas sejarah peradaban Islam yang berjalan kemudian pasca Muhammad SAW &gt; Khulafaurrasyidin &gt; Dinasti Umayyah &gt; Dinasti Abbasiyah di Andalus yang menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia &gt; Dinasti Umayyah di Cordoba, Spanyol &gt; Dinasti Fathimiyah di Mesir &gt; hingga kejatuhan khilafah Turki Utsmani di Turki pada bulan April 1924.&lt;br /&gt;Sejarah dunia mencatat betapa banyak inovasi, eksperimentasi dan pengembangan kontributif umat Islam dalam masa-masa itu bagi tegaknya kemanusiaan. Tapi ingat, bukan keagungan, kesohoran, ataupun kebanggaan peradaban itu yang kita rapalkan, wiridkan, kita kutip, lalu kita promosikan sebagai bukti kejumawaan kita.&lt;br /&gt;Akan tetapi sebab musababnya, sistem berpikirnya dan logika mengapa orang-orang yang hidup pada masa itu mampu meracik ramuan untuk membangun peradaban sedemikiran rupa besarnya.&lt;br /&gt;Dus, jangan lupa mengakui bahwa sepanjang sejarahnya, peradaban politik-kebudayaan Islam selalu saja terselip di dalamnya awal yang dimulai dengan kecurangan-kecurangan dan puzzle intrak-intrik yang rumit. Ingatlah saat Mu’awiyah bin Abu Sufyan merebut kepemimpinan dari Ali ibn Abi Thalib KW.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Itulah sirah. Itulah kepala. Bagaimana supaya sirah itu terus terjaga, berlangsung, dan dapat kita baca, pakai, dan amalkan? Salah satu caranya adalah apa yang diungkapkan mba’ Miranda di atas.&lt;br /&gt;Mengapa? Karena semua Nabi adalah manusia biasa yang juga pergi ke pasar seperti kita. Allah SWT berfirman dalam QS: 25: 20:“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka makan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain”.&lt;br /&gt;Sekian. Wallahu a’lam bil-sirah nabi/kepala nabi.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;*) Yasser Arafat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pembaca &lt;a href="http://mjskolombo.blogspot.com/"&gt;http://mjskolombo.blogspot.com/&lt;/a&gt;, tinggal di Medan&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1805598293185617123-4969282762689128849?l=mjskolombo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mjskolombo.blogspot.com/feeds/4969282762689128849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/03/sirah-nabi.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/4969282762689128849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/4969282762689128849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/03/sirah-nabi.html' title='Sirah Nabi'/><author><name>Masjid Jendral Sudirman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06343321446060590946</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyK6jNVoVI/AAAAAAAAABk/9wThm5cy0p4/S220/DSC08791.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1805598293185617123.post-5802422130066139017</id><published>2008-03-10T14:22:00.000-07:00</published><updated>2008-09-05T22:44:49.274-07:00</updated><title type='text'>Islam Kita Hari Ini</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SLJWY02zu3I/AAAAAAAAABE/t8uNN2HW--A/s1600-h/IMG_0008.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SLJWY02zu3I/AAAAAAAAABE/t8uNN2HW--A/s320/IMG_0008.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238344301090683762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa Kabar Islam Kita?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;*) Oleh: Yasser Arafat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Katakanlah: Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: Bahwasannya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa, maka apakah kamu berserah diri (kepada-Nya)?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;(QS: 21: 108)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat ini banyak di antara umat Islam yang meyakini bahwa menjadi seorang muslim itu cukup hanya dengan membersihkan hati, plus sesekali mengikuti training-training kesalehan. Ada yang meyakini bahwa menjadi seorang muslim juga harus mampu membongkar tafsir teks suci dan mematutkannya dengan perkembangan peradaban.&lt;br /&gt;Bagi para politisi, membentuk parpol Islam dengan basis massa dan kader yang disupport dari ormas Islam dan disusupkan ke masjid-masjid, adalah jalan lurus menuju kesempurnaan Islam. Lalu mereka duduk di parlemen dengan gaji tinggi plus aneka tunjangan tanpa harus pusing dengan kebijakan negara yang sering membuat kebijakan seenaknya.&lt;br /&gt;Ada juga yang mengimani bahwa tidak sempurna keimanan seseorang jika tidak menonton kontes dakwah berikut mengirim dukungan SMS, atau menonton tayangan religius (mistycotainment) yang memvisualisasi azab Tuhan, neraka, dan setan dengan sangat konyol dan tolol. Selain itu, ada yang meyakini bahwa memakai jilbab dan baju koko gaul yang masuk rekor MURI, berbelanja makanan dan produk kecantikan berlabel halal di supermarket berinisial ke-arab-araban, juga merupakan kesempurnaan Islam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Siapa yang (lebih) Sesat?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Itu semua bukan fiksi. Beberapa tahun ke depan, umat Islam Indonesia mungkin telah tidak lagi mengenal Islam sebagai agama yang mengatur setiap aspek kehidupan makhluk hidup di dunia ini. Sebab kebanyakan umat -dengan cara ber-Islamnya masing-masing- telah sibuk mengurusi hal-hal yang tidak jelas dan mubazir seperti di atas.&lt;br /&gt;Bahkan baru-baru ini, umat disibukkan untuk merayakan hari-harinya dengan menertawai dan menghujat aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah. Sebuah kasus yang tidak jelas; sebentar sesat, sebentar tobat, besok muncul lagi, sesat lagi, lalu tobat lagi, dan begitu seterusnya.&lt;br /&gt;Mengapa? Karena di Indonesia ini, hampir setiap tahun kita disapa oleh aliran-aliran baru yang tiba-tiba muncul dan tiba-tiba hilang. Sejak dulu ada aliran ini, lalu aliran itu, kemudian aliran anu. Lalu ada aliran baru lagi, kemudian sekarang ada aliran ini lagi, dan besok pasti akan ada aliran itu lagi.&lt;br /&gt;Wah, bosan! Tidakkah kita menyadari bahwa fakta itu menyimpulkan bahwa semuanya tidak lebih hanya sendratari, sinetron picisan, atau proyek yang sengaja disutradarai oleh pihak tertentu untuk memecah belah perhatian umat di Indonesia.&lt;br /&gt;Cobalah kita sadari, kala kita sibuk mengurusi aliran sesat yang tiba-tiba booming, pada saat yang sama pula pandangan kita (di)buta(kan) dari kasus yang lebih mengerikan dan lebih sesat!&lt;br /&gt;Tahukah kita bahwa pada saat yang sama, harga BBM di tingkat dunia telah naik menjadi 100 Dollar AS per Barel yang menyebabkan pemerintah membatasi warganya untuk mengkonsumsi BBM. Hutan kita telah dibabat secara liar dan pelakunya justru dibebaskan oleh hukum. Korupsi yang terbongkar di BI, TKI yang dibunuh dan dipulangkan, akan disahkannya RUU BHP (Badan Hukum Pendidikan), semakin maraknya pembangunan supermarket, tercemarnya laut kita yang diakibatkan oleh limbah industri perusahaan asing, korban lumpur Lapindo yang dicuekin, serta masih banyaknya rakyat Indonesia yang makan nasi aking setiap harinya!&lt;br /&gt;Anehnya, mengapa justru hanya orang yang mengaku nabi atau malaikat saja yang diberi fatwa sesat oleh MUI? Tidakkah aktor-aktor (baca: pemerintah) yang dua tahun lalu telah menaikkan harga BBM itu juga sama sesatnya? Bukankah menaikkan harga BBM itu lebih cepat membunuh daripada hanya mengaku menjadi nabi?&lt;br /&gt;Tidakkah mengkomersialkan lembaga pendidikan itu bukan merupakan perbuatan yang sesat? Tidakkah membangun supermarket yang menyebabkan generasi kita lebih sering berbelanja daripada belajar dan beribadah ke masjid, merupakan pekerjaan sesat?&lt;br /&gt;Tidakkah orang-orang yang menebang hutan secara liar lalu bebas, mendirikan industri yang mencemari lautan, dan menyebabkan perang saudara sebangsa dan setanahair (ingat kasus PT Freeport di Papua!), juga merupakan perbuatan sesat? Tidakkah mengeksploitasi perut bumi yang menyebabkan membanjirnya lumpur hingga satu kecamatan tergusur sama sesatnya dengan mengaku nabi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Memahami Tauhid&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kalau memberantas aliran sesat itu adalah ajaran tauhid, bukankah memberantas dan melawan pemimpin yang menaikkan harga BBM dan mengkomersilkan pendidikan, membabat hutan, mencemari lautan, dan menghukum pemilik perusahaan yang menelantarkan korban lumpur dan sebagainya, juga merupakan ajaran tauhid? Mengapa tauhid hanya kita pahami cuma dalam urusan aliran sesat?&lt;br /&gt;Itulah bukti bahwa sejak awal kita beragama, memang kita telah ter(di)sekulerkan! Seolah-olah tauhid itu hanya iman kepada Tuhan, Nabi, Malaikat dan lainnya. Jika ada yang mengaku menjadi nabi, maka itulah yang telah melakukan pebuatan syirik! Hemat saya, pemahaman tauhid seperti ini justru salah kaprah!&lt;br /&gt;Bukankah tauhid juga berarti kita meyakini bahwa Allah SWT pasti murka atas mereka yang menaikkan harga BBM dan bahan pokok lainnya? Apakah kita tidak yakin kalau Allah SWT pasti marah melihat umatnya yang mengkomersialisasikan pendidikan seenaknya, membalak hutan, dan menelantarkan korban lumpur?&lt;br /&gt;Apakah kita tidak percaya bahwa perang saudara-sebangsa karena sebuah perusahaan asing yang tidak peduli nasib penduduk pribumi pasti dilarang Allah SWT? Apa kita juga tidak sadar, kalau supermarket dan mall yang ramai berdiri itu akan lebih ramai dari masjid? Apakah kita tidak sadar kalau itu semua adalah syirik!!??&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Agama yang Dimanipulasi &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Itulah agama kita yang telah dimanipulasi oleh pasar, proyek ekonomi politik, epistem komersial, industri media, gejolak ereksi politik, sekularisasi, dan pemahaman dangkal atas tauhid. Itulah bukti bahwa kita –terlebih lagi saya- ini masih bodoh!&lt;br /&gt;Bagi saya, gejala yang akut itu merupakan tindakan di ruang sadar kita yang telah disusupi oleh sistem kehidupan yang rusak. Belum lagi di segala penjuru, kapitalisme telah menunggu untuk mengaduk-aduk kita hingga kita pun hidup di dalam sistem kehidupan yang terintegrasi dengan motif ekonomi dan bandrol pasar.&lt;br /&gt;Islam atau agama pada umumnya pun hidup di bawah hukum senang-senang, belanja, hedonisme, egoisme, dan amat rentan oleh manipulasi industri, politik, budaya, dan agregasi kepentingan. Islam dijadikan komoditi dalam transaksi perdagangan agama di pasar kepentingan ekonomi-politik. Tokoh-tokoh agama pun beralih profesi menjadi bintang iklan komersial, harus dibayar mahal, dan di saat-saat tertentu sang tokoh pun menjadi –meminjam Pierre Bordieu- tangan represif negara.&lt;br /&gt;Akibatnya, Islam menjadi kabur kita pahami, dan realitas ini menjadi semu untuk kita telisik lebih dalam. Hingga ayat-ayat Tuhan di alam semesta ini bersembunyi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Di Mana (Islam) Kita?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Umat menjadi pikun, egois, dan (di)lupa(kan) akan dunianya yang sekarat. Padahal di dunia itu ada; ribuan jiwa kekurangan gizi dan menderita busung lapar, kerusakan hutan, pencemaran lautan, pembunuhan TKI/TKW, illegal logging, komersialisasi pendidikan dan rumah sakit, birokrasi yang korup, serta pemerintah yang semakin menyengsarakan rakyat.&lt;br /&gt;Saat TKI dibunuh, saat harga BBM dinaikkan, saat pendidikan dan rumah sakit semakin (di)mahal(kan), saat negara membuat kebijakan yang pro pasar, saat korupsi membuana, di manakah para alumni training kesalehan dan pemenang kontes dakwah itu? Mana mereka yang membongkar teks suci dan elit muslim yang menjadi representasi umat di parlemen? Mana para ulama yang sering mengeluarkan fatwa sesat? Lebih penting lagi, di manakah saya?&lt;br /&gt;Selain cuap-cuap kosong dan solidaritas komersial, sepotong hilah pun tak hasil kita bentuk. Kaum intelektual asyik dengan proyek lembaga donor, ormas Islam hanya sibuk menggelar pertemuan, dan wakil rakyat gemar bagi-bagi kekuasaan!&lt;br /&gt;Semua itu terjadi bukan karena kita dosa dan kotornya hati kita, bukan karena kita kurang didakwahi, bukan pula karena teks suci yang belum dibongkar, dan bukan pula karena iblis yang terus menghasut!&lt;br /&gt;Tetapi tak lebih karena di sana ada sistem yang mem(di)buat segalanya menjadi korup. Hingga kita pun (di)lupa(kan) bahwa; mengaku sebagai nabi dan menaikkan harga BBM itu hukumnya sama-sama sesat! Itulah tanah-air kita yang sudah berurat-akar dan telah ratusan tahun kita bentuk. Wallahu a’lam bil-Apa Kabar Islam Kita?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;*) Yasser Arafat&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Penulis adalah Pimred Bulletin Jum’at “Jendral Sudirman” Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta, Alumnus Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1805598293185617123-5802422130066139017?l=mjskolombo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mjskolombo.blogspot.com/feeds/5802422130066139017/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/apa-kabar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/5802422130066139017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/5802422130066139017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/apa-kabar.html' title='Islam Kita Hari Ini'/><author><name>Masjid Jendral Sudirman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06343321446060590946</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyK6jNVoVI/AAAAAAAAABk/9wThm5cy0p4/S220/DSC08791.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SLJWY02zu3I/AAAAAAAAABE/t8uNN2HW--A/s72-c/IMG_0008.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1805598293185617123.post-8126019376809192984</id><published>2008-03-08T14:15:00.000-08:00</published><updated>2008-09-05T22:44:22.994-07:00</updated><title type='text'>Islam Lampu Merah</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Islam di Persimpangan Lampu Merah&lt;br /&gt;*) Oleh: Ahmad Sahide&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tulisan pendek nan remeh ini merupakan rasa terima kasih saya kepada penulis besar di negeri seribu masalah ini, yaitu Jalaluddin Rakhmat atau yang akrab kita sapa dengan panggilan; Kang Jalal. Salah satu buku tokoh asal Bandung tersebut yang saya kagumi adalah buku berjudul Islam Alternatif.&lt;br /&gt;Kang Jalal dalam buku tersebut banyak memotret realitas Islam dari sisi yang remeh namun sangat dekat dengan dunia-kehidupan keseharian kita. Beliau mengatakan bahwa seorang intelektual adalah orang yang mampu membaca hal-hal yang terkecil di lingkungannya lalu memberikan respon atau solusi di sana. Hemat saya, hal kecil, remeh, dan sering dikesampingkan oleh kita semua, dan yang salah satunya harus kita potret saat ini adalah apa yang menjadi judul tulisan ini; Islam di persimpangan lampu merah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;Lampu Merah dan Islam?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setiap saya keluar mengendarai sepeda motor, baik itu sendiri maupun beramai-ramai, seringkali saya menyaksikan para pengendara kendaraan tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas (lampu merah). Teman saya sendiri pun terkadang melakukan hal tersebut. Marilah kita renungkan relitas itu. Kenapa ia bisa terjadi? Apa motifnya serta bagaimana Islam memandang hal itu?&lt;br /&gt;Allah berfirman dalam QS: 67: 3-4: Artinya: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;“maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Marilah fenomena itu kita lihat berulang-ulang dan kita pertanyakan. Seandainya pelanggar lampu merah tersebut kita tanyai: apakah melanggar rambu lalu lintas itu ada kaitannya dengan Islam? Bagaimanakah jawaban mereka?&lt;br /&gt;Terbayang dalam pikiran saya bahwa mungkin bagi mereka -dan bahkan kita semua menganggap- bahwa pelanggaran tersebut tidak ada hubungannya dengan agama (Islam). Begitu juga dengan mematuhinya.&lt;br /&gt;Bagi mereka dan kita, mungkin akan terdetak sebuah keyakinan kolektif bahwa mau melanggar atau tidak itu bukan urusan Islam, apalagi urusan Tuhan. Karena di dalam Alquran pun tidak ada tertera ajaran untuk membuat lampu merah. Karena itu kita pun seolah tidak mau tahu apa itu lampu hijau, kuning, dan merah yang menyala yang telah terpasang di perempatan jalan. Tapi ini urusannya dengan bapak polisi yang sering melakukan kekerasan kepada rakyat kecil. Karena bapak polisi sering menindas, memeras, atau sering melakukan tindakan sesemprit dua puluh ribu. Maka kiranya setimpal kalau para pengemudi kendaraan tidak mematuhi aturannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;Pembangkangan sesama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kita tentu tidak bisa menyalahkan sepenuhnya logika tersebut. Karena pelanggaran itu bisa dimaknai sebagai wujud pemberontakan terhadap aparat yang sering lalai dengan tugasnya sebagai pengayom dan pelindung rakyat. Namun, pernahkah kita - bagi yang sering melanggar lampu merah- berpikir lebih jauh apa dampak dari pelanggaran lampu merah itu? Bukankah itu sebuah tindakan egois? Apa efek dari egoisme kita yang selalu nyelonong saat lampu merah di perempatan jalan sedang berkedip?&lt;br /&gt;Hemat penulis, pelanggaran itu merupakan satu tindakan pembangkangan kita terhadap sesama kita. Pembangkangan yang dibangun di atas nafsu, dikuatkan egoisme jiwa, dan ditembok keacuhan sosial kita.&lt;br /&gt;Penulis sering melihat dan bahkan mengalami sendiri akibatnya. Karena ulah pembangkangan egoistis itu jalan menjadi macet, polusi memuncak, berisik membahana, keresahan selalu datang mengancam, kecelakaan menghantui, dan bensin pun habis –dan harga BBM sekarang amat mahal!&lt;br /&gt;Karena ulah itu, banyak orang terlambat masuk kantor, banyak orang yang merasa dirugikan, banyak orang yang lalai dari tanggung jawabnya, dan lain sebagainya. Tentu ini tanpa bermaksud membesar-besarkan masalah. Ini seringkali terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Yogyakarta.&lt;br /&gt;Dampak dari keegoisan itulah yang akan kita lihat dengan menggunakan kaca mata agama. Memahami Islam, dengan menggunakan pendekatan bahasa, mempunyai asal kata ‘aslama’ yang berarti keselamatan, kedamaian dan ketentraman. Jadi Islam adalah agama yang membawa keselamatan, kedamaian dan ketentraman bagi umatnya dan seluruh alam (rahmatan lil’alamiin).&lt;br /&gt;Ini dapat dimaknai bahwa orang yang ber-Islam itu terwujud dalam bagaimana ia bersikap dan berperilaku setiap harinya dengan mengedepankan keselamatan, kedamaian, dan ketentraman bagi dirinya dan sesama.&lt;br /&gt;Pesan yang bisa kita tangkap melalui penuturan singkat ini adalah bahwa Islam jangan terlalu sempit untuk dimaknai hanya sebatas ritual (Salat, Puasa) kepada sang khaliq. Bisa jadi di satu sisi kita salat tepat-waktu atau puasa tepat-hari, namun, di sisi lain kita mungkin tidak pernah mencoba melebarkan makna dan menemukan Islam di persimpangan lampu merah.&lt;br /&gt;Muhammad Abduh, seorang ulama Mesir suatu ketika menyempatkan diri berkunjung ke London. Setiba di negeri yang sekuler dan berpenduduk mayoritas non-muslim itu, beliau meyakini bahwa Islam tidak dapat ditemukan di Mesir yang hampir seratus persen penduduknya muslim. Justru di London lah Islam bisa kita temukan. Ceritanya juga dari lampu merah di mana beliau melihat orang-orangnya patuh, disiplin, ramah, dan tidak egois.&lt;br /&gt;Bagi kita umat Islam, marilah kita lihat agama kita ini yang sedari awal telah sarat dengan ajaran untuk disiplin, peduli sesama, dan tidak merugikan sistem kehidupan. Bukankah salat lima waktu sehari semalam itu mengajarkan kedisiplinan dan puasa mengajarkan untuk jauh dari keegoisan?&lt;br /&gt;Saya tidak punya otoritas untuk menjustifikasi apakah saat kita melanggar lampu merah, ini berarti bahwa Islam kita patut dipertanyakan. Tapi paling tidak ini menjadi bahan refleksi bagi kita semua selaku umat Islam. Islamkah kita saat kita berada di luar masjid? Jawab sendiri!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;*) Ahmad Sahide&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Penulis adalah mahasiswa Hubungan Internasional Fisipol UMY, tinggal di Gamping&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1805598293185617123-8126019376809192984?l=mjskolombo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mjskolombo.blogspot.com/feeds/8126019376809192984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/islam-lampu-merah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/8126019376809192984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/8126019376809192984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/islam-lampu-merah.html' title='Islam Lampu Merah'/><author><name>Masjid Jendral Sudirman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06343321446060590946</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyK6jNVoVI/AAAAAAAAABk/9wThm5cy0p4/S220/DSC08791.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1805598293185617123.post-3377494593265311818</id><published>2008-03-05T14:19:00.000-08:00</published><updated>2008-09-05T22:43:24.314-07:00</updated><title type='text'>Pahlawan Kesiangan</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Menjadi Pahlawan Tanpa Kesiangan: Refleksi Hari Pahlawan&lt;br /&gt;*) Oleh: Ihab Habudin&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong.”&lt;br /&gt;(QS. 22: 78)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Tiga bulan pasca kemerdekaan, tepatnya tanggal 10 November 1945, di Surabaya, para pejuang bangsa kembali berperang. ‘Berani-nekad’ demi terciptanya kehidupan yang bebas dari kezaliman adalah modal mereka. Miskinnya pengalaman dan minimnya senjata bukanlah penghalang. Benak mereka hanya dihuni dua kata; merdeka atau mati. Hasilnya, penjajah berhasil diusir.&lt;br /&gt;Sungguh peristiwa penting. Terlebih, sejarah mengatakan bahwa arek-arek Surabaya yang menjadi pelopor perjuangan tersebut banyak yang berasal dari kaum santri. Inilah yang harus kita lihat, bahwa Islam tidak hanya hadir sebagai agama doktrinal yang hanya mengatur kesalehan individual saja, melainkan sebagai spirit pembebasan untuk melawan penjajahan. Islam tidak hanya diinsyafi untuk memenuhi spiritualitas pribadi saja, melainkan sebagai landasan untuk membela sesama (baca: rahmatan lil ‘alamin).&lt;br /&gt;Jadilah keberanian berjuang dan berkorban -yang adalah jiwa pahlawan- juga merupakan bagian dari nilai substantif ajaran Islam. Ayat yang penulis kutip di atas merupakan sebagian kecil ajaran Islam yang menandaskan pentingnya perjuangan dan pengorbanan. Ada sebuah hadits semakna yang artinya berbunyi: “Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, dan jika tidak mampu maka hendaklah merubahnya dengan lisannya, dan jika tidak mampu (juga), maka hendaklah ia merubahnya dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;Allah SWT juga berfirman dalam QS: 3: 110: &lt;em&gt;“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Disorientasi Makna&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Fakta di atas dapat kita maknai bahwa sejatinya manusia diciptakan sebagai makhluk yang memiliki etos kepahlawanan yang terintegrasi dalam dirinya, keberanian untuk menegakkan kebaikan, dan kelurusan dalam menumpas segala bentuk kemungkaran. Itulah peran sentral manusia di muka bumi ini, yaitu; sebagai khalifah (QS: 2:38).&lt;br /&gt;Namun sayang, kini kita banyak menjumpai masing-masing dari kita kering-kerontang akan etos kepahlawanan ini. Bahkan, dalam hidup berbangsa dan bernegara, kita mengalami disorientasi makna kepahlawanan. Kemampuan untuk berkorban dan keikhlasan berjuang di jalan yang benar sering diposisikan dalam tempat yang salah. Keberanian tidak tampak dalam menegakkan keadilan dan membabat habis tindak kejahatan. Malah sebaliknya, yang kerap tampak dari diri kita adalah keberanian berbuat noda dan dosa.&lt;br /&gt;Banyak dari kita yang tanpa tanggung jawab mengeksploitasi alam secara besar-besaran, tanpa rasa malu mengkorupsi uang rakyat, tanpa sadar dilihat sang pencipta nyaman dengan budaya foya-foya (hedonisme) dan menumpuk harta, tanpa rasa risih melanggengkan budaya konflik dan kekerasan, dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mau jadi pahlawan kesiangan?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya kita semua seolah telah menjadi pahlawan kesiangan. Karena untuk berkorban saja masih banyak di antara kita yang menempatkannya di ruang yang salah. Kita baru mau memberi sedikit derma pada kaum papa, korban bencana, rakyat miskin dan kaum tertindas, bila di sana kepentingan pribadi dan golongan kita bisa (ter)dipenuhi. Kita baru ‘berlomba dalam kebaikan’ bila musibah dan bencana telah menerpa. Kita juga hanya bersedia mengulurkan tangan hanya sebagai bagian dari ritual saja. Seolah-olah berbuat kebaikan itu hanya dianjurkan pada saat dan waktu tertentu saja. Tentu demi kepentingan tertentu pula. Inilah yang penulis sebut sebagai etos pahlawan yang kesiangan. Ia tidak tahu kalau ia kesiangan, dan tidak sadar kalau hari sudah siang. Ah, betapa malunya menjadi hamba Tuhan yang seperti ini.&lt;br /&gt;Fenomena membanjirnya bantuan untuk korban bencana dan membludaknya zakat harta hanya pada bulan Ramadlan saja menjadi bukti yang tak terelakkan. Faktanya, setelah bencana berlalu dan Ramadlan lewat siapa lagi yang berani berjuang dan berkorban membantu kaum miskin dan terpinggirkan? Sangat minimalis.&lt;br /&gt;Padahal berjuang dan berkorban di jalan Allah tidak terikat ruang dan waktu. Tidak hanya setelah bencana dan musibah menerpa. Tidak hanya pada bulan Ramadlan dan hari-hari suci lainnya. Tidak terikat kepentingan pribadi dan golongan, dan tidak pula karena ingin dipuji mesti perbuatan baik itu untuk kepentingan umat.&lt;br /&gt;Bukankah Rasulullah SAW mengabdikan seluruh hidupnya untuk berjuang dan berkorban? Apa yang dilakukan beliau tersebut semata-mata demi cinta kepada Allah SWT dan umatnya. Hingga menjelang wafat pun beliau masih mengingat nasib umatnya. Hal ini menandakan bahwa apa yang dilakukannya jauh dari hanya sekedar membela kepentingan pribadi dan golongan, dan tidak terbatas hanya pada waktu tertentu.&lt;br /&gt;Maka, perlulah kini kita merefleksikan diri dan menerapkan apa yang menjadi tanggung jawab kita sebagai khalifah di muka bumi ini; berjuang bersungguh-sungguh (baca: berjihad) dan berkorban, apapun ideologi, ormas, partai, mazhab, bahkan agama kita. Karena kita semua adalah manusia yang bertugas memakmurkan dunia lewat medium berjuang dan berkorban. Berjuang dan berkorban haruslah tanpa pamrih dan bebas gravitasi kepentingan demi terciptanya kehidupan yang lebih manusiawi. Itulah etos kepahlawanan. Jadi, masihkah kita mau menjadi pahlawan kesiangan? &lt;em&gt;Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;*) Ihab Habudin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketua Bidang Kajian Strategis [Kastrat] HMI MPO Cabang Yogyakarta, tinggal di Karangkajen&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1805598293185617123-3377494593265311818?l=mjskolombo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mjskolombo.blogspot.com/feeds/3377494593265311818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/pahlawan-kesiangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/3377494593265311818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/3377494593265311818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/pahlawan-kesiangan.html' title='Pahlawan Kesiangan'/><author><name>Masjid Jendral Sudirman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06343321446060590946</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyK6jNVoVI/AAAAAAAAABk/9wThm5cy0p4/S220/DSC08791.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1805598293185617123.post-6170345367138836365</id><published>2008-02-01T14:58:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T14:59:54.785-08:00</updated><title type='text'>Perlunya Agama</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Tuhan, Ilmu, dan Makna Agama&lt;br /&gt;*) Khoirul Anwar&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui&lt;br /&gt;(QS: 30: 30)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pada era industri ini, pendangkalan keyakinan manusia akan Tuhan semakin tampak nyata di depan mata. Kemajuan ilmu dan teknologi yang ditandai dengan kemampuan akal (rasionalitas), kepercayaan atas realitas faktual (empirisme), dan semangat eksperimentasi, telah melahirkan kemerdekaan manusia untuk mendeklarasikan kebebasan dari Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dua Gejala&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Setidaknya, hemat penulis, ada dua gejala besar yang bisa kita tandai dari kasus kebebasan manusia untuk lari dari Tuhan ini.&lt;br /&gt;Pertama, gejala yang tampak dari mereka yang terang-terangan tidak beriman dan tidak “peduli” pada Tuhan. Realitas dunia ini mereka serap dan susun hanya sekedar untuk memenuhi kemampuan dan kepentingan mereka baik sebagai konglomerat, filosof, ilmuwan, dan lain sebagainya. Inilah titik kemunculan anggapan bahwa tugas orang yang berakal (rasional), ilmiah, kaya, dan teremansipasi, adalah untuk membunuh Tuhan.&lt;br /&gt;Kedua, gejala itu tampak dari mereka yang mengaku beriman pada Tuhan. Namun, Tuhan telah mereka lupakan dan campakkan dalam lakon kehidupan sehari-hari yang mereka jalani atas dasar hawa nafsu, kepentingan, dan keinginan untuk menjadi penguasa atas manusia lainnya. Mereka pun korupsi, berambisi pribadi, menghancurkan alam, dan merusak tatanan sosial.&lt;br /&gt;Dua gejala besar yang akut itu telah menjangkiti semua manusia. Termasuk orang-orang muslim yang beriman pada Allah SWT, yang shalat lima kali sehari, yang berhaji setiap tahun, yang rutin berzakat, dan yang begitu tampak saleh di depan publik.&lt;br /&gt;Pertanyaannya, apakah dengan menyingkirkan Tuhan, mereka dan bahkan kita semua mampu memberikan “obat” untuk menyembuhkan penyakit kehidupan modern ini? Apakah saat nafsu dan kepentingan menjadi landasan hidup telah kita praktekkan, lantas ketakutan-ketakutan kita jadi hilang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ilmu: Kehilangan Arah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kegalauan masyarakat bukannya berkurang, akan tetapi semakin parah. Berkat kemajuan buah pikir cemerlang teknologi dan sains lainnya, manusia semakin mudah untuk saling memusnahkan satu sama lain. Modus operandi kejahatan semakin rapi, kerusakan moral semakin tak terbendung, penindasan sesama manusia bertambah pinak.&lt;br /&gt;Sains dan teknologi telah kehilangan arah tujuan semulanya sebagai alat untuk memakmurkan dunia. Kecanggihan teknologi hanya menjadi malapetaka bilamana para pemegangnya tak bermoral.&lt;br /&gt;Hal ini menunjukkan adanya sikap manusia yang mencabut roh ketuhanan. Padahal, kemajuan teknologi tanpa didukung nilai-nilai ke-Tuhan-an tak ubahnya seperti orang buta yang dipegangi pedang dan ngawur menggunakannya.&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan yang semula oleh Allah diturunkan agar manusia bisa menemukan jati diri dan keberadaan Tuhannya (sangkan paraning dumadi), kini malah sebaliknya. Ilmu pengetahuan yang kita miliki semakin menjauhkan diri kita dari Tuhan.&lt;br /&gt;Seperti yang dikatakan TS Eliot, semakin hari ilmu pengetahuan hanya membawa kita kepada kebodohan. Sedangkan kebodohan kita, membawa kita semakin dekat kepada kematian. Anehnya, walaupun semakin dekat dengan kematian, mengapa kita malah bertambah jauh dari Tuhan.&lt;br /&gt;Begitulah, jika Tuhan dijauhkan dari hidup ini. Pandangan kita hanya dijejali oleh keinginan bagaimana memuaskan hawa nafsu, ambisi, materi, dan kepentingan sesaat semata. Kita pun diperbudak oleh benda-benda mati yang seharusnya kita kendalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hanif: Agama Sebagai Sistem&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah SWT di atas menjelaskan bahwa agama merupakan kebutuhan. Kalau boleh dikatakan, agama adalah roh manusia yang bisa membuat manusia hidup dan bersemangat dalam mengarungi ganasnya kehidupan.&lt;br /&gt;Sudah menjadi tabiat manusia bila ada masalah di luar kemampuannya, mereka akan mencari penolong yang dianggap memiliki kekuatan di atas segala kekuatan untuk dimintai pertolongan (QS:17:83). Pemilik kekuatan linuwih inilah yang dinamakan “Tuhan”.&lt;br /&gt;Sudah menjadi fitrah bila manusia merindukan Tuhan. Ini semua tak lepas dari kejadian awal manusia yang suci, dan dorongan alaminya untuk senantiasa merindukan, mencari, dan menemukan Tuhan. Itulah ajaran yang disebut hanif.&lt;br /&gt;Melalui kehanifan ini, manusia berusaha mencari kebahagiaan hakiki yang akan tercapai bila manusia mampu menemukan kesejatian (ma’rifat) Tuhan (QS:89:27-30).&lt;br /&gt;Untuk itu, kita memerlukan sebuah sistem hanif yang akan menghantarkan kita tepat pada sasarannya. Sistem inilah yang kita sebut dengan agama.&lt;br /&gt;Agama dipandang sebagai cara atau sarana untuk menemukan kebutuhan dambaan manusia. Walaupun, di abad modern ini, ada yang percaya bahwa agama akan segera tergantikan oleh ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Namun, kini setelah kemajuan besar tercapai oleh pengetahuan, manusia tetap merasakan adanya kebutuhan terhadap agama berkenaan dengan bagaimana manusia meraih kebahagiaan pribadi dan sosialnya.&lt;br /&gt;Tuhan adalah suatu keniscayaan bagi setiap manusia. Hal ini didasari oleh sifat manusia yang ingin memenuhi kebutuhan spiritualnya tanpa batas, ingin melepaskan diri dari wujud terbatas, dan ingin mencapai inti wujud (Tuhan).&lt;br /&gt;Pada diri manusia terdapat dorongan dan dambaan yang tidak akan menetap, tenang dan tentram, kecuali jika telah berhubungan dengan sumber inti wujud ini (Tuhan).&lt;br /&gt;Tanpa Tuhan, politik dan moralitas akan menjadi pragmatik dan licik, jiwa-jiwa mendadak gersang, bencana pun semakin mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Agama Sebagai Sarana&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Tetapi, yang perlu dicatat saat ini adalah agar agama tetap berada dalam fitrahnya, yakni sebagai kebutuhan pokok manusia dan tidak dianggap sebagai “opium”. Maka tugas kita adalah bagaimana menerjemahkan (memaknai) agama itu sendiri dalam bentuk praktek membuat kebaikan bagi alam semesta (hamemayu hayuning bawono) dalam kehidupan sehari-hari (QS:21:107).&lt;br /&gt;Hal ini penting, agar agama itu tidak kita pandang hanya sekedar ritual rutin yang bisa menyebabkan kita menganggap diri kita ini paling saleh setelah menjalankannya. Jika kita masih seperti itu, mungkin itulah agama yang disebut candu. Wajar, kalau manusia modern pun akan semakin sanksi dan pada akhirnya akan menciptakan agama (aliran-aliran) baru bahkan Tuhan baru.&lt;br /&gt;Jadi, memaknai agama dengan sebenarnya adalah keharusan bagi setiap umat beragama supaya agama benar-benar menjadi suatu kebutuhan manusia yang hanif tersebut. Sehingga keberadaan agama tetap langgeng dan tak tergantikan oleh paham-paham sesat lainya.&lt;br /&gt;Agama bukanlah ”berhala” yang harus disembah. Agama hanyalah sebuah sarana menuju keesaan Allah SWT. Marilah kita hitung, berapa banyak di antara kita yang lebih beriman pada agamanya daripada beriman pada Allah SWT? Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;*) Khoirul Anwar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Warga Komplek Masjid Baiturrahman Gowok Yogyakarta&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1805598293185617123-6170345367138836365?l=mjskolombo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mjskolombo.blogspot.com/feeds/6170345367138836365/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/perlunya-agama.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/6170345367138836365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/6170345367138836365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/perlunya-agama.html' title='Perlunya Agama'/><author><name>Masjid Jendral Sudirman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06343321446060590946</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyK6jNVoVI/AAAAAAAAABk/9wThm5cy0p4/S220/DSC08791.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1805598293185617123.post-8834599730187399493</id><published>2008-02-01T14:56:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T14:58:17.555-08:00</updated><title type='text'>Terminal Cahaya</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Menuju ’Terminal Cahaya’&lt;br /&gt;*) Oleh: Muhammad Mufid&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: AKU hendak menjadikan khalifah di bumi. Mereka berkata, apakah KAU hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih memuji dan mensucikan-Mu. DIA berfirman, Sungguh AKU mengetahui apa yang tidak kamu ketahui&lt;br /&gt;(QS:2:30)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita jenuh menyaksikan bangsa Indonesia yang carut-marut ini. Berbagai ujian datang silih berganti. Seperti bencana alam (banjir, tanah longsor, abrasi dan erosi), busung lapar, pembunuhan, teror bom, hingga gejolak dan kerusuhan di penjuru nusantara.&lt;br /&gt;Puluhan, ratusan bahkan ribuan nyawa telah melayang. Kiamat shughra (kecil) ini seharusnya menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi bangsa Indonesia. Kita yang masih dapat menikmati indahnya kehidupan seharusnya sadar bahwa masih banyak nikmat Allah SWT yang tak terhitung nilainya telah melalaikan kita dari-Nya.&lt;br /&gt;Negara Indonesia mayoritas berpenduduk muslim. Tetapi penyimpangan sosial dari level tertinggi hingga tingkat RT/RW selalu terjadi. Dengan label Islam, segala aktifitas yang berorientasi pada egoisme pribadi dan kelompok seakan-akan menjadi sah.&lt;br /&gt;Ketika rakyat kecil tertimpa bencana dan kenaikan harga-harga seperti saat ini, ketika itu pula para pejabat bermewah-mewah dan minta naik gaji. Malah persoalan kenaikan harga yang menjulang tinggi, kalah oleh persoalan sakitnya seorang mantan presiden. Jelas, kondisi ini semakin menambah catatan buruk para malaikat di atas sana.&lt;br /&gt;Sayang, kondisi kerusakan seperti ini semakin hari kian meningkat drastis. Akankah Allah SWT mengampuni? Coba kita renungkan, jika seluruh bumi Indonesia ditimpa bencana dan kenaikan harga-harga bahan pokok semakin menjadi-jadi, masihkah kita sempat menanyakan di manakah Tuhan yang maha pengasih dan penyayang itu? Manakah Islam yang menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta itu?&lt;br /&gt;Masih pantaskah kita mendapatkan predikat “pangeran” atau khalifatullah fil-ardhi? Jangan-jangan, para malaikatlah yang benar; bahwa manusia kelak akan menjadi perusak (trouble maker) di muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelupaan Sejarah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Allah SWT tidak membiarkan manusia diturunkan ke bumi begitu saja tanpa bekal. Hak istimewa berupa predikat khalifatullah fil-ardhi telah dilabelkan kepada manusia sebagai makhluk tertinggi dibandingkan makhluk lain.&lt;br /&gt;Pada prinsipnya, manusia diciptakan oleh Allah SWT tidak lain sebagai makhluk ‘abdiyah (hamba-Nya) dan khalifiah (pangeran di muka bumi). ‘Abdiyah tidak hanya dimaknai sebatas menjadi hamba yang berserah diri (surrender) dan taat (obedience) melaksanakan ibadah tanpa ada usaha sedikit pun (QS:51:56).&lt;br /&gt;Tetapi, ia memiliki beragam potensi yang menjadi bekal untuk survive mengemban amanah-Nya di muka bumi. Mengenai potensi ini, setiap manusia dikaruniai tiga potensi dasar.&lt;br /&gt;Pertama, ruh. Ruh tercipta di alam ruh dan diberikan potensi ilahiyah-tauhidiyah. Kemudian manusia mengadakan kontrak perjanjian dengan Tuhannya, dan dia bersaksi bahwa Allah SWT adalah Tuhannya (QS:7:172). Di alam ruh ini, nilai-nilai yang bersumber dari asmaul husna ditransfer dalam bentuk potensi ‘abdiyah dan khalifiah.&lt;br /&gt;Kedua, jasad. Jasad ini tercipta di alam dunia. Manusia diberikan potensi-potensi jasadiyah yang terwujud dalam bentuk nafsu sebagai bekal survive jasadiyah sekaligus sebagai wahana bagi ruh untuk mengenal Tuhannya sewaktu hidup di alam dunia.&lt;br /&gt;Ketiga, Aql (akal). Potensi ini berfungsi sebagai penyerap dan pengolah ilmu Allah SWT. Selain itu, akal berfungsi untuk mengintegrasikan proses perkembangan ruh dan jasad. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lainnya.&lt;br /&gt;Gabungan dari ketiga potensi dasar ini membentuk manusia yang berujung pada predikat khalifah. Disadari atau tidak, sebenarnya manusia mewarisi sifat agung Tuhan yang biasanya kita sebut dengan nama-Nya dalam asmaul husna. Potensi ini dapat diaktualisasikan melalui ruh, jasad dan akal.&lt;br /&gt;Maka, sungguh sangat tidak logis jika manusia merusak alam semesta. Apalagi sampai melupakan kewajibannya sebagai seorang hamba yang harus peduli terhadap hamba-hamba yang lainnya. Jika ada manusia yang saling menyakiti dan mergikan, maka itulah sebuah petunjuk bahwa manusia telah menyalahi kodratnya sebagai ‘pangeran’.&lt;br /&gt;Mengapa selama ini manusia lalai akan amanah-Nya? Salah satu penyebabnya adalah karena manusia ternyata telah tidak lagi memahami sejarahnya. Manusia telah menjadi makhluk a historis. Ia lupa akan hakikat penciptaan dirinya, kodratnya, dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan akan ke mana nantinya ia akan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Makna Ibadah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Hakikat tugas manusia ialah beribadah kepada Allah SWT. Ibadah dapat didefinisikan sebagai komunikasi dan dialog kreatif antara dua diri, yaitu diri yang mutlak (Allah SWT) dengan diri yang tidak mutlak/terbatas (manusia).&lt;br /&gt;Keberadaan diri yang mutlak (Allah SWT) bersifat abadi dan tidak ada yang mampu merubah kehendak-Nya, kecuali DIA sendiri. Sedangkan manusia adalah makhluk serba terbatas. Segala kehidupannya telah ditetapkan dan ia tidak berwenang melawannya.&lt;br /&gt;Namun demikian, manusia diberikan otoritas untuk mengubah pola hidup, alur pikir, dan tingkah lakunya, karena Tuhan pun tidak akan merubahnya kalau bukan manusia sendiri yang berusaha (QS:13:11).&lt;br /&gt;Manusia seyogyanya menyesuaikan diri dengan proses penciptaan-Nya sewaktu ia menjalani proses dialog dengan Tuhannya itu. Karena proses penciptaan tidak akan pernah berhenti. Termasuk proses perubahan (evolusi) alam semesta ini.&lt;br /&gt;Untuk dapat berkomunikasi dan berdialog dengan Tuhan, tidaklah terbatas pada ibadah mahdhah, seperti shalat, zakat ataupun puasa. Tetapi ibadah ini dapat diperoleh melalui berbagai macam cara dengan beramal saleh.&lt;br /&gt;Jika manusia tidak mampu menyelaraskan diri dengan alam, melupakan urusan yang berkaitan dengan orang banyak, dan meletakkan kepentingan pribadi di atas segala-galanya, maka dia akan bertentangan dengan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;‘Terminal’ Cahaya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jagad raya ini memiliki kontrol terhadap segala aktifitas kehidupan manusia jika ia bertindak sewenang-wenang. Contoh paling nyata; jika ada seorang pemimpin yang lebih kaya dari rakyatnya, maka rakyat pun akan resah, marah, dan kesal. Itulah kontrol alam semesta itu.&lt;br /&gt;Tanpa disadari, bukan hanya seorang pemimpin zalim itu saja yang akan merasakan kontrol itu, akan tetapi semua manusia. Allah berfirman: telah nyata kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan manusia. Dia akan menimpakan sebagian akibat perbuatannya kepada mereka, agar mereka dapat lembali (QS: 30:41).&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, penyelarasan diri dengan alam semesta, pengedepanan kepedulian sesama, dan pengikisan egoisme kita, dapat kita lakukan dengan mengoptimalkan pemakaian potensi dasar; ruh, jasad, dan akal.&lt;br /&gt;Meskipun ada yang mengatakan bahwa jasad, akal, dan ruh kita itu terbatas, namun, tiga alat itu mutlak tidak boleh kita tinggal dan tanggalkan. Justru karena ruh, jasad, dan akal kita itu terbatas, maka kita harus menggunakannya secara full (penuh, hingga puncak). Kalau tidak full, maka amat sangat rugi kita menjadi khalifah-Nya.&lt;br /&gt;Tiga alat itulah yang nantinya akan mengantarkan kita ke ujung pengembaraan di ’terminal’ cahaya Tuhan. Saat ini, hemat saya, ’terminal’ itu masih sepi. Sedikit sekali yang baru sampai di sana. Itu pun dia masih kebingungan. Mari kita berangkat ke sana. Carilah tiket yang benar, jangan lewat calo! &lt;em&gt;Wallahu a’lam.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;*) Muhammad Mufid&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Staf Pendidik Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1805598293185617123-8834599730187399493?l=mjskolombo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mjskolombo.blogspot.com/feeds/8834599730187399493/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/terminal-cahaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/8834599730187399493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/8834599730187399493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/terminal-cahaya.html' title='Terminal Cahaya'/><author><name>Masjid Jendral Sudirman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06343321446060590946</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyK6jNVoVI/AAAAAAAAABk/9wThm5cy0p4/S220/DSC08791.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1805598293185617123.post-6680006241808919998</id><published>2008-02-01T14:55:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T14:56:17.514-08:00</updated><title type='text'>Hijrah Hangat</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Menghangatkan Makna Hijrah&lt;br /&gt;*) Oleh: Muhammad Syamsul Hadi&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/strong&gt;Adalah sebuah kenyataan bahwa Indonesia, yang penduduknya mayoritas muslim, sedang dilanda krisis multidimensi; krisis keyakinan, kriris moral, krisis politik, dan krisis ekonomi yang terus berlangsung hingga saat ini. Bahkan bisa jadi hingga beberapa tahun ke depan.&lt;br /&gt;Bertepatan dengan masih hangatnya tahun baru Hijriyah 1429 ini, maka marilah momentum ini kita poles menjadi ajang introspeksi diri kita secara kolektif demi memperbaiki atau mereformasi kenyataan krisis tersebut. Oleh karena itu, perlulah kiranya kita menghangatkan kembali makna hijrah dalam konteks kekinian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Muhammad SAW Sang Reformis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Muhammad SAW adalah Rasul dan tokoh yang harus diteladani bagaimana beliau memperbaharui, memperbaiki, atau mereformasi keadaan bangsa Arab yang jauh lebih buruk daripada keadaan Indonesia saat ini.&lt;br /&gt;Seribu tahun lebih yang lalu, Muhammad SAW dan para sahabat, berhijrah dari Makkah ke Madinah, meninggalkan tempat kelahirannya, harta-benda, sanak-keluarga, hingga keluarga terdekat sekalipun.&lt;br /&gt;Mereka hanya membawa keimanannya yang baru, keimanan yang menjanjikan akan kebenaran yang hak. Mereka pun menanggalkan kejahiliahannya. Sampai di Madinah, Rasulullah SAW beserta para sahabat memulai kehidupan baru yang jauh lebih baik daripada kehidupan yang sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Konversi Keyakinan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bagi penulis, hijrah adalah peristiwa yang menunjukkan adanya konversi keyakinan, perbaikan dan penyempurnaan moral, sekaligus reformasi politik. Hijrah dalam bentuk inilah yang seharusnya dilaksanakan saat ini, bukan hijrah yang berarti pindah dari satu kota ke kota yang lain.&lt;br /&gt;Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda: Tidak ada hijrah lagi sesudah fathu Makkah selain jihad, niat, dan apabila diserukan berangkat (pergi berperang) maka berangkatlah (HR. Bukhari).&lt;br /&gt;Arab sebelum Islam adalah masyarakat yang memiliki keyakinan terhadap banyak tuhan (politeisme), penyembah berhala, yang disebut Allah SWT dalam al Qur’an sebagai kaum musyrik.&lt;br /&gt;Diutusnya Muhammad SAW adalah tanda akan beralihnya keyakinan mayoritas masyarakat Arab jahilliyah kepada keyakinan akan keesaan Allah SWT. Realisasi konversi keyakinan ini terlihat jelas dalam peristiwa hijrah Rasulullah SAW dan para sahabat ke Madinah.&lt;br /&gt;Para sahabat, baik dari golongan Muhajirin dan Anshar di bawah bimbingan Rasulullah SAW, merombak dan membangun umat yang sepenuhnya meyakini bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang Maha Esa. Inilah reformasi dan konversi keyakinan itu.&lt;br /&gt;Mungkin ada di antara kita merasa heran dan bisa jadi kemudian akan melontarkan pertanyaan; kami sebagai seorang muslim, yang telah meyakini bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa, apa perlunya bagi kami untuk “mengkonversi” keyakinan lagi?&lt;br /&gt;Ya. Memang orang yang mengaku dirinya muslim tentu telah berulangkali mengucapkan kalimat syahadat. Pertanyaannya adalah apakah hal tersebut sepenuhnya telah kita tanamkan dalam hati dan telah diterapkan dalam perilaku kita?&lt;br /&gt;Perlu diingat, bahwa syirik tidak hanya berarti menyekutukannya dengan berhala, seperti yang pernah dilakukan oleh masyarakat Arab jahiliyah, tetapi juga berarti menyekutukan-Nya dengan apa saja; baik manusia, binatang, harta benda atau makhluk ciptaan-Nya yang lain, termasuk hawa nafsu diri manusia sendiri.&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman dalam QS: 45: 23: Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?&lt;br /&gt;Menyekutukan Allah dengan tuhan hawa nafsu inilah yang sering tidak disadari dan sulit dihindari, walaupun oleh seorang yang mengaku dirinya muslim. Dampak dari penuhanan hawa nafsu, kiranya kita telah mengetahuinya bersama. Mereka yang menuhankan (baca: menuruti) hawa nafsunya, disebut Allah SWT dalam QS: 25: 26: hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).&lt;br /&gt;Oleh karenanya, cukup beralasan bagi penulis untuk menyerukan sebuah reformasi, perbaikan, dan konversi keyakinan umat Islam saat ini; dari keyakinan dan kepatuhan kepada hawa nafsu, menuju kepada keyakinan yang sejati dan sempurna. Keyakinan itu adalah hanya kepada Allah SWT semata. Bukan kepada hawa nafsu, pangkat, nama, jabatan, harta dan lainnya. Maka, bagi kita yang sampai saat ini masih “menyembah hawa nafsu” kita, marilah kita menjadi orang yang “murtad” dari agama hawa nafsu kita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Reformasi Moral&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hijrah juga mempresentasikan reformasi moral. Moral Arab sebelum Islam sangat menyedihkan. Pembunuhan anak perempuan adalah salah satu kebobrokan moral Arab yang sangat fenomenal. Bahkan sahabat Rasulullah SAW yang terdekat pun pernah melakukan hal ini tatkala belum beriman. Beliau adalah Umar bin Khattab, khalifah yang kedua setelah Abu Bakar. Kebobrokan moralnya dan moral bangsa Arab pun lenyap seketika setelah beliau menyadari dan mengikuti dakwah Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;Saat ini degradasi moral kembali terjadi. Seringkali kita mendengarkan peristiwa-peristiwa yang memalukan dan menyedihkan; pembunuhan, pemerkosaan, sex bebas dan masih banyak lagi contoh yang lain. Hal tersebut sesungguhnya tidak hanya dilakukan oleh mereka yang bukan muslim, tetapi juga mereka yang mengaku dirinya seorang muslim.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, hijrah yang relevan untuk direaktualisasikan juga adalah hijrah dari kebobrokan moral yang kembali terjadi saat ini. Reformasi moral perlu diterapkan kembali seperti yang telah direalisasikan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Rasulullah SAW sendiri diutus untuk menyempurnakan akhlak. Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (HR. Al Bazzaar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Reformasi Sosial&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sebelum Islam, Arab terbagi menjadi banyak suku atau kabilah. Seringkali antara kabilah yang satu dengan kabilah yang lain saling memerangi. Muhammad SAW sendiri, sebelum diangkat sebagai rasul, pernah mengikuti peperangan antar suku atau kabilah tersebut.&lt;br /&gt;Permusuhan dan peperangan tersebut segera berakhir setelah Muhammad SAW diutus-Nya. Satu persatu, suku-suku tersebut berhasil didamaikan dan dipersatukan. Awal dari semua ini adalah ketika Rasulullah dan para sahabat berhijrah dari Makkah ke Madinah.&lt;br /&gt;Kaum Muhajirin dan Anshar dipersaudarakan, suku Aus dan Khazraj dan kemudian suku-suku yang lainnya dipersatukan. Perjanjian antara kelompok, suku, agama diselenggarakan. Maka tercatat di dalam sejarah, bahwa Rasulullah SAW bersama dengan kaum muslimin saat itu menunjukkan bukti reformasi politik yang diwujudkan dalam piagam Madinah.&lt;br /&gt;Sikap, sifat, dan watak Rasulullah SAW dalam berhijrah sudah seharusnya diteladani oleh pemimpin Indonesia dan kita semua. Duduk di kursi jabatan, pemerintahan, dan posisi penting lainnya bukanlah sebagai ajang berkompetisi mencari nama ataupun kekayaan, akan tetapi sebagai ajang berkompetisi untuk melayani rakyat.&lt;br /&gt;Itulah hijrah yang sejati. Mudah-mudahan kita semua bisa melaksanakannya, mumpung suasana tahun baru Hijriyah ini masih hangat. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;*) Muhammad Syamsul Hadi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mahasiswa Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1805598293185617123-6680006241808919998?l=mjskolombo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mjskolombo.blogspot.com/feeds/6680006241808919998/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/hijrah-hangat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/6680006241808919998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/6680006241808919998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/hijrah-hangat.html' title='Hijrah Hangat'/><author><name>Masjid Jendral Sudirman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06343321446060590946</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyK6jNVoVI/AAAAAAAAABk/9wThm5cy0p4/S220/DSC08791.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1805598293185617123.post-2858970526807096796</id><published>2008-02-01T14:53:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T14:54:36.168-08:00</updated><title type='text'>Bencana Tutup-buka</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Bencana Di Dua Tutup-Buka Tahun&lt;br /&gt;*) Oleh: Nasrullah&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;Dan jikalau penduduk suatu bangsa itu beriman dan bertaqwa, maka sungguh akan Kami buka kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka telah mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa (beri cobaan) kepada mereka disebabkan atas perbuatannya&lt;br /&gt;(QS: 7: 96)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Tahun silih berganti, bencana tak kunjung reda. Itulah nasib yang dialami bangsa Indonesia. Badai tsunami melanda, gempa bumi, lumpur panas, tanah longsor, kecelakaan transportasi, hingga banjir bandang yang baru-baru ini melanda hampir seluruh pulau Jawa.&lt;br /&gt;Bencana yang terjadi di Indonesia ini terasa ‘istimewa’ bagi kita. Istimewa, karena kita mengalami bencana di dua tutup-buka tahun atau di dua penghujung sekaligus pembuka dua tahun baru. Tahun baru Masehi dan tahun baru Hijriyah. Mengapa terus terjadi bencana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesalehan Ritual dan Kesalehan Natural&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ebit G. Ade, penyanyi yang tentunya sudah tidak asing lagi bagi kita, pernah menyanyikan sebait lagu yang telah menjadi soundtrack bencana. Marilah kita perhatikan isi lagu Berita Kepada Kawan yang dinyanyikannya itu: Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita. Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.&lt;br /&gt;Kutipan lagu tersebut memandang bahwa bencana yang selama ini melanda bangsa kita merupakan suatu peringatan agar kita kembali lebih mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta. Kita juga harus menjaga dan merawat kelestarian dan keseimbangan ekosistem atau lingkungan yang kita huni ini sebagai ciptaan-Nya.&lt;br /&gt;Dengan kata lain, hendaknya kita bisa memiliki kesalehan ritual dan kesalehan natural. Keduanya harus seimbang. Kita dituntut untuk saleh dalam hal ibadah kepada Allah SWT, juga saleh kepada alam. Saleh kepada alam dengan melakukan perbuatan yang tidak merusak dan merugikan alam.&lt;br /&gt;Bencana alam memang sering mendorong kita untuk lebih meningkatkan kesalehan ritual dengan berdzikir dan berdoa, tetapi kita jarang mau sadar bahwa kesalehan natural juga suatu hal yang amat penting. Taubat dan rajin melakukan perintah ritual dianggap sudah bisa menjauhkan kita dari bencana.&lt;br /&gt;Memang sulit diakui bahwa kesalehan natural atau hidup selaras dan seimbang dengan alam dapat membebaskan kita dari bencana alam. Kita tidak pernah mengubah pola hidup kita untuk lebih selaras dan seimbang dengan alam. Kebanyakan dari kita tidak terbiasa memahami bahwa bencana berhubungan dengan perilaku maksiat atau dosa atas alam yang sering dianggap tidak sepenting dosa syirik, mencuri, judi ataupun zina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana Seharusnya Kita?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Bencana atau musibah memang sudah menjadi suratan takdir. Kapan, bagaimana, dan di mana bencana itu akan terjadi, tidak akan ada yang tahu. Namun, sebagai manusia kita dituntut untuk berikhtiar bagaimana untuk dapat mengantisipasi atau menghindari bencana sekaligus berfikir untuk hari esok, di samping bersabar, tabah dan tawakkal atas apa yang terjadi dan menimpa diri kita sekarang ini.&lt;br /&gt;Firman Allah SWT dalam QS: 13: 11 menyebutkan bahwa Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum jika mereka tidak merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;Bencana apapun yang menimpa kita, entah diakui atau tidak, semuanya ini adalah karena ulah perbuatan kita sendiri yang tidak pernah peduli dan cinta alam. Adanya penambangan pasir di daerah terlarang serta pembalakan hutan secara ilegal tanpa mempedulikan dampaknya kepada lingkungan telah menjadi bukti keserakahan dan kemaksiatan kita kepada alam.&lt;br /&gt;Sehingga sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa rusaknya ekosistem yang berdampak pada munculnya bencana alam tidak lain adalah karena tindakan dan keserakahan kita sendiri. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT dalam QS: 30: 41: Telah nampak kerusakan (bencana) di darat dan di laut disebabkan karena ulah perbuatan tangan manusia (yang tidak peduli terhadap lingkungannya.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, jika kita ingin terbebas dari bencana alam, maka hendaknya kita harus menyadari bahwa menjaga kelestarian dan keseimbangan alam juga merupakan hal yang penting di samping taat dan patuh menjalankan ibadah ritual kepada Allah SWT. Itulah kesalehan ritual sekaligus juga kesalehan natural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bencana di Dua Akhir-Awal Tahun Baru&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Perlu diingat bahwa di balik semua bencana pasti terdapat pelajaran yang dapat kita ambil hikmahnya. Segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah milik Allah SWT dan semuanya akan kembali kepada-Nya. Secara bijak hendaknya kita mampu bertahan untuk tidak ber-negative thinking atas semua apa yang telah dikehendaki-Nya.&lt;br /&gt;Kehendak Allah SWT tidak sia-sia. Semua pasti ada manfaatnya dan itu kembali kepada kita sebagai hamba-Nya. God has his own answer for everything he’s done. Demikian kata orang bijak. Allah pasti mempunyai maksud dan rencana baik di balik semua itu. Percaya atau tidak.&lt;br /&gt;Maka dari itu, bertepatan dengan telah datangnya dua tahun baru; Masehi dan Hijriyah, marilah momentum ini kita jadikan sebagai hari refleksi diri. Sebagaimana disebut di atas, bencana di Indonesia ini terjadi di dua tutup-buka tahun baru yang berdekatan. Pertama tahun baru Masehi. Kedua, tahun baru Hijriyah. Seharusnya kita menyadari arti ini semua.&lt;br /&gt;Pertama, bahwa tahun Masehi itu kita maknai sebagai tahun duniawi. Mengapa bencana turun di akhir dan awal tahun duniawi? Jawabannya karena secara duniawi, kita semua pasti bermasalah. Entah apa masalahnya, yang jelas ini menjadi bukti bahwa kita memang sedang menjadi orang yang tidak baik secara duniawi. Karena itulah mungkin mengapa bencana ini turun.&lt;br /&gt;Kalau kita tidak bermasalah secara duniawi, mengapa bencana itu muncul di penghujung dan pembuka tahun Masehi? Bisa jadi, kita ini tergolong orang yang serakah dalam hal duniawi kita. Kita tidak segan melakukan segala cara untuk menggapai kehidupan duniawi kita.&lt;br /&gt;Kedua, tahun Hijriyah dapat kita maknai sebagai tahun ukhrowi. Jika bencana turun pada penghujung dan pembuka tahun Hijriyah, ini berarti bahwa kita juga sedang bermasalah secara ukhrowi. Artinya, diri kita ini sedang tidak beres dalam hal urusan-urusan ukhrowi kita.&lt;br /&gt;Kalau kita beres secara ukhrowi, mana mungkin bencana akan dan terus turun di akhir dan awal tahun Hijriyah ini. Bisa jadi, kita memiliki pandangan hidup yang tidak tepat, kerap melupakan Tuhan, dan merasa diri kita ini paling baik imannya.&lt;br /&gt;Marilah kita renungkan bahwa semua itu harus kita rubah. Tepat di akhir dan awal, atau di ambang dua tahun baru; Masehi dan Hijriyah ini. Setidaknya kita mau melihat dan merubah diri kita. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;*) Nasrullah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Mahasiswa Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Sunan KalijagaYogyakarta&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1805598293185617123-2858970526807096796?l=mjskolombo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mjskolombo.blogspot.com/feeds/2858970526807096796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/bencana-tutup-buka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/2858970526807096796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/2858970526807096796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/bencana-tutup-buka.html' title='Bencana Tutup-buka'/><author><name>Masjid Jendral Sudirman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06343321446060590946</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyK6jNVoVI/AAAAAAAAABk/9wThm5cy0p4/S220/DSC08791.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1805598293185617123.post-3035482030158894407</id><published>2008-02-01T14:50:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T14:52:20.629-08:00</updated><title type='text'>Rila</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Musibah Itu Jalan Menuju Tuhan&lt;br /&gt;*) Oleh: Wantini&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;”Rila Lamun Ketaman Ora Getun Lamun Kelangan”&lt;br /&gt;(Filosofi Jawa)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/em&gt;Akhir-akhir ini, negara Indonesia ini kerap diberikan musibah oleh Allah SWT di sana-sini. Siapa kira, jika ternyata kita semua harus menutup akhir tahun 2007 ini dengan airmata. Bermacam musibah datang silih berganti. Bahkan terkadang datang dalam waktu yang bersamaan.&lt;br /&gt;Menghadapi Musibah&lt;br /&gt;Bagaimana seharusnya menghadapi musibah? Menghadapi musibah sama artinya dengan menghadapi kehidupan ini. Karena telah tertulis di dalam sejarah, bahwa dunia ini selalu saja dimulai evolusi peradabannya dari sebuah musibah.&lt;br /&gt;Contohnya, banjir bandang yang terjadi pada masa Nabi Nuh AS. Peristiwa itu adalah pertanda telah dimulainya babak baru sejarah bumi dan persebaran manusia ke dalam benua-benua.&lt;br /&gt;Maka, kepiawaian kita menghadapi musibah merupakan pangkal tolak kebangkitan kita dalam menjalani kehidupan ini. Filosofi Jawa yang saya kutip di atas setidaknya membantu kita dalam menghadapi musibah yang datang menerpa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Musibah di Mata Orang Jawa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Secara terminologi, jika ungkapan Jawa yang saya kutip di atas diartikan, masing-masing kata memiliki arti ikhlas (rila), jika (lamun), terkena (ketaman), tidak (ora), menyesal (getun), jika (lamun), dan kehilangan (kelangan).&lt;br /&gt;Apabila diartikan secara utuh, ungkapan tersebut bermakna; ikhlas jika tertimpa musibah, tidak menyesal jika kehilangan. Dengan demikian, kita dianjurkan untuk hidup berserah diri dan pasrah terhadap kehendak Allah SWT.&lt;br /&gt;Itulah sikap hidup orang Jawa yang mengakui bahwa hidup pasti mengalami owah gingsir (selalu berubah). Bahagia dan celaka itu pakaiannya orang hidup. Gusti mboten sare (Tuhan tidak tidur), tetapi selalu mengetahui semua yang terjadi pada siapapun juga. Itulah sikap yang mengajarkan agar kita selalu bersyukur dan tidak lupa diri sewaktu menerima kebahagiaan.&lt;br /&gt;”Syukur” menunjukkan bahwa kita memang tidak punya apa-apa di dunia ini. Maka dari itu, apa yang kita sebut ’kehilangan (kelangan)’ sebenarnya tidak ada, sebagaimana ’penyesalan (getun)’ pun juga tidak ada. Karena Gusti Allah-lah Sang Pemilik apa yang kita anggap milik kita.&lt;br /&gt;Boleh-boleh saja merasa kehilangan dan merasa menyesal, karena itu adalah manusiawi. Hanya saja, hendaknya kita tidak larut di dalam hilang dan sesal yang terlalu dalam dan jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jiwa yang Sumeleh&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Benarkah jauh di lubuk hati kita terdapat impian untuk memiliki rumah besar, mobil mewah, dan uang yang bisa menjamin kehidupan? Benarkah kita berharap bisa sukses entah bagaimana caranya? Apakah kita diam-diam menginginkan pekerjaan lain dan tidak ikhlas terhadap profesi kita hari ini? Jelasnya, apakah kita selalu mengharapkan agar musibah tidak menghampiri kita?&lt;br /&gt;Setiap orang pasti selalu berharap tidak mengalami musibah yang dapat menimbulkan penderitaan atau kesedihan diri, keluarga dan masyarakatnya. Musibah pun kerap dianggap sebagai kecelakaan.&lt;br /&gt;Namun, tentu Tuhan berkehendak lain saat Dia memberikan musibah pada kita. Jelas, kehendak-Nya adalah menguji kesabaran dan keteguhan iman kita melalui musibah yang diberikan-Nya kepada kita, keluarga kita, ataupun bangsa kita.&lt;br /&gt;Pada saat kita tertimpa musibah kita dianjurkan untuk tetap tabah dengan berserah diri kepada Tuhan, mampu berdiri tegak, tidak mudah diombang-ambingkan oleh keadaan yang menyulitkan, dan tidak berputus asa. Itulah jiwa yang sumeleh (berserah diri secara ikhlas pada kehendak Tuhan).&lt;br /&gt;Seperti diriwayatkan oleh at-Tirmidzi: ”Dan bersabda Nabi SAW: Sesungguhnya besarnya pahala dengan besarnya cobaan. Dan sesungguhnya Allah yang Maha Tinggi lebih mencintai kaumnya dengan mengujinya. Barang siapa ridlo (ikhlas) maka baginya keridlaan Allah dan barang siapa tak suka (mengeluh) maka baginya Allah tidak menyukainya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Siap Nikmat, Siap Melarat&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Tentu kita semua siap untuk menghadapi kenikmatan, kebahagiaan, dan kesuksesan itu. Namun, apakah kita juga siap saat kita ternyata ”melarat”? Maka, di antara semua kemungkinan itu yang hendaknya disiapkan dalam pikiran dan mental adalah jika Allah SWT memberikan ”kemelaratan” kepada kita.&lt;br /&gt;Kalau dalam hidup kita dianugrahi kemiskinan sampai maut menjemput, itu adalah rezeki yang paling mahal. Sebab orang lain belum tentu sanggup menahan deraan kemiskinan. Sementara kita mampu.&lt;br /&gt;Itulah rezeki yang lebih berharga dari segalanya, yaitu saat Allah SWT memilihkan rezeki yang tidak berupa kekayaan dunia, tetapi berupa cinta dan penerimaan-Nya dan penerimaan kita atas-Nya.&lt;br /&gt;Seluruh isi di dunia ini tidak memadai untuk digali sebagai tambang kebahagiaan dan ketentraman. Karena pencapaian bahagia dan tentram tidak terletak di luar diri kita, melainkan berbenih dan tumbuh kembang di dalam diri kita, di dalam hati yang selesai dan cara berpikir yang tepat terhadap kenyataan.&lt;br /&gt;Orang sering merasa shocked (tertekan) ketika menerima musibah yang datangnya tiba-tiba. Ketertekanan itu boleh-boleh saja. Asal tidak larut. Karena musibah yang datang tiba-tiba itu telah ginaris (ditakdirkan) oleh Allah SWT. Hanya penyampaiannya saja yang mendadak. Itu pun karena kita tidak siap saja. Hingga kita menyebutnya; ”datang tiba-tiba”.&lt;br /&gt;Hemat saya, dalam rencana Allah, semua peristiwa tidak ada yang terjadi secara mendadak. Bukan semendadak HP kita yang kita yakini ”tiba-tiba” hilang. Semua telah direncanakan. Kita tinggal menerimanya. Termasuk soal musibah yang bertubi-tubi datang di Indonesia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menganggap ”Azab”: Menuju Keimanan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Bagi saya, semua musibah haruslah kita anggap sebagai ”azab Tuhan” saja, bukan cobaan Tuhan. Karena dari anggapan itu, mudah-mudahan kita akan dapat yakin kalau diri kita ini semakin hari semakin ”kurang ajar” dan berdosa kepada Tuhan. Maka sudah seharusnya kita memperbaiki diri dan bertobat!&lt;br /&gt;Janganlah musibah itu kita anggap sebagai cobaan Tuhan, meski boleh-boleh saja. Karena dari anggapan itu, bisa-bisa kita menjadi pelagak yang so’-so’an, yang yakin kalau kita ini memang orang yang imannya tinggi!&lt;br /&gt;Hingga kita pun menganggap kalau kita ini adalah orang yang paling beriman, yang layak dan sedang diuji Tuhan. Padahal, sebenarnya tidak! Karena setiap kita merasa paling beriman, saat itulah kita telah menunjukkan ketidakberimanan kita.&lt;br /&gt;Kalau pun memang kita ini beriman, marilah kita anggap bahwa kita ini bukan orang yang cukup baik imannya. Karena dengan begitu, kita memiliki cukup alasan untuk memperbaiki diri kita.&lt;br /&gt;Salah satu jalan perbaikan iman itu adalah dengan ’bermusibah-ria’. Itulah jalan menuju Tuhan. Dan, jalan menuju Tuhan itu adalah jalan kebangkitan peradaban dan kebudayaan suatu bangsa. Maukah kita menapaki jalan itu? Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;*) Wantini&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Staf Pendidik TPA Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1805598293185617123-3035482030158894407?l=mjskolombo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mjskolombo.blogspot.com/feeds/3035482030158894407/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/rila.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/3035482030158894407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/3035482030158894407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/rila.html' title='Rila'/><author><name>Masjid Jendral Sudirman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06343321446060590946</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyK6jNVoVI/AAAAAAAAABk/9wThm5cy0p4/S220/DSC08791.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1805598293185617123.post-3861618378887321884</id><published>2008-02-01T14:47:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T14:49:50.109-08:00</updated><title type='text'>Hari Ibu</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt; &lt;strong&gt;Hari Ibu: Renungan Untuk Semua&lt;br /&gt;*) Oleh: S. Roudlotul Jannah Ulfa&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu&lt;br /&gt;(QS: 31: 14)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sosok ibu hanya pantas ditempatkan dalam mihrab kehormatan. Sosok ibu disebut sebagai pemilik surga yang terletak di bawah telapak kakinya. Membentak ibu adalah amal beresiko tinggi, dan mendurhakai orangtua adalah sikap yang keliru.&lt;br /&gt;Telah banyak cerita rakyat yang menunjukkannya. Ada kisah Malin Kundang yang dikutuk jadi batu, ada kisah Sampuraga yang terbenam dalam banjir ASI, dan ada Sangkuriang yang tertimbun perahu.&lt;br /&gt;Begitu mulianya sosok Ibu, hingga setiap tanggal 22 Desember, di Indonesia selalu diperingati sebagai Hari Ibu. Kita tahu betapa istimewanya hari Ibu ini, karena selama bertahun-tahun kita menghidupi Indonesia ini, tidak ada setanggal pun yang disisakan di sana untuk diperingati sebagai Hari Ayah. Uniknya, para Ayah pun tidak pernah protes. Itulah keramat dan berkahnya Ibu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hari Ibu Bukan Mother's Day&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Hari Ibu sering disamakan dengan Mothers Day yang ada di Eropa. Padahal, jika ditilik ulang secara historis, Mother's Day itu berbeda dengan Hari Ibu. Mothers Day merupakan sejarah yang diadopsi dari mitologi Yunani, yakni sebagai hari yang digunakan untuk menyembah Dewi Rhea, ibu dari semua dewa. Saat itu, Mothers Day diperingati pada minggu kedua di setiap bulan Maret. Tradisi ini diikuti lebih dari 78 negara di dunia.&lt;br /&gt;Sedangkan Hari Ibu di Indonesia, berakar dari sejak dimulainya pertemuan para perempuan yang merupakan perwakilan dari organisasi sosial yang ada pada waktu itu, yang diadakan di Yogyakarta pada tahun 1928. Tempat pertemuan itu kelak dinamakan Mandala Bakti Wanitatama, yang terletak di Jln. Solo, Yogyakarta. Setelah itu, kita pun mengenal apa yang kita sebut sebagai Hari Ibu hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengabdian Kedua&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah opini yang mengatakan kalau peringatan Hari Ibu adalah hal yang berlebihan karena menjadikan pemeringatnya sebagai orang yang ”menyembah” Ibu. Namun, anggapan ini jelas keliru. Karena Hari Ibu bukan diperingati sebagai hari untuk menyembah Ibu. Melainkan untuk menghormati Ibu.&lt;br /&gt;Karena sudah selayaknya jiwa, raga, dan pengabdian kita sebagai manusia hanya diberikan untuk Allah SWT semata. Namun, kita pun harus sadar, kalau Allah juga memerintahkan kita untuk selalu berbuat baik pada orangtua kita sebagaimana ayat yang saya kutip di atas. Ternyata, di antara kedua orangtua, Ibu-lah yang terutama.&lt;br /&gt;Setiap Allah berfirman untuk selalu berbuat baik kepada kedua orangtua, selalu di ayat itu disertakan ayat untuk tidak menyekutukan-Nya. Kemudian baru diikuti oleh perintah untuk selalu berbuat baik kepada kedua orangtua.&lt;br /&gt;Mengapa Ibu? Karena dalam ayat yang menganjurkan penghormatan orangtua, kata dan kalimat dalam ayat itu menggambarkan perjuangan Ibu yang sangat besar. Mulai dari mengandung seonggok janin selama 9 bulan 10 hari, melahirkannya, menyusui tanpa lelah serta menyapihnya, hingga membesarkannya.&lt;br /&gt;Itu baru apa yang ada di dalam ayat. Belum lagi apa yang kita alami sehari-hari. Misalnya, Ibu akan selalu terbangun saat mendengar tangisan kita di tengah malam tanpa menghiraukan rasa kantuk. Ibu juga yang memasak makanan untuk kita, mencuci pakaian, dan lain sebagainya. Itulah pertaruhan nyawa seorang Ibu. Maka durhaka kepada kedua orangtua terutama Ibu, adalah dosa terbesar setelah syirik.&lt;br /&gt;Tidak heran jika Rasulullah SAW bersabda, dari Abu Hurairah RA berkata: datang seorang sahabat kepada Rasulullah SAW kemudian dia berkata: wahai Rasulullah! Siapakah yang harus saya hormati di dunia ini? Rasulullah menjawab; Ibumu. Kemudian siapa lagi wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab; Ibumu. Kemudian siapa lagi wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab; Ibumu. Kemudian siapa lagi wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab; Ayahmu (HR.Bukhori)&lt;br /&gt;Namun, kita sebagai anaknya kadang lalai akan semuanya, sehingga setelah dewasa kita lebih memilih untuk menyayangi anak, istri, pacar, atau suami kita. Mungkin, jangan-jangan kita juga lupa untuk sekedar mendo'akan orangtua kita. Mudah-mudahan tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dunia Ibu, Dunia Perempuan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ibu adalah makhluk berjenis kelamin perempuan. Karenanya, dunia Ibu adalah dunia kaum perempuan. Maka, janganlah kita lupa bahwa di Hari Ibu, haruslah kita renungkan apa yang terjadi di dalam dunia perempuan. Kerap kita melihat dunia kaum perempuan saat ini amat sepi dari penghormatan dan kasih sayang.&lt;br /&gt;Banyak sekali di antara masyarakat kita yang masih beranggapan bahwa dunia perempuan itu hanya berkisar di sekitar dapur, sumur, dan kasur. Seolah-olah perempuan itu tidak boleh tampil keluar dari dunianya, sambil tetap berada di dalamnya.&lt;br /&gt;Selain itu, kalau kita amati peristiwa akhir-akhir ini, kaum perempuan acapkali berada dalam posisi yang dirugikan. Ada yang menjadi korban perdagangan (trafficking), korban kekerasan dalam rumah tangga, korban ”tusuk”-hamil-lari (baca: diperawani lalu ditinggal!), objek cinta ”coba-coba” para lelaki, (di)jadi(kan) TKW ilegal, hingga menjadi objek iklan komersial yang memamerkan bagian tubuhnya yang sensitif.&lt;br /&gt;Apa yang ada di dalam benak kita saat melihat realitas itu? Marilah kita sadari bahwa semua itu merupakan cerminan bagi tatanan sosial kita yang belum menyediakan penghormatan yang agung terhadap kaum perempuan alias kaum Ibu.&lt;br /&gt;Sadarlah! Bahwa perempuan adalah (calon) Ibu yang melahirkan semua jenis kelamin. Tidak hanya lak-laki. Tapi semua! Dan, ingatlah, bahwa semua orang sama di mata Allah SWT. Maka perempuan atau kaum Ibu haruslah kita pandang tanpa melihat jenis kelaminnya, suku, nasab, atau hartanya.&lt;br /&gt;Sadarlah! Bahwa Islam sedari awal datang untuk mengangkat martabat perempuan yang pada zaman jahiliah, hanya dijadikan sebagai barang dagangan dan tidak diakui perannya.&lt;br /&gt;Maka, jika Anda memperdagangkan perempuan, menyiksanya, tidak memberikannya peran, serta merugikannya, maka itu artinya Anda telah berbuat durhaka pada (kaum) Ibu (Anda). Itulah perbuatan orang Jahiliyah!&lt;br /&gt;Kepada kaum Ibu: janganlah engkau mau kalau kau ditipu cinta para lelaki, dikerasi, dibayar untuk menjadi bintang iklan –yang sebenarnya engkau telah– (di)komersial(isasi), dijual, atau dirayu untuk menjadi TKW ilegal!&lt;br /&gt;Jangan dilawan! Tetapi, berikanlah penerangan kepada semuanya dengan kelembutanmu, bahwa perempuan adalah makhluk yang harus dihormati dalam kesetaraan di dalam kehidupan ini. Dan, itu diperintahkan di dalam semua Kitab Suci! Wallahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;*) S. Roudlotul Jannah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Penulis adalah Aktivis Center for Emansipatorial Women (CEWe’) Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1805598293185617123-3861618378887321884?l=mjskolombo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mjskolombo.blogspot.com/feeds/3861618378887321884/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/hari-ibu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/3861618378887321884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/3861618378887321884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/hari-ibu.html' title='Hari Ibu'/><author><name>Masjid Jendral Sudirman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06343321446060590946</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyK6jNVoVI/AAAAAAAAABk/9wThm5cy0p4/S220/DSC08791.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1805598293185617123.post-2074918146839147080</id><published>2008-02-01T14:45:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T14:47:15.198-08:00</updated><title type='text'>Pesta Lupa</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Malam Tahun Baru: Sebuah Pesta Lupa Diri&lt;br /&gt;*) Oleh: Ahmad Sahide&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.&lt;br /&gt;(QS: 59: 18-19)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Terhitung sejak tahun 2004, bangsa Indonesia terus saja diterpa berbagai musibah dengan variasi yang unik. Mulai dari badai Tsunami, gempa bumi, banjir, merajalelanya virus flu burung, menjangkitnya busung lapar dan polio, gunung meletus, “musibah” kenaikan harga BBM dua kali dalam setahun, luapan lumpur, longsor, kebakaran dan pembalakan hutan, dan masih banyak lagi. Belum lagi bencana-bencana kecil seperti selokan dan WC kita yang mampet.&lt;br /&gt;Apakah semua bencana yang telah terjadi itu sudah selesai? Belum. Karena semuanya malah menyisakan begitu banyak ”bencana sosial” yang menyebabkan bangsa Indonesia ini semakin menderita.&lt;br /&gt;Derita bangsa itupun nampaknya belum menjadi pelajaran bagi kita untuk segera bertobat. Lihat dan tunggu saja malam tahun baru yang datang beberapa hari lagi. Umumnya kita tanpa merasa berdosa, mungkin telah berniat untuk merayakan pesta malam tahun baru dengan cara yang hambur, hambar, boros, dan menguras energi multidiri bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;’Agama Pesta’&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Bagi kebanyakan kita di negeri ini, perayaan tahun baru dari tahun ke tahun seolah telah menjadi tradisi yang tidak boleh ditinggalkan. Perayaan itu ada yang berbentuk pesta kembang api, konser musik, hingga sex party.&lt;br /&gt;Belum jelas berapa karung uang dihabiskan dalam semalam. Hanya saja, saya yakin di malam itu jelas akan habis ratusan juta rupiah lebih, termasuk yang akan dikorupsi. Bahkan setiap pemerintah daerah di tempat masing-masing pun kabarnya jauh-jauh hari telah mengalokasikan anggaran pengeluaran khusus buat merayakan pesta perayaan di malam tahun baru.&lt;br /&gt;Ada apa di balik malam terakhir bulan Desember itu? Apakah malam itu mengandung potensi mistik yang cukup mengundang berkah bagi siapa saja yang merayakannya? Apakah dengan pesta itu perut otomatis menjadi kenyang dan para pengemis cilik bisa sekolah gratis? Apakah pesta itu juga adalah cara jitu untuk menemukan solusi dari permasalahan bangsa kita yang multicomplicated ini?&lt;br /&gt;Secara pribadi, entah Anda setuju atau tidak, saya malah mengendus suatu simpulan bahwa pesta perayaan malam tahun baru itu tak lebih merupakan suatu pesta perayaan lupa diri sesosok manusia dan sebuah bangsa bernama Indonesia.&lt;br /&gt;Ya, lupa diri. Lupa diri yang diakibatkan oleh candu ’agama’ pesta. Istilah kasarnya; ngga’ tahu diri. Awalnya ia bukanlah sebentuk lupa. Tapi, hanya sekedar hasrat berhibur kita yang alami saja.&lt;br /&gt;Namun, entah mengapa hasrat berhibur itu justru masih saja melekat dan bahkan menjadi-jadi saat bangsa Indonesia ini sedang krisis. Lihatlah, selalu masih saja ada kembang api diledakkan dan poya-poya dibudayakan di antara harga sembako yang kian mematikan, hutang Negara yang semakin menggunung, insting korupsi yang megal-megol, dan ketdakpercayaan sosial sedang berkecamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lupa Diri&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Setiap tahun di malam tahun baru, kita kerap bermewah-mewah, berboros-boros, dan berpoya-poya. Padahal kita tahu bahwa bermewah-mewah itu tidak cukup membantu kita untuk cepat menyelesaikan permasalahan-permasalahan bangsa.&lt;br /&gt;Berpesta di malam itu membuat otak kita mati-pikir dan mati-lihat akan jutaan permasalahan yang sedang dihadapi bangsa ini. Itu semua mendalilkan bahwa kita semua sedang lupa diri. Dan, lupa diri itu merupakan bentuk lain dari lupa ‘Tuhan’. Kaum sufi sering berkata bahwa barangsiapa yang tahu dirinya, maka ia akan tahu Tuhannya.&lt;br /&gt;Nah, kita tidak sedang tahu Tuhan. Kita lupa. Tuhan telah tiada dalam ingatan kita. Kita benar-benar menjadi pembangkang dalam dunia yang sempit. Kalau dunia itu luas, lupa kita itu masih mendingan. Namun, ini begitu sempit.&lt;br /&gt;Dunia yang sempit itu adalah dunia kita yang gemar bermewah-mewah dan berpoya-poya di malam tahun baru yang tidak istimewa. Memang sebenarnya tidak ada yang aneh di malam itu. Sebab kita semua tentu sepakat kalau malam itu tidak berbeda dengan malam-malam sebagaimana biasanya. Namun, kita lupa. Kita merasa bebas melakukan apa saja yang kita mau. Terutama saat kita ingin bersenang-senang.&lt;br /&gt;Macetnya jalanan dan ramainya tempat-tempat seperti pantai, alun-alun, Monas dan Ancol di Jakarta, adalah saksi hidup lupa diri kita itu. Ini terjadi dari tahun ke tahun. Orang-orang berkumpul di sana untuk bersantai dan menghabiskan uang. Dan, uang pun hangus dalam petasan yang diledakkan, minuman alkohol yang ditenggakkan, tawa yang dilepaskan, jingkrak yang dihentakkan, joget yang digoyangkan, dan lagu-lagu yang dinyanyikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Warna Baru&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sadar atau tidak, kita berkewajiban untuk merubah itu semua. Kita harus mampu memberikan warna baru buat malam itu. Berani melawan arus. Bukan mengambil warna yang sudah ada. Inilah yang dikatakan oleh Ali Syari’ati, bahwa manusia ideal adalah manusia yang mampu membentuk peradaban, bukan yang terbentuk oleh peradaban.&lt;br /&gt;Pertimbangan saya sederhana. Lihatlah permasalahan bangsa ini yang kian hari kian menumpuk. Ini bukan so’-so’an. Saya hanya ingin mengatakan bahwa; sungguh sayang kalau uang yang berputar di negeri ini harus hangus bersama petasan dan kembang api yang tidak mengenyangkan perut, menurunkan harga sembako, meleburkan dosa, dan apalagi mendekatkan kita kepada Tuhan!&lt;br /&gt;Malam tahun baru akan lebih bermakna jika ia dijadikan momen untuk refleksi diri demi masa depan yang lebih cerah. Marilah kita berdialog dengan diri kita sendiri selaku individu, masyarakat, dan bangsa.&lt;br /&gt;Dengan cara ini kita akan semakin jeli membaca dan melihat realitas yang ada di sekitar kita. Penyelesaian masalah dengan tepat harus berangkat dari pemahaman realita yang ada. Salah membaca realita, berarti sulit melahirkan solusi yang benar.&lt;br /&gt;Pesta di malam tahun baru itu tidak haram. Karena secara khusus tidak ada ayat Alquran atau Hadits Nabi SAW yang melarangnya. Saya hanya mengajak kita untuk kembali berpikir sejenak tentang mana yang lebih pas, penting, dan konstruktif untuk kita lakukan. Renungkanlah itu!&lt;br /&gt;Kita tunggu saja apa yang terjadi di malam tahun baru nanti. Jika kita masih (ber)pesta lupa diri seperti biasanya, maka nampaknya bermacam bencana alam dan bencana sosial akan terus menguntit bangsa ini. Entah sampai kapan. &lt;em&gt;Wallahu a’lam&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;*) Ahmad Sahide&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Mahasiswa Hubungan Internasional Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1805598293185617123-2074918146839147080?l=mjskolombo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mjskolombo.blogspot.com/feeds/2074918146839147080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/pesta-lupa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/2074918146839147080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/2074918146839147080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/pesta-lupa.html' title='Pesta Lupa'/><author><name>Masjid Jendral Sudirman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06343321446060590946</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyK6jNVoVI/AAAAAAAAABk/9wThm5cy0p4/S220/DSC08791.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1805598293185617123.post-7393434798735625217</id><published>2008-02-01T14:43:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T14:45:04.512-08:00</updated><title type='text'>Makna Qurban</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt; &lt;strong&gt;Memaknai Qurban&lt;br /&gt;*) Oleh: Lutsfi Siswanto&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (QS: 37: 102)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal beberapa hitungan hari lagi kita akan merayakan hari besar Idul Adha. Alkisah, Idul Adha adalah hari yang menandai peristiwa ujian berat yang harus dihadapi oleh Nabi Ibrahim AS pada masa itu. Sebuah pertaruhan hidup yang sulit.&lt;br /&gt;Bagaimana tidak, karena saat itu Ibrahim AS dihadapkan pada pilihan antara mengedepankan atau mengorbankan kepentingan pribadi, antara cinta pada Allah atau cinta pada anaknya, Ismail. Bagi manusia yang normal, pilihan ini tentunya akan berujung pada pergulatan batin yang tak berkesudahan. Tegakah seorang ayah menyembelih putra kesayangannya?&lt;br /&gt;Alhasil, Ibrahim menjatuhkan pilihannya pada kepentingan Allah SWT. Ia pun menyembelih Ismail. Ismail pun rela disembelih, karena ia tahu bahwa cinta kepada Allah itu melebihi segala-galanya.Tatkala pisau tajam Ibrahim hampir menyentuh leher Ismail, ternyata Allah SWT berkehendak lain. Ismail pun diganti dengan seekor domba. Hal ini sebagaimana tercatat dalam QS: 37: 107: &lt;em&gt;Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menyembelih Egoisme&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dialami Nabi Ibrahim AS tentunya tidak terulang kembali karena kita sudah berada pada ruang dan waktu yang berbeda. Namun yang menjadi tugas wajib kita saat ini adalah menjalani lakon pengorbanan Ibrahim AS tersebut, yaitu pengorbanan untuk mengenyahkan berhala dan pemberhalaan kepentingan yang ada di dalam diri kita sendiri.&lt;br /&gt;Kegundahan Ibrahim AS yang hendak memilih antara menyembelih Ismail atau tidak, merupakan simbol dari adanya sesuatu yang disebut ’berhala kepentingan pribadi’ di dalam diri setiap manusia yang normal. Ternyata Ibrahim AS mampu menyingkirkan kepentingan pribadi duniawi itu. Karena ada kepentingan yang lebih mulia, yaitu kepentingan Allah SWT. Jelas, hal itu pun butuh pengorbanan.&lt;br /&gt;Maka pelajaran utama yang bisa kita petik dari kisah Ibrahim AS adalah semangat untuk ikhlas dalam mengorbankan kepentingan pribadi, dan menjalani hidup hanya demi menegakkan kepentingan Allah SWT. Karena kepentingan pribadi sangat mungkin menjadi berhala yang lebih kita agungkan ketimbang Allah SWT.&lt;br /&gt;Kepentingan kelompok atau golongan juga merupakan wujud kepentingan pribadi. Karena itu, semuanya hendaknya mampu kita korbankan. Apalagi kalau kepentingan pribadi dan kelompok itu ternyata menyusahkan, merendahkan, dan menghina orang lain.&lt;br /&gt;Untuk menuju arah itu, yaitu untuk mengedepankan kepentingan Allah SWT, setiap kita pasti dan mesti dihadapkan pada sebuah batu ujian guna memperteguh apa yang kita yakini. Seandainya sudah diuji, kita pun tidak boleh mengharapkan imbalan apa yang ada di balik ujian itu. Karena imbalan yang sering kita percayai dan sering kita bayangkan, adalah mutlak urusan Allah SWT. Saat kita menunggu-nunggu imbalan itu, berarti kita telah mengedepankan kepentingan kita untuk mendapatkan imbalan, dan kita pun mengharapkan selain Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berhala Baru&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Nabi Ibrahim jelas sekali tergambar bahwa yang dimaksud dengan berhala adalah men(T)uhankan atau mendewakan (menyembah) patung yang berupa batu dan benda-benda lainnya. Namun, saat ini, berhala-berhala itu telah berubah menjadi patung raksasa baru dengan varian-varian yang lebih menarik dan berakibat pada prilaku konsumtif, hedonis (berfoya-foya), dan egoisme (tidak pernah peduli orang lain).&lt;br /&gt;Selain itu, patung-patung raksasa ini sangat mudah kita jumpai tumbuh dengan seenaknya, misalnya supermarket, Mall, alat teknologi tinggi, partai politik, organisasi, hingga patung di dalam diri kita sendiri yang berupa sifat egois, merasa benar sendiri, dan lainnya. Kita pun mungkin lebih cinta pada semua patung itu. Bahkan semuanya menjelma lebih dekat dengan diri kita, yakni berupa berhala kejumudan, kebodohan, dan taqlid buta terhadap diri dan golongan hingga men(T)uhankannya.&lt;br /&gt;Hal ini sering terjadi. Hingga berakibat pada kesalahpahaman yang disengaja, saling curiga, caci maki, rasisme, atau bahkan yang lebih ekstrem bermuara pada pertumpahan darah. Lihatlah negeri kita yang bernama Indonesia yang hingga kini belum bisa beranjak dari keterpurukan krisis multidemensi. Ahlak korupsi menjadi tuntunan, penggusuran orang-orang miskin menjadi hiburan, perkelahian menjadi kearifan budaya, perusakan lingkungan menjadi trend, dan manipulasi dan sogok-menyogok menjadi tradisi.&lt;br /&gt;Bukankah hal itu menjadi bukti bahwa di dalam kehidupan kita sehari-hari, kita masih belum bisa mengorbankan sifat iblis materialistis, kepentingan pribadi dan kelompok kita yang mau menang sendiri? Saat kita mengatakan bahwa menyembah patung itu syirik, mengapa kita lupa untuk melihat sifat egois kita yang sering kita sembah dan pentingkan?&lt;br /&gt;Mengapa kita lebih ingin memperkaya diri kita hingga kita pun korupsi? Bukankah lebih baik kalau keinginan untuk korupsi itu kita sembelih saja demi kepentingan bersama? Itulah makna Idul Adha. Alangkah bijaksananya pula bila penyembelihan hewan kita iringi dengan menyembelih sifat-sifat buruk yang melekat dalam diri kita. &lt;em&gt;Wallahu a’lam.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;*) Oleh: Lutsfi Siswanto&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Penulis adalah Pegiat Gerakan Komunitas “Marakom” Yogyakarta&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1805598293185617123-7393434798735625217?l=mjskolombo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mjskolombo.blogspot.com/feeds/7393434798735625217/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/makna-qurban.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/7393434798735625217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/7393434798735625217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/makna-qurban.html' title='Makna Qurban'/><author><name>Masjid Jendral Sudirman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06343321446060590946</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyK6jNVoVI/AAAAAAAAABk/9wThm5cy0p4/S220/DSC08791.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1805598293185617123.post-972074537638528915</id><published>2008-02-01T14:39:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T14:40:22.822-08:00</updated><title type='text'>Menunggu Masjid</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Menunggui Masjid&lt;br /&gt;*)Oleh: Miftah Rahmawati&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;Ada apa dengan masjid? Apa yang salah dengan masjid? Mungkin itu pertanyaan yang ada di benak pembaca saat membaca judul tulisan ini. Hemat saya, saat ini ada yang perlu kita refleksikan apa-apa yang terkait dengan masjid kita.&lt;br /&gt;Selain sebagai tempat -maaf- buang air alternatif gratis, apakah fungsi masjid bagi kehidupan kita saat ini? Berapakah jumlah masjid yang ada di sekitar kita di Indonesia ini? Marilah kita hitung berapa jumlah manusia Indonesia yang sering mampir dan masuk masjid, namun ternyata grafik koruptor di Indonesia juga semakin bertambah.&lt;br /&gt;Berapa pula masjid yang dibangun setiap tahun, namun ternyata hanya sekutil umat saja yang mau meramaikannya. Itupun hanya seminggu sekali saat hari Jum’at saja, dan datangnya pun di akhir-akhir saat khatib sedang berdoa di khutbahnya. Tidakkah kita melihat ada kesenjangan antara fakta dan realita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedudukan Masjid&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Masjid adalah rumah Allah SWT yang didirikan untuk beribadah. Kata masjid diambil dari kata kerja dalam bahasa arab: sajada, yang artinya meletakkan dahi di atas tanah. Tempat-tempat yang digunakan untuk meletakkan dahi di atas tanah, disebut masjid.&lt;br /&gt;Masjid mempunyai kedudukan yang agung di hati kaum muslimin biarpun ukuran masjid itu kecil. Karena di masjid, kita menjatuhkan kepala kita bersamaan dengan seluruh anggota badan kita.&lt;br /&gt;Jika saat sebelum masuk masjid kita memuliakan kepala dan memandang hina kaki kita, maka saat kita masuk masjid, semua pandangan itu sirna. Kaki dan kepala berada dalam garis yang sama. Setara.&lt;br /&gt;Ahli masjid adalah manusia yang pergi ke masjid untuk beribadah kepada Allah SWT. Namun, apa yang telah dilakukannya di masjid tidak hanya berhenti di sana, akan tetapi semua itu bisa ditularkan di luar masjid. Artinya, di dalam dan di luar masjid selalu dikondisikan dalam niat untuk beribadah kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;Maka, seorang pedagang yang cinta masjid akan selalu menjaga dirinya untuk tidak menipu pembeli barang dagangannya. Politisi yang cinta masjid tidak akan pernah mengingkari janji kepada rakyatnya. Seorang warga masyarakat yang sering ke masjid, pasti akan tidak pernah menyakiti tetangganya. Seorang pejabat publik pun pasti tidak akan korupsi, kalau memang ia cinta masjid.&lt;br /&gt;Mereka itulah orang-orang yang hubungannya dengan Allah SWT tidak bisa dipalingkan oleh kenikmatan duniawi dan tidak disibukkan oleh kepentingan pribadi dan golongan. Tentang mereka Allah SWT berfirman dalam QS: 24: 37: &lt;em&gt;“Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah dan bertaqwa kepadanya maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Persoalan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya sekarang adalah, mengapa begitu banyak masjid di Indonesia yang dibangun setiap tahunnya, namun mengapa pula bangsa Indonesia tetap tergolong sebagai salah satu bangsa terkorup di dunia? Mengapa hampir setiap tahun umat Islam berzakat di masjid, namun mengapa juga orang-orang miskin di Indonesia semakin bertambah?&lt;br /&gt;Terlebih lagi, di sana-sini banyak masjid megah yang berdiri tegak. Ada yang kubahnya terdiri dari emas murni yang beratnya berkilo-kilogram. Ada masjid yang menjadi tempat wisata. Ada masjid yang dibangun sebagai sarana ”cuci dosa” koruptor. Ada juga masjid yang dipakai hanya untuk akad nikah. Tentu itu itu hak siapa saja.&lt;br /&gt;Apakah tidak ”salah tempat” kalau masjid itu dibangun pada saat mental korupsi kita sedang bangkit-bangkitnya, hasrat cari untung kita lagi menuju puncaknya, dan kemalasan kita untuk memakmurkan masjid tengah melanda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pembinaan Umat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kita memang menyambut baik berdirinya masjid-masjid itu. Apalagi jika alasannya didasarkan atas ketersediaan dana para donaturnya. Akan tetapi, sayang kalau di tengah kondisi krisis multidimensi ini, di antara hutang Indonesia yang semakin bertambah, bersama jeritan anak-anak yang tidak bisa sekolah, dan fakir miskin yang tidak bisa makan secukupnya, masjid-masjid itu ko’ terlalu megah dan sering sekali dibangun.&lt;br /&gt;Karena saat ini pun sudah terlalu banyak masjid yang ramainya hanya pada waktu bulan Ramadlan saja. Belum lagi kalau kita menyadari fakta bahwa saat ini banyak masjid yang dijadikan sarang politik parpol tertentu dan kepentingan aktor tertentu.&lt;br /&gt;Lebih baik diutamakan dulu aspek pendidikan atau pembinaan mental dan kesadaran umat melalui masjid-masjid yang telah lebih dulu ada. Masjid yang ada harus bisa mendidik umat untuk tidak bermental super cari untung, berwatak multikorup, dan berjiwa full kepentingan.&lt;br /&gt;Itulah yang harus dilihat oleh kita semua. Mungkin karena itu mengapa masjid itu artinya: setiap tempat untuk bersujud. Maksudnya, kita harus menunggui masjid, yaitu: untuk menularkan jiwa masjid ke dalam jiwa umat (baca: kita) yang sering, jarang, atau tidak pernah ke masjid. &lt;em&gt;Wallahu a’lam&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;*) Miftah Rahmawati&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Staf Pendidik TPA Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1805598293185617123-972074537638528915?l=mjskolombo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mjskolombo.blogspot.com/feeds/972074537638528915/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/menunggu-masjid.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/972074537638528915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/972074537638528915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/menunggu-masjid.html' title='Menunggu Masjid'/><author><name>Masjid Jendral Sudirman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06343321446060590946</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyK6jNVoVI/AAAAAAAAABk/9wThm5cy0p4/S220/DSC08791.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1805598293185617123.post-757944638248731805</id><published>2008-02-01T14:36:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T14:38:00.171-08:00</updated><title type='text'>Islam Kenyataan</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Islam, Ilmu, dan Kenyataan Umat&lt;br /&gt;*) Oleh: Abdul Muizzu&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.&lt;br /&gt;(QS: 13: 11)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri seorang muslim adalah melaksanakan kewajiban yang lima (rukun Islam), yaitu Syahadat, Salat, Zakat, Puasa, dan Haji. Pertanyaannya adalah apakah dengan melaksanakan kelimanya lantas selesai sudah kewajiban seorang muslim? Faktanya banyak orang salat, tapi korupsi tetap jalan. Banyak pula yang naik haji, tapi banyak pula yang kelaparan dan menderita kemiskinan.&lt;br /&gt;Belum lagi masalah-masalah umat yang lainnya, di antaranya; mutu pendidikan yang rendah, birokrasi yang korup, administrasi yang kacau, disiplin yang keropos, etos kerja yang rendah, fanatisme golongan yang berlebihan, apriori terhadap peradaban modern, dan sibuk dengan urusan furu’ [cabang] daripada ushuul [persoalan dasar/pokok].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hamba yang Cerdas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Fakta itu semacam tragedi bagi kita semua. Padahal telah jamak dalam sejarah, bahwa Islam merupakan agama yang dalam beberapa dekade pernah menjadi poros peradaban dunia.&lt;br /&gt;Jika Islam dahulu terbukti sebagai poros peradaban, maka dapatkah Islam difungsikan secara prima dalam sejarah kita saat ini? Lalu, bisakah umat Islam menghadapi tantangan dunia modern? Hal ini hendaknya menjadi bahan renungan kita untuk berfikir cerdas, jujur, dan terbebas dari subjektifisme golongan dan egoisme pribadi.&lt;br /&gt;Menghadapi tantangan dunia modern ini, hendaknya umat Islam jangan bersikap anti peradaban modern. Sikap mengambil hal-hal yang baik dan membuang yang buruk dari peradaban modern adalah salah satu ciri hamba Allah yang cerdas. Hal ini sebagaimana yang dilakukan umat Islam dahulu yang mempelajari dan mengadaptasi ilmu pengetahuan dari Yunani, lalu mampu membuat karakteristik keilmuan yang khas.&lt;br /&gt;Pada waktu itu umat Islam begitu bersemangat untuk mencari ilmu pengetahuan yang diikuti dengan penerjemahan buku-buku bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab, kreatif, dan inovatif. Maka muncullah tokoh-tokoh sekaliber Ibnu Rusydi, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Ibnu Taimiyah, Imam Ghazali, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Hanafi, dan Imam Hambali.&lt;br /&gt;Akankah saat ini akan muncul tokoh-tokoh yang kreatif dan inovatif? Apakah ilmu pengetahuan bisa jadi dasar perkembangan gerak dan cara berpikir umat Islam saat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ilmu: Mengapa Saling Menuding?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saat ini yang terjadi mungkin agak bertolak belakang dari itu semua. Umat Islam begitu mudah menjustifikasi/menghukumi segala sesuatu tanpa memandangnya sebagai kekayaan ilmu Allah SWT. Jika pun sesuatu itu bisa dan mungkin saja salah sesalah-salahnya, itu hal yang wajar menurut saya. Karena hal itu menunjukkan kalau jagat ini masih manusiawi.&lt;br /&gt;Menjadi tidak wajar kalau sesuatu yang (disebut) salah itu kita tanggapi dengan emosi, marah, dan jauh dari sikap arif dan penuh hikmah (baca: ilmu), meskipun hal itu juga masih manusiawi. Akibatnya, kosakata yang sering hinggap di telinga kita adalah: sesat, kafir, salah, haram, bid’ah, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Kondisi yang demikian akan memunculkan sektarianisme dan fanatisme yang menyebabkan kita selalu merasa bahwa yang benar adalah golongan kita sendiri. Jika begitu, seolah-olah kita ini adalah pemegang otoritas tunggal yang berhak menyalahkan ini dan membenarkan itu. Padahal, otoritas untuk membenarkan dan menyalahkan hanya Allah SWT yang memilikinya.&lt;br /&gt;Sekali lagi, jika pun ada kasus di dalam tubuh umat Islam ini yang kita pandang sesat, maka marilah kita menanggapinya dengan rasa syukur kepada Allah SWT, bahwa kita ini masih bodoh dan lupa menyebarkan kebaikan dan kearifan ke seluruh jagat raya. Selain itu, kita pun harus sadar bahwa DIA menciptakan sesuatu yang belum kita pahami. Maka, berdialog dengan yang sesat itu, di atas landasan kesadaran untuk mencari ilmu, adalah upaya untuk membuktikan bahwa kita ini tidak punya hak untuk menyebut si ini sesat, bid’ah, kafir, haram, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Bukankah saat kita menyebut ini sebagai bid’ah misalnya, itu adalah ucapan dan pikiran kita? Kalau pun kita melandaskannya pada sebuah ayat atau hadits Nabi, bukankah itu pun adalah tafsir dan pemahaman kita terhadap ayat dan hadits itu? Itu artinya, bukankah tafsir dan pemahaman kita itu bisa benar, bisa salah, dan bisa juga sesat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Melihat yang Nyata&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita buka mata kita untuk melihat realitas real umat Islam saat ini. Saat ada saudara kita seorang muslim yang betul-betul fakir, lantas tidak ada yang peduli kepadanya, janganlah kita marah-marah saat ternyata ada umat lain yang menolongnya lalu mengajaknya pindah agama. Umumnya, kita melihat kasus itu sebagai misi terselubung sebuah agama tertentu, hingga kita pun menghujatnya. Padahal persoalannya tidak di sana, akan tetapi pada diri kita sendiri yang hampir-hampir tidak peduli pada saudara kita yang fakir-miskin itu.&lt;br /&gt;Salah satu penyebabnya, ini terjadi karena umat Islam atau kita belum memiliki kemampuan untuk mengembangkan dan mengarahkan kepedulian pada sebuah masalah yang lebih konkret dan nyata. Kita lebih sibuk mengurusi masalah aliran sesat daripada mengurusi diri kita yang cenderung korup dan manipulatif.&lt;br /&gt;Amat menyedihkan sekali jika di suatu saat kita menyumpahi kesesatan seseorang, namun pada saat yang sama kita tidak sadar bahwa kita sudah menghina ciptaan Allah SWT dengan menyumpahi dan menunjuk-nunjuk diri orang lain. Seolah-olah kita ini makhluk yang suci saja! Lebih parah lagi, kita pun lupa untuk peduli pada si miskin, karena energi kita habis untuk menyumpah-serapahi orang lain.&lt;br /&gt;Karena itu, mari bersama-sama kita tunjukkan Islam kita ini sebagai cara hidup yang rahmatan lil ‘alamin, yang mampu membawa perubahan ke arah kebaikan dan keadilan sosial. Untuk memulainya marilah kita mulai dari diri kita sendiri dengan sungguh-sungguh. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;*) Abdul Muizzu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Koordinator Keluarga Mahasiswa Jogjakarta – Kabaena, mahasiswa Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1805598293185617123-757944638248731805?l=mjskolombo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mjskolombo.blogspot.com/feeds/757944638248731805/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/islam-kenyataan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/757944638248731805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/757944638248731805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/islam-kenyataan.html' title='Islam Kenyataan'/><author><name>Masjid Jendral Sudirman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06343321446060590946</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyK6jNVoVI/AAAAAAAAABk/9wThm5cy0p4/S220/DSC08791.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1805598293185617123.post-2507318826962515619</id><published>2008-02-01T14:10:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T14:14:41.064-08:00</updated><title type='text'>Muslim Paripurna</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Kesinambungan Hidup: Cita Muslim Paripurna&lt;br /&gt;*) Oleh: Drs. Abdul Rosyid, MM&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apa itu Islam? Apa kriteria muslim itu? Apa aktivitas utama muslim serta bagaimana sikap muslim yang kaffah (paripurna) itu? Sebesar apa kewajiban muslim untuk bertahan hidup? Secara bahasa, Islam berasal dari kata aslama-yuslimu-islaaman. Artinya “menuju ke kedamaian, keselamatan, ketentraman”, yang menandakan bahwa Islam menginginkan kita untuk berusaha sungguh-sungguh menuju suatu kondisi kedamaian, keselamatan, dan ketentraman. Kepastian dan ketegasan hukum pada suatu wilayah tertentu termasuk tujuan Diinul Islam (Al-Munjid;3).&lt;br /&gt;Dunia Islam merupakan persoalan sekaligus solusi. Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, pernah menyusun sebuah buku yang berjudul ‘Dunia Baru Islam’. Ia mencoba membuat tafsir bebas dan luas mengenai keislaman menurut orang-orang Indonesia yang progresif. Soekarno cukup memahami bahwa dunia Islam memiliki dinamika kehidupan sendiri. Bagi Soekarno, jika terjadi kendala-kendala di dalam pelaksanaan aktivitas-aktivitas keislaman, maka solusinya cukup di-update dari apa yang telah diwahyukan Allah SWT kepada Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Tafsir atas Islam Paripurna&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman dalam QS: 2: 208: “&lt;em&gt;Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Menurut Sayyid Quthb dalam Tafsir Fii Zhilalil Qur’an, bahwa Islam adalah seruan kepada orang-orang yang beriman atas nama imannya. Iman adalah sifat atau identitas yang menjadikan mereka sebagai sosok yang unik, berbeda, dan selalu terhubung dengan Allah SWT yang menyeru mereka. Seruan ini adalah seruan kepada orang yang beriman untuk ber-Islam secara total.&lt;br /&gt;Pemahaman seruan ini berarti bahwa seorang mukmin harus menyerahkan diri secara total kepada Allah dalam setiap urusan. Penyerahan diri harus dilakukan secara sebenar-benarnya dan menyeluruh baik dalam persepsi, pandangan, pemikiran, perasaan, niat, amal, senang, dan susah setiap mukmin. Seorang mukmin harus tunduk dan patuh kepada Allah SWT, ridla kepada hukum dan qadla-Nya, tenang, pasrah, dan mantap. Seorang mukmin harus pasrah kepada tangan (kekuasaan) Allah SWT yang membentuk langkah-langkahnya, dan percaya bahwa “tangan” itu akan berbuah kebaikan, ketulusan, dan kelurusan. Seorang mukmin juga harus merasa tenang dan tentram menempuh jalan itu ketika berangkat dan kembali di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;Arahan seruan ini mengisyaratkan bahwa seorang mukmin harus memiliki mental untuk memberontak keraguan dalam melakukan ketaatan yang mutlak baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Artinya, seruan ini setiap waktu ditujukan kepada orang-orang yang beriman agar mereka menjadi suci dan bersih, tulus dan ikhlas. Hingga getaran-getaran jiwa dan arah perasaan mereka pun sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah, tuntunan Nabi, dan agama tanpa rasa ragu, bimbang, apalagi gamang.&lt;br /&gt;Jadi bahwa ketika seorang muslim menyadari seruan ini, berarti ia telah masuk ke alam kedamaian dan keselamatan secara total. Alam yang penuh kemantapan dan ketenangan, keridlaan, tidak bingung, goncang, linglung, apalagi sesat. Damai dengan segala yang ada, yang berseri-seri dalam lubuk hati, yang membayang-bayangi kehidupan dan keselamatan di langit dan bumi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesinambungan hidup: teladan Muhammad SAW&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Aktivitas seorang muslim yang seharusnya dilakukan hendaknya sesuai dengan jadwal hidup yang telah dicanangkah oleh Allah terutama terhadap pembagian waktu kerja (ibadah) dalam QS: 78: 9-11: dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, dan kami jadikan malam sebagai pakaian dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan’.&lt;br /&gt;Selain itu, sikap-sikap hidup yang telah disabdakan, dilakukan, dan yang pernah ditetapkan Rasulllah SAW juga harus diikuti. Antara lain adalah: ‘Jika engkau berada di waktu sore, jangan menunggu padi, begitupun sebaliknya.’ ‘Mulailah dari diri sendiri’. ‘Barang siapa ingin diluaskan anugerah rizkinya, dipanjangkan fungsi usianya, maka sambunglah tali persudaraan’. ‘Tularkanlah atau dakwahkan tentangku meskipun satu ayat, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Islam menjadi tidak penting untuk dikaji dan dipraktekkan, jika tidak ada kaitannya dengan urusan peningkatan kesinambungan hidup dan harga diri umatnya. Karena itu, segala hal yang terkait dengan kelanjutan dan kesinambungan hidup kita merupakan suatu keharusan. Termasuk di dalamnya berusaha atau berbisnis. Salah satu usaha untuk mengenal Islam adalah meneladani sejarah hidup Rasulullah Muhammad SAW sebagai praktisi bisnis atau pedagang.&lt;br /&gt;Agar bisnis sukses, maka umat Islam harus meniru dan meneladani sifat Rasulullah SAW; shiddiq, amanah, tabligh, dan fathonah ketika berdagang. Syeikh Ahmad Rifa’i, ulama abad ke-19 asal Jawa Tengah, menyebutkan bahwa Rasulullah SAW juga sosok yang telaten, teberen, unen, open, tetiron, tetakon, benere kang diluru.&lt;br /&gt;Namun, konsep bisnis yang sesuai dengan teladan Rasulullah SAW tersebut, memerlukan objek atau aktivitas atau bisnis (usaha) yang perlu diprioritaskan. Masing-masing kita diberi kebebasan untuk memilih dan menentukan, bisnis apa yang paling disenangi dan disanggupi. Firman Allah SWT dalam QS: 92: 4: sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda&lt;br /&gt;Artinya, yang terpenting adalah bahwa muara dari semua aktivitas manusia secara umum adalah kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman dalam QS: 61: 10-11: “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya.”&lt;br /&gt;Islam merupakan agama yang mengandung nilai-nilai aktivitas yang bergerak. Islam sebagai agama gerakan bergerak menuju kedamaian, ketentraman, kemakmuran, dan yang terpenting adalah terlaksananya semua rukun Islam. Rukun Islam sebagai pilar Islam harus tegak. Apalagi zakat dan haji yang hanya dapat terlaksana dengan lancar jika ada dana yang cukup, di samping kesadaran umat untuk membiasakan Syahadat (niat yang tulus), Salat, Puasa, dan shilaturrahim (merekatkan tali persaudaraan).&lt;br /&gt;Meski begitu, ber-Islam tidak hanya berhenti di situ, karena banyak sekali persoalan yang harus dihadapi oleh masing-masing kita sebagai umat Islam untuk tetap berkesinambungan dalam hidup ini (survive). Persoalan itu adalah bagaimana umat Islam memiliki sikap hidup dalam aktivitas yang bergerak itu. Sikap hidup yang paling mudah dilakukan adalah semua yang telah dikatakan, dipraktekkan dan ditetapkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Bagaimana beliau SAW bersikap untuk tetap survive di dalam kehidupannya? Salah satu jawabannya adalah bahwa karena beliau SAW adalah seorang praktisi bisnis.&lt;br /&gt;Aktivitas bisnis yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan paling mudah ditiru oleh umatnya adalah menjadi seorang tajir (pedagang) yang dipraktekkan dengan penuh integritas dan disiplin. Itulah salah satu tawaran penulis untuk kita semua dalam usaha untuk ber-Islam secara paripurna (kaaffah). Semoga kita semua selalu diberkahi Allah SWT untuk menuju ke arah paripurna itu. &lt;em&gt;Wallahu a’lam.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;*) Drs. Abdul Rosyid, MM&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Penulis adalah jamaa’ah masjid Jendral Sudirman dan praktisi bisnis&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1805598293185617123-2507318826962515619?l=mjskolombo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mjskolombo.blogspot.com/feeds/2507318826962515619/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/muslim-paripurna.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/2507318826962515619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/2507318826962515619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/muslim-paripurna.html' title='Muslim Paripurna'/><author><name>Masjid Jendral Sudirman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06343321446060590946</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyK6jNVoVI/AAAAAAAAABk/9wThm5cy0p4/S220/DSC08791.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1805598293185617123.post-6433205328598656445</id><published>2008-01-07T14:07:00.000-08:00</published><updated>2008-09-05T22:41:50.835-07:00</updated><title type='text'>Persatuan Umat</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Persatuan Umat Pasca Ramadlan&lt;br /&gt;*) Oleh: Ahmad Romadhoni&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ramadlan 1428 bagi umat Islam di Indonesia ditandai oleh perbedaan penetapan 1 Syawal 1428 H, yang telah menjadi 'makanan' tahunan bagi kita. Tentu kita yakin bahwa hal itu didasarkan pada sumber-sumber yang valid dan benar agar umat dewasa dalam menentukan pilihan yang diyakini paling benar. Ketika Nabi Muhammad SAW mengisyaratkan bahwa perbedaan itu adalah rahmat, maka kondisi seperti ini memancing kita untuk mereguk hikmah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berbeda Untuk Bersatu-sama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya yang terjadi hampir tidak sebangun dengan apa yang seyogyanya. Masing-masing kita lebih memilih untuk beropini bahwa pebedaan itu diakibatkan oleh ego kolektif-organisatoris (QS:30:32). Padahal, seorang Astronom memprediksi perbedaan ini akan sering terjadi selama 20 hingga 30 tahun mendatang. Sebagai kasus, kita harus sadar bahwa perbedaan ini lebih diakibatkan oleh gejala alam. Karena itu metode penetapan awal bulan dengan menggunakan hisab maupun rukyat yang sangat bergantung pada gejala alam ini sangat mungkin menghasilkan sesuatu yang berbeda melalui metode yang sama maupun tidak.&lt;br /&gt;Islam adalah agama ilmu pengetahuan. Memahami Islam butuh kedalaman ilmu tanpa taqlid (mengikuti tanpa sadar dan dasar) secara membabi buta kepada apa dan siapapun. Artinya umat harus paham secara sadar, mendasar, dan tidak diperkenankan untuk ber-islam menurut si A atau si B, organisasi A atau B. Begitupula dalam penetapan akhir Ramadlan lalu. Secara ilmiah, harusnya kita berpikir bahwa terjadinya perbedaan itu telah mewajibkan umat untuk menekuni astronomi, Ilmu falaq, fisika optik, matematika, dan bidang lain yang terkait. Bukankah saat ini, dalam bidang ilmu dan teknologi, umat Islam tertinggal jauh dibandingkan dengan umat lain?&lt;br /&gt;Ironisnya beberapa kalangan di antara kita justru mencoba untuk mematikan perbedaan itu dengan alasan demi persatuan umat. Bahkan ada juga yang mengandaikan jika perbedaan dihilangkan maka muncul persatuan yang nantinya akan membuat musuh-musuh Islam menjadi takut. Bagi penulis, kondisi ini sangat memprihatinkan. Umat terkesan dienggankan untuk berbeda. Padahal kita semua paham bahwa perbedaan itu adalah rahmat, yang berarti bahwa ada hikmah di baliknya. Patut disayangkan pula bahwa seringkali konsep perbedaan ini hanya dikaitkan dengan pilihan politik di masa Pemilu. Padahal perbedaan penentuan hari raya, memiliki hikmah yang lebih besar menuju kemaslahatan umat dibandingkan dengan perbedaan pilihan saat Pemilu yang terkadang malah mendatangkan mudharat (bahaya) kepada umat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Visi Ketauhidan dalam Persatuan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Banyak ulama maupun pejabat yang kemudian bertindak sedemikian rupa untuk mencoba mendamaikan perbedaan ini. Seakan-akan perbedaan penetapan hari raya merupakan sebuah permusuhan yang bisa membahayakan persatuan umat dan bangsa. Alih-alih mengambil hikmah dari sebuah perbedaan dengan memperdalam ilmu, justru yang terjadi malah melihat perbedaan menjadi ancaman yang harus disatukan dengan dukungan politik. Sekali lagi, perbedaan penetapan hari raya bukan ancaman bagi persatuan umat. Justru umat akan pecah tatkala visi ketauhidan ('aqidah, tauhid) yang sifatnya non-politik, sektarian, apalagi berbasis kepentingan, semakin lama semakin luntur di dalam benak kaum muslimin saat ini.&lt;br /&gt;Tauhid inilah yang menjadi visi setiap nabi dan rasul yang diturunkan Allah SWT di muka bumi. Visi ketauhidan ini yang memberikan energi bagi Ibrahim AS untuk membabat habis pemahaman politeisme dan menggantikannya dengan monoteisme. Visi ini yang mampu menyatukan Bani Israil di bawah Musa AS untuk mengalahkan Fir'aun yang zalim. Visi ini pula yang menyatukan kaum anshar dan muhajirin di bawah Muhammad SAW untuk membongkar dominasi kaum kapitalis Quraisy yang menguasai, mengontrol, dan memonopoli perekonomian di Jazirah Arab saat itu. Allah SWT berfirman dalam QS:23:52: Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.&lt;br /&gt;Persatuan umat akan terjadi jika visi ketauhidan muncul menjadi perekat umat. Bukan dengan menyamakan perbedaan apalagi hanya dengan menyamakan penetapan hari raya. Menyamakan perbedaan demi persatuan merupakan hal yang sia-sia karena perbedaan sendiri merupakan fitrah penciptaan alam raya ini. Maka haruslah kita sadari bahwa persatuan umat menjadi kunci utama dalam mengelola perbedaan.&lt;br /&gt;Visi ketauhidan menjadi perekat utama persatuan umat ini. Visi ini merupakan platform umat dalam ber-Islam. Melalui visi ketauhidan ini pula seluruh alur kehidupan akan mengalir mengerucut menuju keridlaan-Nya. Dengan visi ini tidak akan muncul diskriminasi berdasar gender, ras, bangsa, warna kulit, status sosial, dan lain sebagainya. Visi ini pula yang akan menjadikan manusia berada pada kualitas manusia sebenarnya. Bahwa manusia bukan mesin-mesin produksi yang bisa dicetak sedemikian rupa untuk alat pemenuhan nafsu materi. Manusia juga bukanlah binatang yang tega mengambil hak manusia lain dengan jalur penjajahan, eksploitasi sumber daya alam, maupun korupsi.&lt;br /&gt;Pertanyaan mendasar yang perlu diajukan adalah sampai di mana visi ketauhidan ini tertanam dalam benak dan hati umat? Muhammad SAW membutuhkan waktu 23 tahun untuk menanamkan visi ini kepada umat. Dengan tidak diturunkannya Nabi dan Rasul setelah Muhammad SAW maka kini menjadi tugas kita sebagai individu untuk menanamkan visi ketauhidan pada diri kita dan umat. Visi ini membatasi perilaku manusia dengan adanya kehidupan setelah mati yang mengingatkan tugas dan tanggung jawab manusia di muka bumi ini. Perbedaan bukanlah penyebab runtuhnya persatuan umat. Justru ketika umat tidak menghendaki perbedaan dan mencoba menyamakan maka di situlah titik di mana lunturnya persatuan umat.&lt;br /&gt;Seorang bijak yang tinggal di pinggiran kota ini berkata; biarkan rakyat Indonesia yang bertahun-tahun didera penderitaan itu bergembira dalam dua hari raya. Mereka yang tidak beruntung dalam hal materi mungkin justru akan mendapatkan rezeki ganda dari harta orang-orang kaya. Mudah-mudahan kelak mereka pula nanti yang akan muncul menjadi ahli astronomi atau ilmu falaq. Karena mungkin mereka pula yang mampu menangkap hikmah perbedaan ini dengan sempurna. &lt;em&gt;Wallahu a'lam.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;*)Ahmad Romadhoni&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pegiat Ketakmiran Masjid Jenderal Sudirman Yogyakarta&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1805598293185617123-6433205328598656445?l=mjskolombo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mjskolombo.blogspot.com/feeds/6433205328598656445/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/persatuan-umat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/6433205328598656445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/6433205328598656445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/persatuan-umat.html' title='Persatuan Umat'/><author><name>Masjid Jendral Sudirman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06343321446060590946</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyK6jNVoVI/AAAAAAAAABk/9wThm5cy0p4/S220/DSC08791.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1805598293185617123.post-7137700541733587643</id><published>2008-01-02T22:47:00.000-08:00</published><updated>2008-09-05T22:50:04.412-07:00</updated><title type='text'>Semua Tulisan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Salam. Semua tulisan di Blog ini adalah bentuk digital dari tulisan yang diterbitkan oleh Buletin Jumat "Jendral Sudirman" Yogyakarta. &lt;/span&gt;Jadi, kalau ada pembaca yang ingin mencetaknya, menyebarkannya, atau meng-copy-nya, kami persilahkan dengan selapang-lapangya. Boleh dicantumkan sumbernya, boleh juga tidak. Salam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1805598293185617123-7137700541733587643?l=mjskolombo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mjskolombo.blogspot.com/feeds/7137700541733587643/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/01/semua-tulisan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/7137700541733587643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/7137700541733587643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/01/semua-tulisan.html' title='Semua Tulisan'/><author><name>Masjid Jendral Sudirman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06343321446060590946</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyK6jNVoVI/AAAAAAAAABk/9wThm5cy0p4/S220/DSC08791.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1805598293185617123.post-4022760380249618876</id><published>2008-01-01T13:55:00.000-08:00</published><updated>2008-09-05T22:39:33.980-07:00</updated><title type='text'>Indahnya Ramadlan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;Indahnya Ramadlan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh: Umi Aflaha*&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;(Beberapa hari yang telah ditentukan itu adalah) bulan Ramadlan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.&lt;br /&gt;(QS: 2: 185)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SLJQjLchoII/AAAAAAAAAA0/RaN4XX9e4LQ/s1600-h/IMG_0012.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 241px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SLJQjLchoII/AAAAAAAAAA0/RaN4XX9e4LQ/s320/IMG_0012.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238337881883385986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;    Berbahagialah kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW, karena Allah SWT telah memberikan kepada kita berbagai keistimewaan yang belum pernah diberikan kepada umat sebelumnya. Ini terbukti bahwa Allah tidak henti-hentinya memberikan anugerah-Nya kepada kita, setelah kita dilimpahi keistimewaan pada nishfu sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban), kini kita dihadapkan pada bulan yang mulia, yaitu Ramadlan. Adapun keistimewaan Ramadlan yang paling mencolok adalah bahwa pada bulan ini untuk pertama kalinya al-Qur’an mulai diturunkan dan diterima nabi Muhammad SAW yang ketika itu sedang melakukan tahannuts (bermeditasi) di Gua Hira’ dan melakukan pembersihan diri.&lt;br /&gt;Ini artinya, meski al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadlan, namun pada waktu itu belum ada kewajiban puasa. Sebab puasa baru diwajibkan pada tahun 2 H. Pesan yang ditegaskan di sini adalah kaitan hubungan antara keadaan Nabi Muhammad SAW ketika menerima al-Qur’an dan orang-orang yang sedang berpuasa. Artinya bahwa hanya orang-orang yang bersih jiwa atau ruhaninya saja yang akan bisa mengakses dan menerima al-Qur’an. Keadaan seperti inilah mengapa kemudian bulan Ramadlan ini dipilih sebagai bulan yang oleh ayat di atas disebut sebagai bulan yang di dalamnya telah diturunkan al-Qur’an. Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan juga sebagai isyarat bahwa sangat dianjurkan untuk lebih banyak membaca dan mempelajarinya pada bulan ini dengan harapan dapat memperoleh petunjuk darinya.&lt;br /&gt;Banyak ulama menyebut Ramadlan sebagai syahru at-tarbiyah (bulan pembinaan, bulan pendidikan) yang diharapkan dapat meluluskan pesertanya untuk meraih gelar sebagai orang-orang yang bertaqwa atau al-muttaqin [QS: 2: 183]. Maka wajarlah, untuk mencapai gelar ini, frekuensi penyelenggaraan pengajian nampak begitu giat ditingkatkan, salat sunnah terasa seperti menjadi “diwajibkan”, pembacaan al-Quran dirutinkan dan dikhatamkan, wirid diperpanjang, sedekah diperbanyak, silaturahmi lebih dijalin erat, dan amal ibadah lainnya terus didirikan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Taqwa dan Muttaqin&lt;br /&gt;Apakah taqwa itu? Mengapa pula orang-oang yang bertaqwa disebut muttaqin? Taqwa dan muttaqin adalah kosakata dalam Bahasa Arab yang keduanya memiliki akar kata yang sama. M. Quraish Shihab (1999:127) menjelaskan bahwa taqwa memiliki dua sisi makna. Hemat penulis, dua sisi ini tidak dapat dipisahkan. Karena keduanya ibarat dua sisi mata uang logam. Pertama, sisi duniawi. Makna taqwa pada sisi ini memiliki cakupan fokus perhatiannya pada ihwal penyesuaian diri manusia dengan sunnatullah (hukum alam, hukum sosial). Kedua, sisi ukhrawi. Makna taqwa pada sisi ini berbeda dengan sisi pertama. Taqwa diartikan sebagai proses perjalanan manusia dalam usaha untuk melaksanakan hukum syariat.&lt;br /&gt;Marilah kita lihat realitas ketaqwaan yang berjalan di depan kita berdasarkan dua makna taqwa ini. Saat ini banyak orang yang lebih mementingkan sisi ukhrawi taqwa saja. Sehingga muncul anggapan khalayak luas bahwa di dalam bulan ramadlan ini, ketakwaan seseorang hanya dapat diperoleh cukup dengan berpuasa di siang hari, rajin salat tarawih di malam hari, dan membaca al-Quran setiap hari. Padahal makna taqwa dari sisi yang lain juga penting, yaitu gerak (transformasi) manusia untuk mengikuti hukum-hukum alam dan sosial sebagaimana yang telah ditetapkan Allah.&lt;br /&gt;Contohnya yang paling penting saat ini adalah seperti melakukan perbaikan di segala bidang kehidupan yang lebih menyeluruh. Saat kita mendapati realitas kehidupan hukum kita begitu tidak adil, maka ketakwaan dapat diraih dengan upaya untuk melakukan perubahan hukum. Begitu juga dengan kehidupan ekonomi kita yang sedang terpuruk, kehidupan sosial-budaya yang parah, dan kehidupan keagamaan yang rusak. Bagi kita yang berada di lingkungan birokrasi pemerintahan, ketakwaan hanya mungkin dilakukan saat kita menolak untuk korupsi, membuat undang-undang yang tidak menyengsarakan rakyat, serta mendesain sistem ekonomi bangsa ini agar tidak menjurus ke arah sistem yang semakin memiskinkan orang miskin dan mengkonglomerasikan konglomerat.&lt;br /&gt;Dengan kata lain, wujud ketaqwaan yang bersifat ukhrawi harus disertai pula dengan wujud ketaqwaan yang bersifat duniawi. Lalu bagaimana wujud taqwa duniawi khususnya di bulan Ramadlan ini? Sebagaimana tadi ditegaskan bahwa taqwa duniawi adalah melakukan gerak transformasi sosial, melakukan perubahan sesuai dengan perintah dan aturan yang telah ditetapkan Allah. Maka, bagaimana mungkin kemiskinan di negeri kita akan teratasi atau korupsi akan berhenti kalau hanya sebatas berdzikir dan berdo’a supaya orang-orang miskin mau bekerja keras atau para koruptor segera sadar.&lt;br /&gt;M Amien Rais (1998: 52) pernah menegaskan bahwa kita harus selalu mengasah taqwa kita dalam kehidupan pribadi, keluarga, sosial-kemasyarakatan, berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, akivitas puasa kita tidak hanya berhenti di masjid saja, teapi harus merembes dalam kehidupan sosial kemasyarakatan kita. Kita harus mulai bergerak menciptakan lapangan pekerjaan atau menggalakkan sedekah bagi orang-orang yang tidak mampu (ith’amul masakin). Bukannya membeli segala macam makanan untuk memenuhi keinginan perut ketika berbuka puasa, sedangkan saudara kita ada yang tidak mempunyai makanan untuk berbuka. Begitu pula untuk memberantas korupsi dengan menegakkan hukum seadil-adilnya, melakukan penyadaran tentang bahayanya korupsi bagi kehidupan masyarakat atau dengan menerapkan hukum mati bagi koruptor jika memungkinkan.&lt;br /&gt;Jika dua sisi taqwa tersebut sudah bisa disatu-padukan, taqwa duniawi dan taqwa ukhrawi, maka indahnya Ramadlan tidak hanya bisa dirasakan di masjid-masjid tempat berkumandangnya dzikir dan doa. Indahnya Ramadlan juga akan bisa kita nikmati di setiap jengkal kehidupan, keluarga, masyarakat dan negara. Sudah saatnya kita merubah cara pandang puasa kita. Puasa tidak hanya cukup dengan menahan lapar dan dahaga dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, salat tarawih, dzikir dan membaca al-Qur’an. Tetapi puasa -sebagaimana makna taqwa- harus mengejawantah dan mewujud dalam bentuk reformasi sosial mewujudkan keadilan di muka bumi ini. Semoga di bulan Ramadlan 1428 H ini, kita dapat mencapai gelar muttaqin duniawi dan ukhrawi.&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;* &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Umi Aflaha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Direktur TPA Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1805598293185617123-4022760380249618876?l=mjskolombo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mjskolombo.blogspot.com/feeds/4022760380249618876/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/indahnya-ramadlan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/4022760380249618876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1805598293185617123/posts/default/4022760380249618876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mjskolombo.blogspot.com/2008/02/indahnya-ramadlan.html' title='Indahnya Ramadlan'/><author><name>Masjid Jendral Sudirman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06343321446060590946</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SUyK6jNVoVI/AAAAAAAAABk/9wThm5cy0p4/S220/DSC08791.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_J73jSoXOdgA/SLJQjLchoII/AAAAAAAAAA0/RaN4XX9e4LQ/s72-c/IMG_0012.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
