Rabu, Mei 21, 2008

Jadi Pemimpin

Belajar Menjadi Pemimpin
*) Oleh: Nur Wahid

Apa dan Siapa itu pemimpin? Secara sederhana, kita dapat mengatakan bahwa pemimpin itu adalah orang yang memiliki kekuasaan. Bisa berupa pejabat di pemerintahan, penguasa, hingga pemimpin lokal di sebuah daerah tertentu.

Dari semua orang-orang tersebut, masihkah kita dapat bertemu dengan sosok “pemimpin” ideal? Sekalipun tidak ideal, masihkah kita dapat menemukan pemimpin yang real?

Pemimpin Ideal & Real

Pemimpin ideal adalah dia yang dapat menjalankan amanah dengan sepenuh tenaga untuk tidak tidak menyengsarakan dan menyia-nyiakan orang-orang yang dipimpinnya. Dengan kata lain, pemimpin ideal adalah dia yang tidak mementingkan dirinya sendiri. Ia memegang teguh prinsip dan kaidah etika-moral yang agung.

Sedangkan pemimpin real, adalah dia yang dapat melihat problem realistis khalayak yang dipimpinnya, lalu ia pun dapat menyelesaikan masalah-masalah itu. Misalnya, saat ia melihat harga sembako yang sangat mahal, maka ia pun paham kalau rakyat pasti susah. Karena itu, sebagai pemimpin real, ia pun berusaha untuk menyelesaikan itu semua.

Nah, apakah kita sudah menemukan pemimpin ideal dan real saat ini? Berdasarkan dua kriteria di atas, mungkin saat ini kita belum menemukannya. Karena saat ini sebagai orang yang dipimpin, mungkin sebagian besar kita yang tergolong wong cilik ini sangat tersulitkan oleh kebijakan dan realitas sosial-ekonomi-politik yang terjadi.

Inilah yang kemudian membuat kita “ragu” terhadap para sosok pemimpin negeri ini yang kita pilih secara sadar, dengan visi misi yang telah dijanjikan pada waktu kampanye. Bisa jadi, itu semua hanya sekedar janji yang sengaja diucapkan sebagai cara untuk meraih kekuasaan.

Kita tidak dapat menelusuri itu, walaupun dapat untuk apa? Toh masih saja demikian. Nyatanya, keadaan real sekarang menunjukkan peran seorang “pemimpin” masih jauh dari harapan. Harapan untuk kehidupan yang lebih baik dan masa depan yang lebih baik lagi. Mudah-mudahan itu tidak hanya sekedar impian kita semata.

Setiap Orang Adalah Pemimpin

Kini banyak orang bertanya, apakah masih ada sosok seorang pemimpin yang benar-benar pemimpin yang mampu memahami rakyat yang dipimpinnya? Adakah potensi diri kita untuk menjadi seorang pemimpin? Pertanyaaan ini mungkin mudah dicari jawabannya, tetapi tidak mudah untuk memahami dan melaksanakannya.

Menjadi pemimpin bukan hanya sekedar sebagai wacana belaka, akan tetapi bentuk konkritnya harus nyata. Masyarakat membutuhkan jalan keluar untuk terus hidup. Inilah yang kemudian membuat kita mempertanyakan tentang kedirian seorang pemimpin negeri ini dalam memahami permasalahan rakyat yang dipimpinnya.

Semua orang punya potensi untuk menjadi apa saja, termasuk menjadi seorang pemimpin, sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Kemampuan dalam diri seseorang dapat menjadikan kekuatan untuk melakukan tindakan nyata tanpa banyak bicara.

Kita dapat memahami bahwa setiap orang dapat melakukan perubahan dalam kehidupan atau paling tidak terhadap dirinya sendiri dengan potensi-potensinya. Karena di dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang memiliki status dan peran yang dijalaninya. Bila seseorang mengetahui statusnya dan mengerti tentang peran yang harus dilakukan, dan akan berlanjut kepada fungsi sosialnya.

Bagaimana seseorang itu dapat menyadarinya peran, status, dan fungsi sosialnya? Salah satu jawabannya adalah bahwa setiap orang itu mesti harus menuju ke jalan untuk menjadi orang yang tercerahkan.

Menjadi orang yang tercerahkan itu dapat diperoleh melalui usaha sendiri maupun berkat atas kehendak Allah. Sebagai seorang khalifah di bumi ini, kita haruslah mampu melihat itu.

Manusia sebagai khalifah di muka bumi ini merupakan cerminan dari potensi tersebut. Besar kecilnya potensi itu akan berakibat kepada sejauhmana manusia itu dapat menjadi khalifah. Tidak menutup kemungkinan kita dapat mengembangkan potensi diri, sebagai kekuatan mengahadapi kehidupan.

Dengan demikian kedirian manusia sebagai pemimpin sangat terkait dengan bagaimana menggunakan potensi yang ada. Barulah kemudian kita mampu menjadi seorang pemimpin bagi diri sendiri maupun dalam wilayah yang lebih besar.

Tapi ingat, ada konsekuensi yang harus kita terima, yaitu salah satunya adalah berupa tanggung jawab. Tanggung jawab disini tidak hanya berhenti pada bentuk laporan maupun pada masyarakat yang dipimpinnya (tanggung jawab horizontal), tapi juga kepada Tuhan (tanggung jawab vertikal).

Sebagai bagian terakhir dari tulisan ini, banyak yang harus kita lakukan untuk menjadi seorang pemimpin. Keinginan yang kuat untuk memenuhinya yang bersifat mendalam harus dicari keberadaannya dan setelah itu baru dilaksanakan sesuai dengan semangat sebagai khalifatullah. Meskipun sulit untuk mewujudkan itu, paling tidak ada usaha untuk melakukan usaha yang mengarah ke sana.

*) Oleh: Nur Wahid
Mahasiswa Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Ketagihan Baca?......

Senin, April 07, 2008

Pahala

Pahala yang Terus Mengalir

*) Oleh: Dwie Abu Taukhid

Ada empat perkara yang pahalanya terus mengalir walaupun orangnya telah meninggal dunia. Yaitu, orang yang meninggal selagi giatnya berjuang di jalan Allah, orang yang mengajarkan ilmu yang selalu mengalirkan pahala baginya, orang yang memberikan sedekah, maka pahalanya akan mengalir untuknya di mana saja sedekah itu berada, dan orang yang meninggalkan anak salih yang selalu berdoa untuknya.

(HR. Ahmad & Tirmidzi )

Kematian bukanlah akhir dari segalanya. Ia adalah permulaan dari sebuah kehidupan yang abadi. Kehidupan abadi adalah kebahagiaan. Salah besar jika ada yang mengatakan dan menganggap bahwa kematian itu adalah azab atau siksa. Kematian itu adalah nikmat. Sama seperti kehidupan. Hanya saja banyak di antara kita yang tidak menyadarinya.


Nikmat Kematian

Kematian adalah kenikmatan sejati. Kesejatiannya terletak dalam ketersembunyiannya sebagai sesuatu hal yang ditakuti semua orang di dunia ini. Padahal, ia adalah nikmat sejati. Karena hanya lewat kematian saja setiap orang bisa merasakan kehadiran Tuhan, dan hanya dalam kematian saja setiap orang bisa menjadi bijak mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya di dunia ini. Itulah kebahagiaan hakiki.

Untuk merengkuh kebahagiaan itu, setiap orang harus menggapainya dengan bekal yang banyak. Umumnya, bekal kehidupan dalam kematian itu adalah kebaikan yang kita perbuat di dunia ini, yaitu keimanan. Keimanan itu diwujudkan dalam pelaksanaan ibadah-ibadah yang membuat kita lebih bisa mendapatkan sesuatu hal ganjaran yang disebut pahala.

Setiap orang harus punya pahala. Karena pahala adalah tabungan kematian. Orang yang hanya bisa membuat dosa, adalah orang yang menandai kehidupannya dengan ketidakseimbangan. Mengapa ia hanya bisa menciptakan dosa? Seharusnya ia bisa menciptakan pahala. Bahkan syukur-syukur pahalanya tidak hanya banyak, akan tetapi juga mengalir kepada pembuatnya hingga ia mati berkalang tanah.

Hanya saja, perlu kita sadari bahwa konsep adanya pahala dan dosa di dalam Islam itu seringkali disalahpahami. Banyak orang beribadah hanya untuk mendapat pahala, bukan ridla Allah SWT. Sebenarnya pahala itu adalah adalah untuk mengajarkan kepada umat Islam dan manusia umumnya untuk terus berbuat baik dan menyembah Allah SWT.

Bukan pahalanya yang dijadikan fokus perhatian, akan tetapi, sejauhmana sang manusia mau tunduk di depan Allah SWT dengan mengerjakan perbuatan baik. Tidak menjadi soal apakah ada pahala atau tidak, walaupun Allah SWT berjanji akan memberikannya saat perbuatan baik itu dilakukan.

Ada juga di antara kita ada yang menganggap pahala itu untuk menancapkan gengsinya di depan sesama manusia. Ada yang menganggapnya sebagai modal material utama untuk mengkapling-kapling surga. Sehingga jika ada orang yang menurutnya tidak membuat pahala, misalnya ahli maksiat, ia anggap sebagai orang yang tidak berpahala. Karena itu, ia merasa bahwa karena pahalanya banyak, maka ia layak masuk surga.

Ada juga yang mengetahui betapa di dalam Islam itu banyak sekali amal yang pahalanya berlipat-lipat. Lalu secara sengaja ia menghitung-hitung pahala itu berdasarkan berapa kali ia beribadah, dan berapa kali ia beramal.

Hadits yang penulis kutip di atas memaparkan empat amal yang bisa tetap membuahkan pahala kendati pelakunya sudah meninggal dunia.


Pertama, Mati Syahid

Mati syahid adalah kematian yang dicapai seseorang ketika berjuang menegakkan agama Allah SWT. Begitu mulianya mati syahid ini sehingga setiap mukmin pasti mendambakannya. Allah SWT telah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 111: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan surga untuk mereka. Mereka berjuang di jalan Allah lalu membunuh atau terbunuh.

Saat ini, mati syahid kerap disalahmaknakan oleh sebagian kaum muslim yang begitu menggebu semangat beragamanya. Sebenarnya, yang harus dipahami dari konsep mati syahid ini adalah agar setiap muslim itu mengerti bahwa syahid itu maknanya adalah siap berkorban demi sesuatu yang baik, demi orang lain, dan kepentingan bersama.

Artinya, kejiwaan orang yang ingin mati syahid adalah kejiwaan orang-orang yang siap menjadi tumbal demi kepentingan bersama yang baik. Contohnya, orang yang rela mengorbankan dirinya untuk membersihkan tempat tinggal bersama yang kotor berhari-hari dan tidak ada yang mau membersihkannya. Ia melakukannya demi kepentingan semua yang tinggal di sana. Itulah orang yang telah ‘mati syahid’. Memang ia tidak mati, tapi ia telah memiliki jiwa dan karakter orang yang mati syahid.

Itulah ’mati syahid’. Mati syahid seperti ini adalah kemuliaan. Karena pelaksananya mengorbankan dirinya untuk kepentingan orang lain tanpa merugikan orang lain. Berbeda dengan para pengebom yang mengaku ia syahid. Mereka tidak tahu bahwa perbuatan syahid mereka itu salah. Karena mereka telah merugikan orang lain, merusak tatanan, dan tidak mengindahkan hak hidup orang lain.


Kedua, Mengajarkan Ilmu

Ilmu merupakan salah satu kunci sekaligus bekal seseorang untuk meraih kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Ketika kita telah berilmu, kita wajib untuk megajarkannya kepada mereka yang belum berilmu. Sebab ilmu yang tidak diajarkan dan diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah.

Bahkan Nabi Muhammad SAW memberikan isyarat kepada orang alim yang tidak mengajarkan ilmunya dengan siksa yang amat berat. Nabi SAW bersabda : seberat-berat siksaan atas manusia pada hari kiamat adalah orang alim yang tidak memanfaatkan(mengajarkan) ilmunya.

Ilmu yang selalu diajarkan kepada orang lain akan menjadi berkah. Apalagi kalau ilmu itu berhasil membawa pemiliknya atau yang orang yang diajarkan, menjadi orang yang berguna bagi masyarakat, agama, bangsa dan negara.


Ketiga, Bersedekah

Allah SWT tidak melarang manusia untuk mencari dan mendapatkan harta duniawi sebanyak mungkin. Namun, harta yang banyak tersebut mempunyai beban untuk dikeluarkan demi kepentingan umat Islam. Sedekah sangat dianjurkan bagi umat Islam khususnya mereka yang dikaruniai oleh Allah SWT rizki yang melimpah.

Sedekah tidak hanya dengan harta benda saja namun bisa dengan berbuat baik dan beribadah sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: Setiap ruas tulang manusia wajib bersedekah setiap hari, di mana matahari terbit. Selanjutnya beliau bersabda: Berlaku adil antara dua orang adalah sedekah, membantu seseorang (yang kesulitan menaikkan barang) pada hewan tunggangannya, lalu ia membantu menaikkannya ke atas punggung hewan tunggangannya atau mengangkatkan barang-barangnya adalah sedekah. Rasulullah saw. juga bersabda: Perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang dikerahkan menuju salat adalah sedekah dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah.


Keempat, Anak yang Saleh dan Salihah

Secara naluri semua manusia pasti menginginkan mendapat anak yang baik, yang salih dan salihah. Seorang penjahat pun tidak menginginkan anaknya menjadi penjahat. Apalagi seorang muslim pasti menginginkan anaknya menjadi seorang yang selalu mendoakan dan mengharumkan nama kedua orang tuanaya.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: jika anak adam meninggal dunia, semua amal ibadahnya terputus, kecuali tiga perkara, yaitu: amal jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak salih (salihah) yang selalu mendoakan kedua orang tuanya.

Keempat perkara itu ibarat tabungan yang akan tetap mengucurkan pahala di saat pemiliknya meninggalkan dunia fana ini. Ia ibarat dana pensiunan yang selalu memberikan kebaikan kendati jasad pemiliknya sudah hancur lebur dimakan cacing, bakteri dan tanah. Semoga kita semua bisa memperoleh empat pahala yang terus mengalir ini. Amin.


*) Oleh: Dwie Abu Taukhid

Aktifis Resimen Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogayakarta dan staf pendidik TPA Masjid Jendral Sudirman




Ketagihan Baca?......

Kamis, Maret 27, 2008

Sirah Nabi

Sirah Nabi = Kepala Nabi
{Sirah [bs. Jawa] = Kepala}
*) Oleh: Yasser Arafat


“Lebih tepat jika dikatakan bahwa orang yang “sehat” adalah orang yang selalu bertanya sekaligus selalu menjawab. Ia selalu siap “angkuh” dan meragukan sesuatu, sekaligus siap “rendah hati” dan meyakini sesuatu. Dan, ia berani untuk itu.”
(Miranda Risang Ayu; 1990)


Waktu ngaji dulu, saya pernah diajari guru saya, sebuah mata pelajaran: sirah nabi. Kata guru saya –Allah yarham- sirah itu Bahasa Arab, artinya sejarah. Jadi, sejak saat itulah saya tahu bahwa sirah nabi artinya sejarah nabi. Tapi, kali ini, saya memilih mengartikan sirah bukan sebagai Bahasa Arab, akan tetapi sebagai/dalam Bahasa Jawa. Maka, sirah dalam bahasa Jawa artinya kepala. Sirah nabi artinya kepala nabi.

***

Apa itu kepala? Mengapa kepala setiap orang berbeda bentuknya? Apa jadinya kalau manusia hidup tanpa kepala? Di dunia ini, seorang manusia tanpa kepala –seperti si mata malaikat dalam film Si Buta Dari Gua Hantu- pasti akan ditakuti. Siapapun yang melihatnya, pasti ia akan lari lintang-pukang bersama kencingya yang membeser di celana.
Kepala itu berharga. Jika kepala adalah “nama”, maka William Shakespare juga akan berkata; “apalah arti sebuah kepala”. Kepala juga bisa menjadi ajang bisnis polisi yang menyemprit empunya kepala yang tidak berhelm. Akibatnya, ia pun bisa disuruh untuk merapal rumus kali-kali dalam pasal 4X5= Rp. 20.000.
Kepala itu sakral. Di Indonesia, setiap orang yang memegang kepala orang lain atau melangkahinya dianggap telah utang darah. Itu tidak sopan. Kecuali yang lebih tua memegang kepala yang lebih muda.
Kepala itu wingit. Banyak konflik sosial di Indonesia yang melibatkan kepala. Pada tahun 1999, ketika keributan dan kerusuhan etnis terjadi di Kalimantan, dari media massa saya sering melihat potongan kepala manusia tercecer di tempat umum. Begitu juga hal itu terjadi di beberapa daerah pinggiran Indonesia lainnya.
Kepala itu keramat. Ia sering-kala dipakai beribadah. Sujud pakai kepala. Bahkan salah satu rukun haji adalah mencukur bulu kepala. Hal itu disebut tahallul. Lahirnya seorang bayi yang “tidak bermasalah” ditandai oleh kepalanya yang keluar dari rahim ibunya. Hingga si bayi ditambali nama, beberapa helai bulu kepalanyalah yang dicukur, dengan diiringi senandung salawat.
Kepala itu puncak. Di sekolah, ada istilah kepala sekolah. Di jajaran birokrasi pemerintahan, ada istilah Kepala Polri, Kepala BAPPENAS, dll. Tapi tidak ada istilah Kepala Koruptor.
Kepala itu sehat. Jenis-jenis penyakit banyak yang melibatkan kepala; sakit kepala dan pusing kepala. Ditambah lagi penyakit keras kepala dan kepala batu.
Kepala itu ajaib. Dalam komik-kartun Dragon Ball, manusia Iblis Bhu memakan Sun Go Ku, Sun Go Han, Pikkolo, dan Bezita, dan menelan mereka semua bukan ke dalam perut, akan tetapi ke dalam kepalanya.
Kepala itu lucu. Sewaktu berada di Yogya, pernah suatu kali saya direpet-marahi oleh kawan saya dengan ungkapan –maaf-; endasmu! atau gundulmu! Padahal saya tidak gundul.

***

Itulah fakta-fakta di sekitar sirah/kepala. Sebegitu menumpuknya, hingga bagi saya, kepala itu bukan sekedar fisik/bentuknya. Tapi kepala adalah simbol dari ide, gagasan, logika, rasa, kehormatan, marabat, dan software sekaligus hardware bagi setiap orang.
Jadi, sirah/kepala Nabi yang saya maksud di sini adalah gagasan, logika, alasan, cara berpikir, nalar, rasa, kehormatan, dan background dari semua tindakan, perkataan, dan keseluruhan apa yang ’diproduksi’ oleh Nabi SAW.
Jika sirah yang pertama (Arab) artinya adalah sejarah, maka sirah yang kedua (Jawa) artinya adalah kepala. Nah, kita seringkali berhenti dalam sirah yang pertama; sejarah Nabi. Sirah yang kita tahu adalah sejarah kapan Nabi SAW lahir, memasuki remaja, nikah, beruzlah, berperang, sampai bercocot-cicit di mana, siapa komunikannya, dan apa yang disampaikannya.
Hasilnya adalah berjilid-jilid dan beruas-ruas buku yang terpampang di rak bibliotika. Itulah yang sampai ke tangan kita. Terkadang kita pun hanya membaca dan mengingat-ingatnya sesekali. Hingga kita hanya menangkap tahun-tanggalnya. Kita hanya mengunyah nama besar tokohnya. Kita pun hanya mendelikkan mata pada kisah magis-mistis-aneh yang terjadi dengan Nabi Muhammad SAW.
Bagi saya, bukan hanya tahun-tanggalnya yang kita mau catat, bukan hanya jejak-jejak fisik langkah dan peristiwanya yang kita napak-tilasi, dan bukan pula hanya siapa-siapa tokoh yang hidup di masa itu yang mau kita tiru-contoh. Tapi sirahnya. ’Kepala’nya, alias sistem gagasannya, idenya, logikanya, alasannya, rasanya, dan ’mengapa’ semua itu terjadi.
Dalam istilah ilmu keislaman, ’kepala/sirah’ itu bisa disebut asbaabun nuzuul atau asbaabul wuruud-nya setiap peristiwa sejarah yang dialami Nabi SAW, orang-orang yang hidup di sekelilingnya, budayanya, dan peradabannya.
Tentu ’kepala’ itu tidak mudah dilihat dan dibaca secara fisik. Karena ’sirah’ itu, adalah sesuatu yang maujud secara tersirat. Sekalipun ia tersurat, ia jarang sekali diungkap.

***

Saya kira itulah mengapa kepala itu begitu penting-genting, suci-sakral, utama-awal. Bukan kepala dalam arti fisiknya yang terkadang bulat, lonjong, peyang, dan petak. Akan tetapi isi kepala itu. Gumpalan ide-idenya, logikanya. Sistem berpikirnya. Rasanya, yang semuanya itu menjadi landasan gerak dakwah dan aktifitas Nabi SAW. Itulah yang alur-aras-urus-aras yang harus kita praksiskan dalam tumpangan senafas hidup ini.
Penjelasan tentang adanya ’sirah/kepala’ itu, yang paling sederhana bisa dicermati dalam kasus larangan untuk berbohong. Kenapa beliau SAW sampai mengeluarkan larangan berbohong? Di balik itu ada logikanya, ada sistem berpikirnya, dan alur-latar sejarahnya mengapa Muhammad SAW sampai berani ber-hadits dengan isi yang seperti itu.
Bisa jadi waktu itu Muhammad SAW pernah dibohongi, atau yang sedang mendengar larangan itu memang suka berbohong. Jika pendengarnya sudah sampai pada level ’bersih’ dari kebohongan, maka saat itu pasti Nabi SAW tidak mengeluarkan larangan berbohong, akan tetapi perintah untuk menjaga konsistensi kejujuran (istiqomah).
Ini yang saya maksud dengan sirah/kepala itu. Begitu juga yang harus kita lakukan atas sejarah peradaban Islam yang berjalan kemudian pasca Muhammad SAW > Khulafaurrasyidin > Dinasti Umayyah > Dinasti Abbasiyah di Andalus yang menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia > Dinasti Umayyah di Cordoba, Spanyol > Dinasti Fathimiyah di Mesir > hingga kejatuhan khilafah Turki Utsmani di Turki pada bulan April 1924.
Sejarah dunia mencatat betapa banyak inovasi, eksperimentasi dan pengembangan kontributif umat Islam dalam masa-masa itu bagi tegaknya kemanusiaan. Tapi ingat, bukan keagungan, kesohoran, ataupun kebanggaan peradaban itu yang kita rapalkan, wiridkan, kita kutip, lalu kita promosikan sebagai bukti kejumawaan kita.
Akan tetapi sebab musababnya, sistem berpikirnya dan logika mengapa orang-orang yang hidup pada masa itu mampu meracik ramuan untuk membangun peradaban sedemikiran rupa besarnya.
Dus, jangan lupa mengakui bahwa sepanjang sejarahnya, peradaban politik-kebudayaan Islam selalu saja terselip di dalamnya awal yang dimulai dengan kecurangan-kecurangan dan puzzle intrak-intrik yang rumit. Ingatlah saat Mu’awiyah bin Abu Sufyan merebut kepemimpinan dari Ali ibn Abi Thalib KW.

***

Itulah sirah. Itulah kepala. Bagaimana supaya sirah itu terus terjaga, berlangsung, dan dapat kita baca, pakai, dan amalkan? Salah satu caranya adalah apa yang diungkapkan mba’ Miranda di atas.
Mengapa? Karena semua Nabi adalah manusia biasa yang juga pergi ke pasar seperti kita. Allah SWT berfirman dalam QS: 25: 20:“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka makan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain”.
Sekian. Wallahu a’lam bil-sirah nabi/kepala nabi.

*) Yasser Arafat
Pembaca http://mjskolombo.blogspot.com/, tinggal di Medan

Ketagihan Baca?......