Senin, April 07, 2008

Pahala

Pahala yang Terus Mengalir

*) Oleh: Dwie Abu Taukhid

Ada empat perkara yang pahalanya terus mengalir walaupun orangnya telah meninggal dunia. Yaitu, orang yang meninggal selagi giatnya berjuang di jalan Allah, orang yang mengajarkan ilmu yang selalu mengalirkan pahala baginya, orang yang memberikan sedekah, maka pahalanya akan mengalir untuknya di mana saja sedekah itu berada, dan orang yang meninggalkan anak salih yang selalu berdoa untuknya.

(HR. Ahmad & Tirmidzi )

Kematian bukanlah akhir dari segalanya. Ia adalah permulaan dari sebuah kehidupan yang abadi. Kehidupan abadi adalah kebahagiaan. Salah besar jika ada yang mengatakan dan menganggap bahwa kematian itu adalah azab atau siksa. Kematian itu adalah nikmat. Sama seperti kehidupan. Hanya saja banyak di antara kita yang tidak menyadarinya.


Nikmat Kematian

Kematian adalah kenikmatan sejati. Kesejatiannya terletak dalam ketersembunyiannya sebagai sesuatu hal yang ditakuti semua orang di dunia ini. Padahal, ia adalah nikmat sejati. Karena hanya lewat kematian saja setiap orang bisa merasakan kehadiran Tuhan, dan hanya dalam kematian saja setiap orang bisa menjadi bijak mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya di dunia ini. Itulah kebahagiaan hakiki.

Untuk merengkuh kebahagiaan itu, setiap orang harus menggapainya dengan bekal yang banyak. Umumnya, bekal kehidupan dalam kematian itu adalah kebaikan yang kita perbuat di dunia ini, yaitu keimanan. Keimanan itu diwujudkan dalam pelaksanaan ibadah-ibadah yang membuat kita lebih bisa mendapatkan sesuatu hal ganjaran yang disebut pahala.

Setiap orang harus punya pahala. Karena pahala adalah tabungan kematian. Orang yang hanya bisa membuat dosa, adalah orang yang menandai kehidupannya dengan ketidakseimbangan. Mengapa ia hanya bisa menciptakan dosa? Seharusnya ia bisa menciptakan pahala. Bahkan syukur-syukur pahalanya tidak hanya banyak, akan tetapi juga mengalir kepada pembuatnya hingga ia mati berkalang tanah.

Hanya saja, perlu kita sadari bahwa konsep adanya pahala dan dosa di dalam Islam itu seringkali disalahpahami. Banyak orang beribadah hanya untuk mendapat pahala, bukan ridla Allah SWT. Sebenarnya pahala itu adalah adalah untuk mengajarkan kepada umat Islam dan manusia umumnya untuk terus berbuat baik dan menyembah Allah SWT.

Bukan pahalanya yang dijadikan fokus perhatian, akan tetapi, sejauhmana sang manusia mau tunduk di depan Allah SWT dengan mengerjakan perbuatan baik. Tidak menjadi soal apakah ada pahala atau tidak, walaupun Allah SWT berjanji akan memberikannya saat perbuatan baik itu dilakukan.

Ada juga di antara kita ada yang menganggap pahala itu untuk menancapkan gengsinya di depan sesama manusia. Ada yang menganggapnya sebagai modal material utama untuk mengkapling-kapling surga. Sehingga jika ada orang yang menurutnya tidak membuat pahala, misalnya ahli maksiat, ia anggap sebagai orang yang tidak berpahala. Karena itu, ia merasa bahwa karena pahalanya banyak, maka ia layak masuk surga.

Ada juga yang mengetahui betapa di dalam Islam itu banyak sekali amal yang pahalanya berlipat-lipat. Lalu secara sengaja ia menghitung-hitung pahala itu berdasarkan berapa kali ia beribadah, dan berapa kali ia beramal.

Hadits yang penulis kutip di atas memaparkan empat amal yang bisa tetap membuahkan pahala kendati pelakunya sudah meninggal dunia.


Pertama, Mati Syahid

Mati syahid adalah kematian yang dicapai seseorang ketika berjuang menegakkan agama Allah SWT. Begitu mulianya mati syahid ini sehingga setiap mukmin pasti mendambakannya. Allah SWT telah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 111: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan surga untuk mereka. Mereka berjuang di jalan Allah lalu membunuh atau terbunuh.

Saat ini, mati syahid kerap disalahmaknakan oleh sebagian kaum muslim yang begitu menggebu semangat beragamanya. Sebenarnya, yang harus dipahami dari konsep mati syahid ini adalah agar setiap muslim itu mengerti bahwa syahid itu maknanya adalah siap berkorban demi sesuatu yang baik, demi orang lain, dan kepentingan bersama.

Artinya, kejiwaan orang yang ingin mati syahid adalah kejiwaan orang-orang yang siap menjadi tumbal demi kepentingan bersama yang baik. Contohnya, orang yang rela mengorbankan dirinya untuk membersihkan tempat tinggal bersama yang kotor berhari-hari dan tidak ada yang mau membersihkannya. Ia melakukannya demi kepentingan semua yang tinggal di sana. Itulah orang yang telah ‘mati syahid’. Memang ia tidak mati, tapi ia telah memiliki jiwa dan karakter orang yang mati syahid.

Itulah ’mati syahid’. Mati syahid seperti ini adalah kemuliaan. Karena pelaksananya mengorbankan dirinya untuk kepentingan orang lain tanpa merugikan orang lain. Berbeda dengan para pengebom yang mengaku ia syahid. Mereka tidak tahu bahwa perbuatan syahid mereka itu salah. Karena mereka telah merugikan orang lain, merusak tatanan, dan tidak mengindahkan hak hidup orang lain.


Kedua, Mengajarkan Ilmu

Ilmu merupakan salah satu kunci sekaligus bekal seseorang untuk meraih kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Ketika kita telah berilmu, kita wajib untuk megajarkannya kepada mereka yang belum berilmu. Sebab ilmu yang tidak diajarkan dan diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah.

Bahkan Nabi Muhammad SAW memberikan isyarat kepada orang alim yang tidak mengajarkan ilmunya dengan siksa yang amat berat. Nabi SAW bersabda : seberat-berat siksaan atas manusia pada hari kiamat adalah orang alim yang tidak memanfaatkan(mengajarkan) ilmunya.

Ilmu yang selalu diajarkan kepada orang lain akan menjadi berkah. Apalagi kalau ilmu itu berhasil membawa pemiliknya atau yang orang yang diajarkan, menjadi orang yang berguna bagi masyarakat, agama, bangsa dan negara.


Ketiga, Bersedekah

Allah SWT tidak melarang manusia untuk mencari dan mendapatkan harta duniawi sebanyak mungkin. Namun, harta yang banyak tersebut mempunyai beban untuk dikeluarkan demi kepentingan umat Islam. Sedekah sangat dianjurkan bagi umat Islam khususnya mereka yang dikaruniai oleh Allah SWT rizki yang melimpah.

Sedekah tidak hanya dengan harta benda saja namun bisa dengan berbuat baik dan beribadah sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: Setiap ruas tulang manusia wajib bersedekah setiap hari, di mana matahari terbit. Selanjutnya beliau bersabda: Berlaku adil antara dua orang adalah sedekah, membantu seseorang (yang kesulitan menaikkan barang) pada hewan tunggangannya, lalu ia membantu menaikkannya ke atas punggung hewan tunggangannya atau mengangkatkan barang-barangnya adalah sedekah. Rasulullah saw. juga bersabda: Perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang dikerahkan menuju salat adalah sedekah dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah.


Keempat, Anak yang Saleh dan Salihah

Secara naluri semua manusia pasti menginginkan mendapat anak yang baik, yang salih dan salihah. Seorang penjahat pun tidak menginginkan anaknya menjadi penjahat. Apalagi seorang muslim pasti menginginkan anaknya menjadi seorang yang selalu mendoakan dan mengharumkan nama kedua orang tuanaya.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: jika anak adam meninggal dunia, semua amal ibadahnya terputus, kecuali tiga perkara, yaitu: amal jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak salih (salihah) yang selalu mendoakan kedua orang tuanya.

Keempat perkara itu ibarat tabungan yang akan tetap mengucurkan pahala di saat pemiliknya meninggalkan dunia fana ini. Ia ibarat dana pensiunan yang selalu memberikan kebaikan kendati jasad pemiliknya sudah hancur lebur dimakan cacing, bakteri dan tanah. Semoga kita semua bisa memperoleh empat pahala yang terus mengalir ini. Amin.


*) Oleh: Dwie Abu Taukhid

Aktifis Resimen Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogayakarta dan staf pendidik TPA Masjid Jendral Sudirman




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berilah kami saran dan kritik yang membangun demi kemajuan umat